Reproduksi Belut

Diposkan oleh : / On Budidaya Belut

Belut termasuk hewan hermaprodit (hermaphroditisme) yaitu hewan yang dapat berganti kelamin atau memiliki kelamin ganda (jantan dan betina). Hermaprodit adalah sifat seksual ikan yang dapat membawa jaringan jantan dan betina dalam tubuhnya atau menghasilkan spermatozoa dan ovum secara bersamaan, spesies yang demikian disebut juga hermaprodit normal. Ikan dikatakan hermaprodit apabila gonad ikan mempunyai jaringan jantan dan betina. Jika seluruhnya atau hampir seluruhnya individu tersebut mempunyai jaringan ovarium dan testis, maka spesies tersebut adalah hermaprodit. Berdasarkan sifat perubahannya, hermaprodit dibagi menjadi 4 yaitu:

  • hermaprodit sinkroni (synchronous hermaphrodite),
  • hermaprodit protogini (protogynous hermaphrodite),
  • hermaprodit protandri (protandrous hermaphrodite),
  • gonokorisme (gonochorisme).

Hermaprodit sinkroni adalah sifat pematangan sel kelamin jantan dan betina pada waktu yang sama. Hermaprodit protogini adalah sifat perubahan kelamin dan betina menjadi jantan, sedangkan hermaprodit protandri adalah perubahan kelamin dan jantan menjadi betina. Untuk kepentingan reproduksi, seksualitas ikan yang hermaprodit perlu diketahui, terutama menyangkut fase transisi/interseks, yaitu fase peralihan kelamin, karena pergantian kelamin/diferensiasi berlangsung pada fase overlap (Shapiro, 1981, Robertson dan Justines, 1982 dalam Shapiro, 1984).

Belut tergolong hermarrodit protogini (protogyflous hermaphrodite) yakni setelah mencapai ukuran tertentu akan berganti kelarnin (change sex) dan betina menjadi jantan. Pada waktu masih muda, gonad belut mempunyai dua set kelamin, ovarium dan testis. Yang berkembang lebih dahulu adalah sel ovariumnya dengan menghasilkan telur. Pada waktu mencapai ukuran panjang sekitar 40 cm dan umur sekitar 9 bulan, ovariumnya akan mengecil dan jaringan sel testisnya membesar sehingga belut akan mengeluarkan cairan sperma pada waktu reproduksinya. Pada belut yang sudah tua, ovariumnya telah tereduksi dan hampir seluruh gonadnya telah terisi oleh jaringan testis.

Tabel 4. Hubungan panjang badan dan jenis kelamin belut sawah

Asal BelutBetina (cm)Interseks (cm)Jantan (cm)Pustaka
Hongkong20-3030-7070 ke atasChan and Philips, 1967
Cungking5-2626-4040 ke atasChan and Philips, 1967
Jawa Tengah & Yogyakarta20-2829-3536 ke atasHandojo, 1986
Manimpahoi, Sinjai (Sulawesi Selatan)19-3234-3737 ke atasKordi, 1994

Awal kehidupannya belut muda berkelamin betina, kemudian berubah menjadi jantan. Pada saat perubahan dan betina menjadi jantan ini terdapat masa transisi atau interseks. Perubahan betina menjadi jantan sangat tergantung pada lingkungan di mana belut itu hidup. Karena itu, spesies belut yang sama karena berbeda wilayah geografi dan lingkungan hidupnya, maka perubahan kelamin dan betina menjadi jantan pun tidak sama (Tabel 4).

Belut yang hidup pada lingkungan yang cocok dan subur, kaya akari makanan bisa cepat besar dan panjang, dibandingkan dengan belut yang hidup di tempat yang tidak subur. Dengan demikiari, bisa jadi belut yang hidup di tempat yang subur walaup un telah memiliki panjang tubuh lebih dan 40 cm, tetapi belum mengalami perubahan kelamin.

Penelitian yang dilakukan oleh Handojo (1986) di daerah Secang (Magelang, Jawa Tengah), Desa Gadingsari (Bantul, Yogyakaita), dan Dinoyo (Malang, Jawa Timur), menemukan bahwa belut yang mencapai ukuran > 36 cm berkelamin jantan, dan belut ukuran 20-28 cm berkelamin betina. Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Kordi (1994) di Manimpahoi, Sinjal (Sulawesi Selatan), ditemukan belut betina berukuran 19-32 cm dan belut jantan ukuran > 37 cm. Sementara penelitian yang dilakukan oleh Chan dan Philips (1967) di Hongkong menemukan belut ukuran > 70 cm berkelamin jantan dan belut ukuran 20-30 cm berkelamin betina. Informasi ini dapat menjelaskan bahwa,lingkungan sangat berpengaruh terhadap perubahan kelamin.

Pada ukuran panjang hingga 50 cm, belut masih ada yang berkelamin betina. Namun dalam ukuran 55 cm, biasanya belut sudah menjadi jantan (Taufik dan Sapaninto, 2008). Apabila sudah menjadi jantan, belut akan menjadi ganas karena membutuhkan daerah teritorial yang lebih luas. Sewaktu belut mengalami perubahan kelamin dan betina menjadi jantan akan terjadi masa transisi karena terjadi diferensiasi fase sel kelamin. Pada saat transisi, terjadi kekosongan sel kelamin sehingga belut menjadi kanibal dengan saling memangsa sesamanya.

Di alam, belut cukup mudah berkembang biak. Perkawinan belut sawah di alam terjadi sekali dalam setahun, tetapi masa perkawinannya sangat panjang, dari awal musim hujan hingga awal musim kemarau, sekitar 4-5 bulan. Perkawinan belut umumnya terjadi pada malam hari ketika kondisi udara agak hangat pada optimal 28 derajat celsius. Sebagai sarang perkawinan, induk jantan membuat lubang berbentuk ā€œUā€ di bagian yang dangkal serta menyusun busa (buih) yang dikeluarkannya di depan salah satu ujung sarangnya dan menunggu kedatangan induk betina. Busa ini jga digunakan oleh induk jantan untuk menarik induk betina. Perawinan akan terjadi bila induk betina mendatangi lubang induk jantan. Belut betina akan mengeluarkan telur dan akan dibuahi oleh jantan, kemudian belut betina pergi mencari sarang jantan yang lain. Belut betina mendatangi beberapa sarang belut jantan hingga telurnya habis. Seekor belut jantan juga didatangi oleh beberapa ekor belut betina.

Setelah terjadi pembuahan, telur belut yang mengapung dibawah busa dan di sekitar lubang perkawinan segera dicakup oleh mulut belut jantan untuk disemburkan ke dalam lubang. Dalam usahanya memasukkan telur ke dalam lubang ini, terkadang ada telur yang tertelan masuk ke dalam mulutnya. Yang bertugas menjaga telur hingga menetas adalah induk jantan. Selama bertugas menjaga telur, Iarva,dan anakan, induk jantan sangat galak dan menyerang apa saja yang mendekat. Terkadang gerakan induk jantan mengotori dan mengganggu telur sehingga ada telur yang ditemukan melayang di permukaan air, sehingga mungkin tidak dapat menetas.

Saat perkawinan terjadi pada malam hari pada suhu air 28 derajat Celcius atau lebih. Setelah dibuahi, telur akan dijaga oleh induk jantan hingga menetas dalam waktu 8-10 hari pada suhu 28-32 derajat celcius. Larva yang baru keluar dari cangkang telur dilengkapi dengan kuning telur sebagai persediaan pakan sementara. Warna larva belut mula-mula kekuningan, kemudian lambat laun akan berubah menjadi kuning kecoklatan. Anak-anak belut yang baru menetas masih diasuh oleh induknya sampai kira-kira berumur 2 minggu. Setelah itu, baru anak-anak belut meninggalkan sarang untuk mencari makan dan membuat lubang sendiri.

Bagikan Artikel Ini Ke Teman Anda.

Facebook Twitter Google+

Tentang Penulis

Penulis banyudadi
Diposkan oleh :

Banyudadi adalah penyedia dan penyalur benih ikan air tawar, seperti: Gurame, Lele, Nila, Bawal, Patin, Ikan mas, Graskap, Tawes, Nilem, Gabus dan juga beberapa jenis ikan hias seperti: Koi, cupang, Komet, dll yang dihasilkan dari produksi para kelompok-kelompok petani perikanan yang terdaftar di Dinas Perikanan Prop. DI. Yogyakarta maupun Dinas Perikanan se-Kab. di DI. Yogyakarta.

Baca Juga Artikel Ini

One thought on “Reproduksi Belut

Leave a Reply

Your email address will not be published.