Wadah Perkawinan Ikan Maskoki

Wadah perkawinan harus segera disiapkan setelah terlihat adanya pasangan maskoki yang siap dikawinkan. Wadah perkawinan ini dapat berupa bak-bak kecil atau akuarium yang berukuran agak besar. Ukuran bak yang digunakan cukup sekitar 2 X 1 X 0,6 meter atau menggunakan akuarium yang mempunyai ukuran 0,8 X 0,4 X 0,4 meter agar lebih mudah pengontrolannya.
Adapun persiapan yang barns dilakukan pada wadah perkawinan ini
adalah:

a. Pengeringan wadah

Tujuan utama dari pengeringan wadah adalah untuk memutuskan siklus hidup berbagai penyakit yang mungkin terdapat di kolam. Biasanya, kolam yang telah dikeringkan dan kemudian diisi air, akan muncul aroma tertentu yang dapat merangsang induk ikan untuk melakukan aktivitas perkawinan.

Air yang digunakan untuk mengisi wadah sebaiknya berasal dari sumur, karena air sumur relatif tidak mengandung unsur-unsur berbahaya bagi ikan. Akan tetapi bila terpaksa harus menggunakan air sungai yang keruh atau air ledeng (PAM), sebaiknya air tersebut ditampung dahulu di tempat terbuka agar terkena sinar matahari dan kotorannya mengendap. Penampungan air juga dimaksudkan untuk menyesuaikan temperatur, menetralkan pH air dan menurunkan kandungan karbondioksida. Proses penampungan dan pengendapan air dapat dilakukan selama 1 – 2 hari agar menjadibersih dan jernih.

b. Pencegahan lumut

Adanya lumut yang tumbuh di dalam wadah sangat merugikan. Selain tampak kotor, anak-anak maskoki yang dihasilkan dapat mengalami kekurangan oksigen atau mati terjerat.

Untuk membasmi lumut tersebut dapat digunakan RIDALL yang banyak dijual di toko ikan hias. Dapat juga digunakan beberapa tetes aquadin. Tindakan yang dianggap lebih efektif adalah menguras wadah setiap 15 hari sekali.

c. Pencegahan Jamur

Jamur merupakan organisme yang biasa menyerang telur-telur ikan, terutama pada saat kondisi air di kolam kurang memenuhi syarat. Bila suhu air sangat rendah, proses penetasan telur akan berjalan lambat. Bahkan tidak jarang telur akan menjadi busuk sehingga merupakan media yang baik bagi pertumbuhan jamur. Telur-telur yang tidak berhasil dibuahi oleh sperma akan segera mati dan membusuk sehingga merupakan media tempat tumbuhnya jamur. Jamur yang tumbuh dengan subur akan segera menyerang telur-telur yang sehat di sekitarnya, sehingga telur-telur tersebut akhirnya akan mati.
Untuk mencegah tumbuhnya jamur di kolam, sebaiknya digunakan methylen blue yang diteteskan dengan konsentrasi 0.0005 – 0.001 persen untuk setiap meter kubik air. Cara membuatnya adalah dengan melarutkan gram methylen blue ke dalam 100 ml air bersih sehingga terbentuk larutan dengan konsentrasi I persen. Untuk mendapatkan konsentrasi 0.001 persen per meter kubik air, cukup dengan mencampur 1.000 ml methylen blue berkadar I persen ke dalam 1000 liter air kolam. Sedangkan untuk mendapatkan konsentrasi 0.005 persen per meter kubik air cukup dengan mencampur 500 ml ke dalam 1000 liter air kolam. Untuk lebih praktisnya, setiap satu meter kubik air ditetesi 5 – 10 gram methylen blue.

d. Penyediaan media penempel telur

Seperti telah dijelaskan sebelumnya, bahwa telur maskoki mempunyai sifat menempel (adhesif) pada benda-benda yang ada di sekitarnya. Dengan demikian kolam yang akan digunakan untuk mengawinkan maskoki perlu dilengkapi media tempat menempelnya telur, baik media alami maupun buatan.

Hama telur ikan mas koki

Batu-batuan, rumput-rumputan maupun tanaman air lainnya dapat digunakan sebagai media tempat menempelkan telur. Jenis tanaman yang umum digunakan dalam perkawinan maskoki adalah eceng gondok (Eichornia crassipes) yang telah dibersihkan akarnya dari lumpur maupun kotoran lainnya. Selain berfungsi sebagai tempat menempelkan telur. tanaman eceng gondok dapat menciptakan suasana romantis bagi maskoki sehingga akan mempercepat proses pemijahan.

Sebelum digunakan sebagai media penempel telur, tanaman eceng gondok direndam dahulu dalam larutan kalium permanganat selama beberapa menit untuk membunuh bibit penyakit maupun parasit yang mungkin ada.

Media lain yang biasa digunakan sebagai tempat menempelkan telur maskoki adalah kakaban. Kakaban terbuat dari ijuk yang dijepit dengan bambu. Panjang ijuk kurang lebih 50 cm sedangkan panjang bambu berkisar antara 150 – 200 cm. Kadang -kadang peranan ijuk diganti dengan benang rafia yang sengaja disikat agar seratnya menjadi kecil-kecil dan halus.

Dibandingkan dengan kakaban ijuk/rafia, penggunaan tanaman eceng gondok dapat memberikan beberapa keuntungan lain, yaitu:

  • Akar tanaman eceng gondok yang menjulur ke dalam air akan memudahkan induk maskoki untuk menempelkan telurnya. Dengan demikian jumlah telur yang dapat menempel akan lebih banyak, sehingga jumlah telur yang jatuh ke dasar kolam dapat ditekan.
  • Akar tanaman eceng gondok cukup lentur dan lunak sehingga dapat mencegah lerjadinya luka-luka pada tubuh induk maskoki yang dikawinkan.
  • Daun tanaman eceng gondok yang cukup lebat akan mampu melindungi telur dan benih maskoki yang masih peka terhadap derasnya air hujan maupun teriknya sinar matahari.

e. Pemasukan induk maskoki ke kolam perkawinan

Rita kolam perkawinan telah disiapkan, maka pada pagi harinya pasangan induk maskoki yang telah birahi segera dimasukkan. Jumlah induk yang dimasukkan sebaiknya sepasang saja, karena maskoki cenderung akan memberikan basil ~lebih baik bila dikawinkan dengan perbandingan satu ekor jantan dan satu ekor betina. Namun beberapa petani tertentu sering dengan sengaja menggunakan dua atau tiga induk jantan dalam satu kolam.
Hal ini dilakukan terutama bila induk maskoki betina belum benar-benar matang kelamin. Diharapkan dengan menggunakan induk jantan lebih dari satu dapat memberikan rangsangan yang cukup memadai bagi induk betina untuk melepaskan telur-telurnya.

Setelah induk maskoki dimasukkan ke kolam, maka pada sore harinya pukul 17.00 – barulah tanaman eceng gondok atau kakaban dimasukkan. Tanaman eceng gondok diletakkan dengan cara menaruhnya di permukaan air. Sedangkan kakaban perlu diberi pemberat pada kedua ujungnya agar dapat tenggelam sekitar 10 cm di bawah permukaan air.

Bila induk maskoki telah benar-benar birahi, semalam suntuk mereka akan saling kejar-mengejar. Biasanya induk jantan akan mengejar induk betina sambil menggosok-gosokkan mulut dan tubuhnya ke seluruh tubuh induk betina, terutama bagian perut. Pada suatu saat, secara tiba-tiba, induk betina akan segera melepaskan telur-telumya ke eceng gondok atau kakaban. Bersamaan dengan itu. induk jantan juga akan melepaskan sperma untuk membuahi telur tersebut. Proses pengeluaran telur biasanya akan berlangsung sejak fajar menyingsing hingga terbit matahari.

Umumnya induk betina akan mengeluarkan sebagian telurnya dan segera akan dibuahi oleh sperma dari induk jantan. Selanjutnya, setiap 7 – 20 hari kemudian, induk betina akan mengeluarkan kembali telur-
telurnya. Proses pengeluaran telur ini dapat berlangsung beberapa kali sampai telur yang dikandungnya benar-benar habis. Jumlah telur yang dikeluarkan tidak sama, yaitu antara 3000 – 5000 butir pada periode pertama maupun kedua dan pada periode berikutnya akan semakin berkurang.

Setelah selesai proses perkawinan, tanaman eceng gondok atau kakaban sebaiknya ,segera diperiksa untuk memastikan apakah sudah ada telur yang menempel atau belum. Sebab, mungkin saja kedua induk maskoki kejar-kejaran semalam suntuk tetapi tidak terjadi perkawinan. Pemeriksaan telur dapat dilakukan dengan cara mengangkat tanaman eceng gondok atau kakaban secara hati-hati agar telur yang telah menempel tidak rontok atau rusak. Telur-telur yang telah dibuahi oleh sperma jantan akan terlihat transparan dengan inti telur yang nampak jelas di bagian tengah. Dalam perkembangannya. telur yang telah dibuahi secara lambat laun akan berubah menjadi buram. Telur yang gagal dibuahi akan mempunyai membran yang buram (putih keruh), di mana inti telur tidak terlihat dengan jelas. Telur demikian biasanya akan mati dan membusuk, sehingga merupakan media yang baik bagi pertumbuhan jamur.

Agar telur-telur tidak dimakan kembali oleh kedua induk maskoki, sebaiknya tanaman eceng gondok atau kakaban yang telah berisi telur segera dipindahkan secara hati-hati ke kolam penetasan dan setelah itu pada kolam perkawinan segera diletakkan kembali tanaman eceng gondok atau kakaban baru untuk tempat menempelkan telur-telur yang akan dikeluarkan beberapa hari kemudian. Pekerjaan ini dapat dilakukan berulang-ulang sampai induk betina benar-benar berhenti mengeluarkan telur. Cara lain untuk mencegah telur-telur dimakan kembali oleh induknya adalah dengan memindahkan kedua induk maskoki ke kolam perkawinan yang lain yang telah dilengkapi tanaman enceng gondok atau kakaban.

Bagikan Artikel Ini Ke Teman Anda.

Facebook Twitter Google+

Tentang Penulis

Penulis banyudadi
Diposkan oleh :

Banyudadi adalah penyedia dan penyalur benih ikan air tawar, seperti: Gurame, Lele, Nila, Bawal, Patin, Ikan mas, Graskap, Tawes, Nilem, Gabus dan juga beberapa jenis ikan hias seperti: Koi, cupang, Komet, dll yang dihasilkan dari produksi para kelompok-kelompok petani perikanan yang terdaftar di Dinas Perikanan Prop. DI. Yogyakarta maupun Dinas Perikanan se-Kab. di DI. Yogyakarta.

Baca Juga Artikel Ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.