Tehnik Dasar Budidaya System Biofloc

Diposkan oleh : / On Budidaya

Teknik dasar teknologi biofloc adalah mengembangkan komunitas bakteri  tertentu di dalam kolam dengan cara menebarkan bibit bakteri secara rutin dan menjaga agar kondisi air dapat menunjang kehidupan bakteri secara optimal.  Bakteri tersebut diharapkan dapat merombak limbah metabolisme ikan dan sisa pakan di dalam kolam menjadi bahan kimia yang tidak berbahaya bagi ikan.  Hasil perombakkan tersebut menjadi  bakteri  yang secara tidak langsung (jika berbentuk floc) dapat dikonsumsi oleh ikan dan menjadi sumber protein yang sangat baik.

Mengapa menggunakan bakteri?  Karena bakteri mempunyai beberapa keunggulan dibandingkan algae, diantaranya adalah pertumbuhannya yang tidak bergantung pada cahaya matahari (karena bersifat heterotrof), bersel tunggal, laju pertumbuhan tinggi, dan dapat menekan pertumbuhan bakteri patogen.  Disamping itu bakteri adalah makhluk hidup yang paling mudah tumbuh dalam lingkungan apapun karena dilengkapi dengan berbagai instrumen untuk mempertahankan hidupnya dan terus berreproduksi.

Agar bakteri ini dapat tumbuh dengan baik, maka persyaratan lingkungan hidup harus dipenuhi, pertama adalah rasio (perbandingan) antara unsur karbon ( C ) dengan nitrogen (N) atau dikenal dengan C : N rasio.  Nilai ideal C : N rasio untuk biofloc adalah 1 : 15 sampai 1 : 20; atau minimal 1 : 12, artinya ada 1 molekul karbon untuk setiap 12 molekul nitrogen.  Secara alami rasio C : N dalam air kolam kurang dari 12, sehingga perlu ditambahkan unsur karbon ke dalam air tambak.  Sumber karbon yang murah adalah dari bahan yang mengandung serat kasar tinggi seperti dedak, atau bahan yang mengandung energi tinggi dari senyawa karbohidrat seperti tetes tebu/molase.  Jika kedua unsur (C-N)tersebut tidak seimbang maka bakteri tidak mampu mengubah unsur organik dalam air menjadi protein bakteri, sebaliknya justru bisa menghasilkan senyawa amonia yang bersifat toksik/racun bagi ikan.

Syarat kedua suplai oksigen harus cukup karena bakteri tersebut bersifat heterotrof sehingga membutuhkan oksigen.  Jika oksigen kurang maka tidak hanya menghambat pertumbuhan bakteri tetapi juga berbahaya bagi kehidupan ikan dalam kolam.

Syarat ketiga tidak boleh terlalu banyak ganti air.  Penggantian air dapat mengubah mutu air secara mendadak, mengubah keseimbangan unsur C dan N, membuang bakteri positif yang sudah ditumbuhkan dalam kolam dan (kemungkinan) masuknya bakteri negatif (patogen) dari luar kolam.

Untuk dapat menerapkan sistem biofloc dengan baik maka kolam harus dilengkapi dengan sarana yang memadai untuk memantau mutu kimia air dan komposisi mikroba yang tumbuh dalam tambak.

Bagikan Artikel Ini Ke Teman Anda.

Facebook Twitter Google+

Tentang Penulis

Penulis banyudadi
Diposkan oleh :

Banyudadi adalah penyedia dan penyalur benih ikan air tawar, seperti: Gurame, Lele, Nila, Bawal, Patin, Ikan mas, Graskap, Tawes, Nilem, Gabus dan juga beberapa jenis ikan hias seperti: Koi, cupang, Komet, dll yang dihasilkan dari produksi para kelompok-kelompok petani perikanan yang terdaftar di Dinas Perikanan Prop. DI. Yogyakarta maupun Dinas Perikanan se-Kab. di DI. Yogyakarta.

Baca Juga Artikel Ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.