Prospek Budi Daya Belut

Diposkan oleh : / On Budidaya Belut

Belut (Monopterus/fluta, Ophisternorz/Synbrachrius, Macrotema) adalah komoditas perikanan di air tawar yang bern ilai ekonomi tinggi. Selain dikonsumsi Iangsung sebagai lauk pauk, belut juga diolah menjadi olahan ikan yang banyak peminatnya. Belut juga diolah menjadi obat dan makanan kesehatan. Ikan yang mirip ular ini merupakan bahan pangan bergizi tinggi (Tabel 1). Karena itu, belut merupakan sumber protein hewani yang sangat dianjurkan. Status gizi belut diakui oleh berbagai negara di dunia di berbagai benua. Belut merupakan makanan yang eksklusif dan mahal yang terdapat di restoran-restoran kelas atas di berbagai negara.

Prospek belut sangat baik

Belut telah dipromosikan dan dianjurkan untuk dikonsumsi sebagai sumber gizi sejak tahun 1980. Sebuah forum internasional, yakni pada Kongres Gizi Asia lll di Hotel Indonesia Jakarta, 7-10 April 1980, belut adalah salah satu biota yang dianjurkan dan dipromosikan untuk dikonsumsi masyarakat, karena kandungan gizinya yang baik untuk pertumbuhan dan kesehatan manusia.

Tabel 1.

Perbandingan kandungan gizi belut, sapi dan telur (100 g)

KomponenBelutSapiTelur
Protein (g)14,018,812,8
Lemak (g)271411,5
Kalori (kkal)303207162
Zat besi (mg)202,82,8
Kalsium (g)201154
Fosfor (mg)200170180
Vitamin A (SI)1.60030900
Vitamin B (mg)0,10,080,1
Vitamin C (mg)200
Karbohidrat (g)000,7
Air (g)586674,0

Belut mengandung protein yang cukup tinggi sehingga sangat baik dikonsumsi oleh segala tingkatan usia, mulai dan anak-anak, remaja, orang dewasa, ibu hamil, ibu menyusui, dan mereka yang berusia lanjut. Belut juga mengandung lemak, kalori, zat besi, kalsium, fosfor, dan vitamin. Asam lemak omega-3 pada cukup tinggi, yaitu antara 4,48-11,8 %. Daging belut juga mengandung hormon kalsitonin yang berfungsi untuk memelihara kekuatan tulang pada tubuh manusia.

Karena kandungan gizinya yang sangat tinggi, sudah tentu belut merupakan makanan yang baik untuk kesehatan dan dapat digunakan penyembuhan. Artinya dapat berfungsi sebagai obat. Kandungan protein dan lemaknya yang tinggi sangat baik dikonsumsi oleh anak-anak yang kekurangan gizi dan gizi buruk. Sebagaimana biota akuatik dan bahan pangan hewani lainnya, belut sangat balk untuk memenuhi gizi masyarakat, termasuk mencegah kekurangan gizi pada anak-anak yang selama mi menj adi salah satu momok bagi anak-anak di Indonesia.

Nilai cerna protein belut cukup tinggi sehingga sangat balk dikonsumsi oleh anak-anak dalam masa pertumbuhan dan anaka nak yang menderita kekurangan gizi. Apalagi belut dapat dio lah menjadi berbagai produk sehingga konsumen mempunyal banyak pilihan. Anak-anak yang tidak suka mengonsumsi belut dan ikan dalam bentuk konvensional, seperti ikan goreng dan bakar, dapat menerima bila disajikan dalam bentuk produk-produk makanan ringan, seperti kerupuk, kripik, dan abon.

Daging belut mengandung hormon kalsitonin yang berfungsi memelihara kekuatan tulang yang diperlukan pada tubuh manusia. Di Cina, belut dipercaya dapat membantu meningkatkan hormon vitalitas pria. Cara membuatnya, kepala belut dikeringkan kemudian digerus atau ditumbuk hingga halus. Selanjutnya, tumbukan halus tersebut dapat dimasukkan ke dalam kapsul pembungkus obat untuk dikonsumsi Di Jepang, belut dipercaya memberikan asupan energi sebagai upaya mempertahankan tubuh pada serangan hawa panas. Karena itu, pada musim panas banyak restoran di Jepang menyajikan masakan dan belut.

Belut juga bisa dimanfaatkan sebagal obat penguat stamina tubuh, menghilangkan pegal-pegal di pinggang, penambah darah, dan obat liver, serta memperlancar persalinan dan keluarnya air susu ibu. Khasiat tersbut diperoleh dengan memanfaatkan cairan dan tubuh belut atau memasak belut dengan campuran bahan makanan atau bumbu-bumbu.

Belut telah pula dimanfaatkan sebagai kosmetik dan perawatan kecantikan. Minyak belut dipercaya dapat mengencangkan payudara dan membuat kulit halus dan licin. Karena itu, minyak belut banyak dicari oleh kaum perempuan yang selalu ingin tampil cantik dan mulus.

Karena kandungan gizi yang tinggi itulah, maka belut dikonsumsi oleh berbagai Lapisan masyarakat, yang melintasi negara dan benua. Di Indonesia, belut masih tergolong makanan untuk semua lapisan masyarakat. Bahkan di beberapa daerah, belut belum dilirik sebagai sumber protein. Namun di banyak negara, belut merupakan makanan eksklusif yang mahal sehingga hanya bisa dikonsumsi oleh mereka yang berada di tingkat ekonomi menengah ke atas, seperti Singapura, Jepang, Hongkong, Korea Selatan, Perancis, Australia, Italia, Belanda, dan Jerman. Jepang merupakan konsumen belut terbesar di dunia.

Belut dapat dikonsumsi Iangsung dalam berbagai bentuk sajian maupun diolah menjadi produk-produk berharga tinggi. Di Jawa, rumah makan dan restoran yang menyajikan belut ramai dikunjungi. Sementara itu, belut olahan sudah sangat mudah ditemukan di pasar, baik pasar tradisional maupun pasar modern seperti super market. Di Pasar Godean, Sleman, Yogyakarta, telah dikenal sebagai pasar olahan belut, terutama keripik. Sejak tahun 2001, Pasar Godean tumbuh menjadi pasar olahan belut yang kini terken& hingga di luar Jawa. Flarga keripik belut di Pasar Godean antara Rp. 50.000-80.000/kg tergantung kualitas. Olahan belut telah mengantarkan Hj. Komalasari di Sukaraja, Sukabumi, menjadi juragan olahan belut. Hj. Komalasari mampu mengolah 100 kg belut setiap hari dan dijadikan menjadi 14 macam olahan. Sementara pengolah belut di Pasar Godean yang tergabung dalam Paguyubun “Harapan Mulya” setiap hari membutuhkan sekitar 2,85 ton bahan baku. Dengan harga belut segar Rp. 25.000/kg, modal untuk membeli belut sebagai bahan baku mencapai Rp. 2,13 milyar/bulan, suatu angka yang cukup besar.

Olahan belut akan mendorong peningkatan produksi, balk penangkapan maupun budi daya belut. Di samping itu, olahan belut akan meningkatkan lama penyimpanan, memudahkan transportasi, meningkatkan kualitas, prestise, dan harga jual. Seningkali, konsumen tak menyukai ikan dan biota akuatik karena penyajiannya membutuhkan waktu yang lama, termasuk untuk mengonsumsinya harus membutuhkan peralatan dan wadah. Olahan seperti keripik, abon, dan lainnya akan memudahkan dalam mengonsumsi biota akuatik, termasuk belut. Karena bergizi tinggi dan konsumennya terdapat di berbagai negara, belut menjadi biota akuatik bernilai ekonomi tinggi.

Harga belut di pasaran pada kondisi normal antara Rp. 14.000- 18.000/kg. Pada musim hujan ketika pasokan melimpah, harga belut mengalami penurunan antara Rp. 2.0OO-l.5.000/kg. Di musim kemarau antara Mei-September, harga belut melambung menjadi Rp. 30.000-50.000/kg. Belut budi daya dijual kepada eksportir dengan harga Rp. 5.000-35.000/kg tergantung dan ukuran.

Di pasar internasional, harga belut segar antara US$ 8-9/kg atau Rp. 70.000-90.000/kg. Tahun 2009, harga betut segar grade super (3-10 ekor/kg) antara US$ 12-13. Bila pasokan membludak, harga belut di pasar internasional turun menjadi US$ 10-1 1/kg. Sementara jika pasokan belut di pasar menurun, harga belut naik 2-3 poin. Harga belut grade super bisa mencapai US$ 16-18/kg, dan harga paling rendah sekitar US$ 14/kg.

Di dalam negeri, harga belut olahan atau produk yang berbahan baku belut, seperti belut asap, abon belut, dan keripik belut antara Rp. 50.000-80.000/kg atau mencapai 2-3 kali harga belut segar. Bahkan harganya mencapai 3-4 kali harga belut segar di Swalayan atau Super Market. Pasar belut cukup terbuka, baik pasar lokal maupun pasar ekspor. Di wilayah Jabodetabek saja dibutuhkan belut aitara 3-4 ton/hari, Padang 4 ton/hari, Manado 2,3 ton/hari, Surabaya dan Yogyakarta masing-masiflg 1,5 ton/hari, sementara Sukabumi dan Solo sekitar I ton/hari. Selama ini pasokan untuk kebutuhan pasar tersebut berasal dan hasil tangkapan di alam dan hanya 30-50 % yang terpenuhi.

Sementara pasar ekspor antara lain Hongkong, Cina, Korea Selatan, Taiwan, Malaysia, Jepang, Jerman, lnggris, Amenika Serikat, Spanyol, Belgia, Italia, Belanda, Perancis, Denmark, dan Australia. Diperkirakan khusus pasar Asia saja dalam setiap hari dibutuhkan belut hidup sebanyak 60 ton/hari dan belut beku sebanyak 2-3 ekor/hari.

Ukuran belut yang diproduksi disesuaikan dengan kebutuhan pasar. Pasar lokal umumnya membutuhkan belut ukuran 10-15 ekor/kg, sedangkan pasar Jepang membutuhkan belut ukuran 2-3 ekor/kg, pasar Korea Selatan 5-7 ekor/kg, pasar China 20-30 ekor/kg, pasar Taiwan 11-12 ekor/kg dan pasar Hongkong 10 ekor/kg.

Bagikan Artikel Ini Ke Teman Anda.

Facebook Twitter Google+

Tentang Penulis

Penulis banyudadi
Diposkan oleh :

Banyudadi adalah penyedia dan penyalur benih ikan air tawar, seperti: Gurame, Lele, Nila, Bawal, Patin, Ikan mas, Graskap, Tawes, Nilem, Gabus dan juga beberapa jenis ikan hias seperti: Koi, cupang, Komet, dll yang dihasilkan dari produksi para kelompok-kelompok petani perikanan yang terdaftar di Dinas Perikanan Prop. DI. Yogyakarta maupun Dinas Perikanan se-Kab. di DI. Yogyakarta.

Baca Juga Artikel Ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.