Sistem Pembesaran Ikan Gurami

1. Monokultur

Monokultur merupakan usaha budi daya dengan satu jenis ikan saja, yaitu gurami, tanpa ada campuran ikan lain yang dilakukan secara sengaja. Dengan sistem monokultur, budi daya dapat lebih terkonsentrasi hanya pada satu ikan saja, pada penebaran lebih optimal dan pertumbuhan gurami tidak terganggu ikan lain.

2. Polikultur

Polikultur merupakan usaha budi daya dengan jenis ikan lebih dari satu dengan harapan semua jenis ikan memberikan konstribusi ekonomis yang sama atau sebagai hasil sampingan. Dengan sistem polikultur, satu kolam ikan menghasilkan jenis ikan yang bervariasi. Pemilihan jenis ikan disesuaikan dengan tingkah laku makannya sehingga pembudi daya dapat memanfaatkan pakan seefisien mungkin sehingga meminimalkan pakan yang tersisa di dalam kolam.

 

Sistem pembesaran ikan gurami

Sistem pembesaran ikan gurami

Jenis ikan yang dapat dibudidayakan bersama gurami di antaranya ikan mas, nilam ,tambakan, koan, mola , mujair, lele, nila dan lobster air tawar. Ikan koan, tambakan dan nilam lebih suka memakan lumut dan fitoplankton. Sementara jika perairan kaya dengan zooplankton maka kolam dapat ditebari ikan gabus. Namun, jangan mencampurkan benih antara benih gurami dengan tawes dan mujair karena kedua jenis ikan tersebut sangat rakus.

Padat penebaran ikan gurami yang dibudidayakan secara polikultur harus disesuaikan dengan rata-rata kepadatan penebaran ikan secara biomass, per luasan area atau per volume air media. Sebagai contoh, pada sistem polikultur antara gurami dan lele dumbo yang dibudidayakan di kolam seluas 50 m2 dapat dilakukan penebaran benih dengan padat tebar 300 ekor gurami dan 2.000 ekor lele dumbo. Selama satu tahun, panen dapat dilakukan satu kali untuk gurami dan 4 kali untuk leledumbo dengan hasil panen berkisar 250 kg gurami dan 950 kg lel dumbo.

Sistem polikultur dapat dilakukan dengan mencampur tiga jenis ikan dengan perbandingan sebagai berikut.

Kelompok IKelompok 2
Gurami     : 40%Gurami    : 20%
Tawes       :30%Nila         : 50%
Mas          : 30%Mas         : 30%

Sementara yang mencampurkan empat jenis ikan antara ikan gurami, mas, mujair dan nilem, dengan perbandingan:

  • Gurami   : 15%
  • Mas         : 30%
  • Mujair   : 35%
  • Nilem    : 20%

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam usaha budi daya sistem ini.

1) Ikan yang hendak dibudidayakan bersama gurami bukan ikan yang rakus dan bukan karnivora (pemakan daging). Ikan yang rakus makannya akan menjadi kompetitor gurami dalam mendapatkan pakan. Sementara ikan predator dapat menjadi pemangsa gurami.

2) Ikan yang dibudidayakan mempunyai tingkat pertumbuhan yang sama. Jika berbeda, sesuaikan jadwal waktu pembesarannya. Jangan sampai beberapa jenis ikan mendominasi pakan karena ukuran tubuhnya lebih besar.

3. Longyam/mina ayam

Istilah longyam berasal dari balong ayam atau kolam ayam. Longyam merupakan usaha budi daya ikan bersama ayam, baik ayam petelur maupun pedaging. Pengelolaan kolam dan padat penebaran gurami pada sistem longyam hampir sama dengan budi daya gurami di kolam biasa. Pada sistem ini, ayam dipelihara di dalam kandang yang ditempatkan di atas kolam budi daya ikan. Maksud dari sistem budi daya ini adalah memanfaatkan kotoran ayam dan pakan yang tercecer sebagai pupuk organik kolam dan pakan ikan. Dengan begitu, penggunaan pupuk pada waktu pengolahan lahan dan pupuk penyelang dapat dikurangi. Takaran pemberian pakan pun juga lebih hemat karena memanfaatkan pakan dari sisa pakan ayam.

Kotoran ayam petelur lebih bagus dari ayam pedaging. Selain itu, sisa pakannya lebih banyak. Jika memlihara ayam pedaging, kebutuhan tambahan pakan dapat diberikan kurang dari 50% berat porsi pakan yang biasa diberikan pada ikan (3-5% berat biomass ikan).

Beberapa jenis ayam yang dapat dipelihara di atas kolam ikan di antaranya sebagai berikut.

a. Ayam ras petelur

Ayam ras petelur yang dipelihara sebaiknya sudah siap bereproduksi. Ayam mulai bertelur setelah berumur 16 minggu, sedangkan masa produktifnya sekitar 60 minggu. Jadi, masa pemeliharaan ayam sekitar 1 tahun 3 bulan. Ayam yang sudah tidak produktif harus segera diganti. Ayam ras petelur biasa dipelihara dalam skala besar dengan jumlah ayam ribuan ekor. Kandang dibuat permanen dengan umur teknis dan ekonomis minimal 5 tahun. Kandang dapat dibuat dengan sistem postal atau sistem baterai. Pada pola pemeliharaan ini, pembudi daya membutuhkan sarana dan prasarana perawatan seperti vaksin dan obat-obatan lainnya.

b. Ayam pedaging

Ayam pedaging yang dipelihara di atas kolam biasanya memiliki umur pemeliharaan hingga panen sekitar 5-6 minggu dengan berat ayam 2 kg/ekor. Pemeliharaan ayam pedaging di atas kolam biasanya berskala cukup besar, yaitu mencapai ribuan ekor. Kandang ayam dibuat permanen dengan umur teknis dan ekonomis minimal 5 tahun. Pada sistem ini, pembudi daya membutuhkan sarana dan prasarana perawatan seperti vaksin dan obat-obatan lainnya.

c. Ayam kampung

Ayam kampung mudah dipelihara, tetapi jarang diternakkan dalam skala besar alias hanya berskala rumah tangga. Selain dimanfaatkan telurnya, ayam juga dimanfaatkan dagingnya. Waktu pemeliharaan ayam kampung relatif lebih lama dan tanpa menggunakan obat-obatan. Hal tersebut disebabkan ayam kampung lebih tahan penyakit dibandingkan ayam ras. Namun, pemeliharaan kebersihan dan kesehatan ayam dan kandang perlu dilakukan. Kolam gurami sering dikombinasikan dengan pemeliharaan ayam kampung.

Pemilihan sisitem atau pola budidaya gurami dapat dilakukan berdasarkan kebiasaan masyarakat setempat atau kondisi alam yang ada. Biasanya, masyarakat akan meniru sistem atau pola budi daya yang telah berhasil dilakukan. Namun tidak menutup kemungkinan jika mereka mengembangkan usaha budi dayanya sesuai keinginan, kebutuhan dan prospek di masa yang akan datang.

Bagikan Artikel Ini Ke Teman Anda.

Facebook Twitter Google+

Tentang Penulis

Penulis banyudadi
Diposkan oleh :

Banyudadi adalah penyedia dan penyalur benih ikan air tawar, seperti: Gurame, Lele, Nila, Bawal, Patin, Ikan mas, Graskap, Tawes, Nilem, Gabus dan juga beberapa jenis ikan hias seperti: Koi, cupang, Komet, dll yang dihasilkan dari produksi para kelompok-kelompok petani perikanan yang terdaftar di Dinas Perikanan Prop. DI. Yogyakarta maupun Dinas Perikanan se-Kab. di DI. Yogyakarta.

Baca Juga Artikel Ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.