Ragam Pakan Cupang

Diposkan oleh : / On Cupang

Cupang menyukai makanan yang bergerak. Makanan harus tersedia sejak anak cupang menetas. Karena itu kebanyakan peternak mengultur makanan sebelum mereka memijahkan cupangnya. Berikut ini beberapa jenis makanan halus dan lembut untuk anak cupang.

a.  Paramecium

Paramecium adalah protozoa kompleks yang merupakan makanan pengganti setelah anak ikan menetas. Bahan makanan ini sangat murah dan gampang diperoleh. Pengulturannya membutuhkan wadah kecil berisi air. Siapkan Liquifry #1, suatu larutan yang digunakan sebagai makanan paramecium. Liquifry #1 dapat dibeli pada penjual cupang yang sudah mapan atau dibeli melaluiwebsite cupang.

Tuangkan Liquifry ke dalam wadah, kemudian letakkan wadah di luar ruangan yang memperoleh cahaya terang selama beberapa hari. Lima tetes Liquifry akan menyediakan jasad renik paramecium untuk makanan anak cupang selama satu minggu. Pemanenan paramecium dilakukan dengan cara menuangkan hasil kultur paramecium ke dalam wadah berisi larva cupang.

b. Infusoria

Makanan pertama yang sempurna untuk anak cupang yang baru mentas ialah jasad renik infusoria atau ganggang renik. Umumnya, di tempat menetasnya ikan sudah terdapat ganggang renik, tetapi tidak mencukupi kebutuhan anak ikan. Karena itu, untuk mencukupi kebutuhan karva cupang, infusoria ini harus dikultur dalam air dii wadah tertentu. Caranya, masukkan sayuran busuk ke dalam wadah berisi air, kemudian letakkan di tempat terang. Dalam beberapa hari akan tercipta berjuta-juta infusoria yang siap dipanen untuk makanan larva cupang. Cara pemberiannya dengan menyedot air dari tangki yang berisi infusoria ke dalam wadah pemeliharaan larva cupang.

c.  Vinegar Eel

Vinegar eel merupakan nematoda renik, makanan awal bagi larva cupang dengan ukuran lebih kecil dibandingkan dengan microworm. Sebenarnya, vinegar eel adalah belut halus yang menggeliat-menggeliat di permukaan air, tetapi sangat halus untuk dilihat dengan mata. Mereka hidup beberapa hari dalam wadah penetasan cupang dan merupakan makanan yang baik bagi anak cupang sampai berumur 4 hari.

  Vinegar eel dapat diukur dengan memberikan sepotong apel ke dalam wadah yang diisi starter vinegar eel ditambah 1/3 air leding. Apel akan menghasilkan asam yang merangsang berkembangbiaknya vinegar eel. Dalam tempo 1 bulan wadah yang ditutupi itu akan menghasilkan banyak vinegar eel yang siap diberikan kepada anak-anak cupang. Caranya, gunakan saringan kopi yang halus untuk menyerok vinegar, lalu masukkan ke dalam kolam berisi larva cupang.

d.  Artemia

Artemia (brine shrimp) adalah sejenis udang primitif yang termasuk filum Anthropoda, kelas Crustaceae dan famili Artemiidae. Dahulu, artemia disebut dengan cancer salinus, tetapi sejak tahun 1819 diubah menjadi Artemia salinas. Suhu air ideal untuk pertumbuhan artemia adalah 25-30 derajat celcius dan pH 7,3-8,4. Hewan renik ini hidup di perairan yang berkadar garam tinggi, yakni 15-300 ppm dan mengandung oksigen terlarut 3 mg/1. Panjang artemia dewasa mencapai 1-2 cm dan berat sekitar 10 mg. Sementara itu, panjang anak artemia yang baru menetas sekitar 0,4 mm dan beratnya sekitar 15 mikrogram.

Telur artemia bisa ditetaskan di dalam wadah berbentuk kerucut. Contoh wadah penetasan yang bisa digunakan adalah botol bekas minuman ringan atau air mineral yang terbuat dari plastik tembus pandang. Media yang digunakan berupa air laut dengan kadar garam 30 ppm per mil. Jika air laut tidak tersedia, gunakan larutan garam dapur dengan dosis 5 g/liter air. Suhu air yang baik untuk penetasan adalah 25-30 derajat celcius. Penetasan dapat dipercepat dengan cara media air diberi aerasi dan penyinaran dari samping wadah menggunakan lampu pijar berdaya 60 watt dengan jarak 20 cm dari dinding wadah. Dalam waktu 24 jam setelah telur dimasukkan, anak-anak artemia akan menetas dan siap diberikan pada burayak cupang. Telur artemia bisa diperoleh di Dinas Perikanan Daerah setempat, toko-toko ikan hias yang cukup besar dan gerai penjual ikan hias.

e.   Kutu Air

Kutu air termasuk jenis udang dari kelas Crustaceae. Contoh kutu air adalah monia dan dophnia. Keduanya termasuk penghuni perairan tawar. Makanan kutu air berupa tumbuhan renik atau bahan organik seperti kotoran hewan. Kutu air betina menghasilkan telur yang disimpan di dalam kantong telur di punggungnya. Ketika lahir embrio kutu air tidak berbentuk telur, tetapi berbentuk kutu air dewasa. Selain mengulturkan sendiri, kutu air juga bisa dibeli dari pedagang makanan ikan hias.

Pengulturan secara massal menggunakan bak plastik, bak semen atau bak fibreglass berkapasitas satu ton. Bak harus terlindung dari cahaya matahari secara langsung. Sebagai pupuk gunakan kotoran ayam dan bungkil kelapa. Pangulturan kutu air dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut.

  • Isi bak dengan air tawar setinggi 60 cm.
  • Sediakan aerasi menggunakan blower. Usahakan suhu bak stabil pada kisaran 27-30 derajat celcius.
  • Larutkan 10 kg kotoran ayam kering dalam 90 liter air. Larutan ini direndam selama 10 hari dan diberi aerasi.
  • Tumbuk bungkil kelapa hingga halus, ayak hingga diperoleh hasil yang lebih halus.
  • Pupuk kolam pengulturan. Caranya, campurkan 1.000 ml/ton larutan kotoran ayam ke dalam 200 g/ton bubuk bungkil kelapa. Masukkan campuran tersebut ke dalam kantong kain dan diperas berkali-kali hingga seluruh cairannya keluar. Pemupukan susuhan seperti ini bisa dilakukan satu atau dua kali lagi.
  • Masukkan bibit ke dalam kolam setelah 18 hari pemupukan. Kepadatan penebarannya sekitar 30 ekor/liter. Ukuran moina yang digunakan lebih dari 500 mikron.
Kutu Air Pakan Cupang

Kutu Air Pakan Cupang

Jika pemeliharaannya baik, dalam tempo tujuh hari setelah bibit ditebar, moina sudah bisa dipanen karena jumlah moina sudah mencapai 5.000 ekor/liter. Pemberian moina untuk larva cupang menggunakan serokan yang berjaring halus, kemudian diberikan secukupnya ke larva cupang atau sekali habis dilahap oleh larva. Tujuannya, agar sisa moina yang tidak termakan tidak mati dan mencemari kolam, karena umur moina ini hanya bisa hidup sehari di perairan. Cara ini juga dapat menghemat biaya karena tidak banyak sisa pakan yang terbuang.

f.   Jentik Nyamuk (Cuk)

Cuk sebaiknya tidak dikultur karena akan memperbanyak populasi nyamuk. Jentik nyamuk bisa diberikan ke cupang yang sudah agak besar atau cupang muda. Pemberian cuk bisa dikombinasikan dengan pelet. Pada musim kamarau. cuk banyak ditemukan di air yang tergenang.

Jentik Nyamuk (CUK) pakan cupang

Jentik Nyamuk (CUK) pakan cupang

Cuk bisa diambil dengan serokan kain. Setelah diambil, cuk harus dibersihkan beberapa kali agar bibit penyakit yang ikut bersama cuk dari got juga terbuang. Agar telur cepat matang, induk cupang diberi pakan cuk yang diselingi dengan kutu air, diberikan sekali habis dimakan oleh cupang. Jangan diberikan berlebihan karena cuk yang tidak termakan bisa menjadi nyamuk. Pemberian cukup dilakukan dua kali sehari sampai burayak cupang kenyang.

g.   Cacing Sutra

Cacing sutra (tubifex worm) mudah didapat karena banyak diperjualbelikan oleh pedagang umpan ikan hias. Harganya termasuk paling murah di antara jenis makan cupang. Cacing sutra mudah dicerna cupang dan tidak menimbulkan sembelit, karena kandungan protein dan lemaknya tinggi. Jenis pakan ini sangat cocok untuk pembesaran, tetapi kurang baik bila diberikan kepada induk cupang karena cupang yang kegemukan saluran telurnya bisa terhambat. Cacing sutra biasanya diberikan dalam keadaan hidup. Beberapa peternak memperlakukan cacing sutra dengan merendamnya di dalam larutan antibiotik, seperti Tetracyclin dengan dosis 1 gram/10 liter air. Perendaman dilakukan selama 12 jam.

Sayangnya, di balik keuntungan menggunakan cacing sutra, ada kelemahannya, yakni adanya bibit penyakit yang dibawa oleh cacing, seperti protozoa atau bakteri yang bisa menyerang ingsang. Karena itu, sebaiknya setelah perlakuan dengan antibiotik, lakukan pemeliharaan selama 2-3 hari, lalu diberikan kepada cupang.

h.  Cacing Darah (Blood Worm)

Cacing darah merupakan jenis pakan yang paling aman diberikan kepada cupang, khususnya cupang dewasa dan yang sedang memijah. Di pasaran blood worm diperjualbelikan dalam keadaan hidup atau beku. Pemberian blood worm untuk anakan cupang harus dicincang atau diiris terlebih dulu, karena ukuran blood worm lebih besar, sedangkan kandungan lemaknya rendah. Blood worm sangat cocok diberikan untuk cupang yang sedang memijah atau menjelang dewasa karena tidak menimbulkan gangguan pada organ reproduksi. Namun pemberiannya harus teratur, karena blood worm bisa menyebabkan sembelit pada ikan bila aplikasinya tidak tepat. Cacing darah ini bisa diberikan dua kali sehari hingga ikan merasa kenyang.

Cacing darah hidup bisa membawa bibit penyakit dan menimbulkan gangguan pada cupang. Sebaiknya sebelum diberikan, blood worm hidup ditetesi dengan Metheline Blue untuk menghilangkan bibit penyakit yang dibawanya atau direndam dalam larutan antibiotik berupa Tetracycline dengan dosis 50 mg per satu liter air. Biarkan perlakuan ini selama 12 jam, lalu berikan ke cupang. Jangan lupa, berikan aerasi selama perendaman agar blood worm tidak mati.

Bagikan Artikel Ini Ke Teman Anda.

Facebook Twitter Google+

Tentang Penulis

Penulis banyudadi
Diposkan oleh :

Banyudadi adalah penyedia dan penyalur benih ikan air tawar, seperti: Gurame, Lele, Nila, Bawal, Patin, Ikan mas, Graskap, Tawes, Nilem, Gabus dan juga beberapa jenis ikan hias seperti: Koi, cupang, Komet, dll yang dihasilkan dari produksi para kelompok-kelompok petani perikanan yang terdaftar di Dinas Perikanan Prop. DI. Yogyakarta maupun Dinas Perikanan se-Kab. di DI. Yogyakarta.

Baca Juga Artikel Ini

3 thoughts on “Ragam Pakan Cupang

  1. Mas Anto

    Hari

    makasih infonya mas.Apa starter vinegar eel dijual ? saya kepingin untuk membudidayakan. terima kasih.

    Reply
    1. Mas Anto

      Mas Anto Pembuat Artikel

      Kurang tau mas, itu kan ada cara pengembanganya

      salam 😀

      Reply
  2. Mas Anto

    tiki macaw

    Terimakasi info nya saya baru mau budidaya kan om….saya baru belajar kemaren saya salah tehnik jadi pada mati de bibit ikan nya

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published.