Perkembangbiakan Ikan Cupang

Diposkan oleh : / On Cupang

Saat ini tampilan fisik cupang sangat beragam, jauh berbeda dengan cupang yang ditemui di alam bebas. Pada mulanya cupang di alam mempunyai ekor pendek dengan warna yang gelap dan bercampur. Sentuhan tangan manusia mengakibatkan cupang berevulosi hingga memiliki ekor yang bermacam-macam, warna yang bervariasi dan berukuran normal sampai raksasa.

a. Cupang Hasil Tangkapan di Alam (Cupang Alam)

Cupang alam

Cupang dikenal sebagai ikan aduan sejak lebih dari 2 abad yang lalu. Para nenek moyang bangsa Thai merupakan bangsa pertama yang menangkap dan memperkenalkan cupang dari alam untuk diadu. Ada tiga cupang jenis yang sangat populer dijadikan sebagai ikan aduan, yakni Betta imbellis di Selatan Thailand, Betta splendens di bagian Tengah dan Betta smaragdina dibelahan Utara Thailand. Dari permainan sekelompok orang yang mengisi waktu luangnya saat beristirahat di sawah, kebiasaan ini menjadi suatu bentuk persaingan antarkelompok dan antarkampung.

Kemenangan dalam laga cupang akhirnya menjadi kebanggaan kampung. Umumnya untuk menjaga nama baik kampung, penduduk merahasiakan tempat penangkapan cupangnya dari pesaingnya. Ikan yang  diadu menjadi sarana gengsi bagi kampung tertentu. Sejak itu cupang yang ditangkap di sawah mulai diternakkan untuk menghasilkan cupang juara yang punya kemampuan bberkelahi yang baik.

b. Beternak Cupang Alam

1. Cupang Alam Pilihan

Cupang yang ditangkapi dari sawah dirahasiakan asalnya, karena tempat cupang itu bermukim menjadi harta terpendam bagi para petani yang suka melaga cupang. Orang berjuang untuk mencari tempat-tempat seperti ini untuk mencari “jagoannya” secara selektif. Tak jarang mereka meminta atau membeli tempat itu supaya mendapat cupang alam yang bisa memenangkan pertarungan.

2. Cupang Tangkaran

Semula, laga cupang hanya iseng dan kesenangan belaka untuk mengisi waktu senggang. Namun manusia tidak pernah puas akan apa yang telah didapat, untuk menjaga kelangsungan kualitas cupang andalannya langkah selanjutnya adalah menyimpan dan berkeinginan untuk menernakkan sang jagoan supaya memperoleh keturunan yang bagus. Walaupun usaha menernakkan cupang saat itu masih merupakan langkah yang kurang pasti, tetapi sebagai petani jiwa mereka terpanggil untuk mengembangbiakkan ikan cupang jagoannya, apalagi ketika cupang mulai dijadikan taruhan uang.

Peternak mulai menangkarkan cupang dengan menggali kolam sebagai lubuk atau tempat cupang bertelur dan berkembangbiak. Selain untuk menjaga kualitas, gagasan menangkarkan cupang juga bertujuan untuk menentukan kuantitas agar cupang jagoan bisa dijual kepada kelompok teman, sehingga tersedia sepanjang waktu. Awalnya, cupang yang berhasil ditangkarkan dikembalikan ke habitatnya semula agar sifat liar dan keganasannya tetap ada. Lambat laun cupang alam tersisih oleh cupang-cupang hasil tangkaran karena kualitasnya tidak dapat menandingi hasil tangkaran.

Pada akhirnya laga cupang terbagi menjadi dua jenis, yakni laga cupang hasil tangkapan dan laga cupang hasil tangkaran. Perubahan ini tidak hanya memngaruhi cara berkelahi cupang, tetapi juga perilaku manusianya. Manusia mulai memelihara cupang sebagai hewan kesayangan yang dipelihara di akuarium.

c. Cupang Silangan (Hibrida)

Peternak menyilangkan ikan lokal dengan ikan silangan super yang didatangkan dari luar daerahnya. Sebagai contoh, Betta splendens didatangkan dari Timur Laut Thailand untuk disilangkan dengan ikan lokal yang jago berkelahi, seperti Betta smaradigma. sementara itu, di Thailand bagian selatan memiliki Betta imbelis yang disilangkan dengan Betta splendens.

Ada dua jenis silangan yang menjadi cikal bakal mutasi cupang yang kita kenal saat ini, yakni cupang silangan dari tangkap liar dan cupang silangan yang diternakkan. Dari pengamatan para ahli cupang, silangan yang ditangkap liar lebih bisa diterima di antara pemain, sebab sifat alaminya masih tetap ada serta keunggulan sifat hasil silangan pun dimilikinya. Selain itu, cupang silangan tersebut dapat beradaptasi dan berkembang biak di habitat asalnya.

d. Menyempurnakan Hasil Ternakkan

Manusia menyeleksi cupang untuk disilangkan satu sama lain serta menghasilkan berbagai jenis cupang yang dikehendaki, baik untuk diadu maupun untuk dipelihara sebagai hewan kesayangan. Pada perkembangannya, cupang hasil ternakkan semakin bervariasi, baik secara bentuk,warna maupun ukuran. Perkembangan selanjutnya tidak hanya di habitat awal cupang itu berasal, tetapi di tempat yang sama sekali berbeda sehingga terjadi mutasi-mutasi yang menghasilkan bentuk,warna dan ukuran yang menakjubkan. pada tingkatan ini telah dihasilkan cupang berekor pendek dan berekor panjang dengan warna-warna yang jauh berbeda dengan warna cupang di alam. Ukurannya pun bisa dikembangkan menjadi lebih besar dan dikenal sebagai cupang raksasa.

 

Bagikan Artikel Ini Ke Teman Anda.

Facebook Twitter Google+

Tentang Penulis

Penulis banyudadi
Diposkan oleh :

Banyudadi adalah penyedia dan penyalur benih ikan air tawar, seperti: Gurame, Lele, Nila, Bawal, Patin, Ikan mas, Graskap, Tawes, Nilem, Gabus dan juga beberapa jenis ikan hias seperti: Koi, cupang, Komet, dll yang dihasilkan dari produksi para kelompok-kelompok petani perikanan yang terdaftar di Dinas Perikanan Prop. DI. Yogyakarta maupun Dinas Perikanan se-Kab. di DI. Yogyakarta.

Baca Juga Artikel Ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.