Perbedaan Lele Lokal Dan Lele Dumbo

Bagaimana membedakan lele dumbo dengan lele lokal? Bagi orang awam membedakan antara kedua jenis lele tersebut cukup sulit, namun bagi para pembudidaya ikan atau kalangan perikanan akan begitu mudah untuk membedakan kedua jenis lele tersebut.Bila dilihat sekilas organ tubuh memang tidak ada perbedaan, namun bila diperhatikan seksama perbedaan tersebut dapat terlihat jelas. Yang berbeda dari keduanya di antaranya adalah pada warna kulit. Kulit lele lokal berwarna hitam, abu-abu dan terkadang putih yang terdapat titik atau bintik-bintik kecil, sementara lele dumbo agak keungunan atau kemerahan dengan bintik lebih besar. Dan ketika sedang stres atau kaget lele dumbo kulitnya akan berubah menjadi lebih loreng, beda dengan lele lokal yang bila dalam keadaan stres tidak terjadi perubahan warna.

Hal lain yang membedakankeduany yaitu dilihat dari gerakannya, lele dumbo lebih lincah dibandingkan lele lokal dan pada patil lele dumbo tidak mengandung racun tidak seperti lele lokal yang patilnya terdapat racun. Dari sifat biologinya, lele dumbo tidak merusak pematang, sedangkan lele lokal merusak pematang sehingga menjadi hama buat para petani.

2. Strategi Budi Daya

Semakin meningkatnya permintaan konsumen akan lele lokal, membuat para peternak (sebagai produsen) terpacu untuk memproduksi dalam jumlah besar. Keadaan ini memicu terjadinya perubahan pola pembudidayaan dari cara sederhana ke cara yang lebih maju. Saat ini, seiring dengan bertambahnya pengetahuan petani, pembudidayaan lele lokal sudah dilakukan  secara lebih intensif di kolam khusus budi daya. Keadaan ini sudah sangat berbeda dengan masa sebelumnya. Dahulu, pembudidayaan lele lokal masih dilakukan di kolam pekarangan tanpa memerhatikan perbandingan antara padat penebaran dengan luas kolam, sehingga pemanfaatan kolam dan pakan menjadi tidak optimal.

Ada tiga kegiatan pokok dalam budidaya lele lokal. Ketiga kegiatan pokok tersebut adalah pembenihan, pendederan dan pembesaran. Kegiatan pembenihan adalah proses pemijahan atau mengawinkan induk lele jantan dengan betina hingga menghasilkan benih atau larva berukuran 1-3 cm. Kegiatan pembenihan dapat dilakukan di dalam ruang tertutp atau terbuka seperti di bagian samping atau belakang rumah.

Kegiatan pokok dalam pembenihan lele lokal mencakup pemeliharaan induk siap pijah, pemijahan (baik yang dilakukan secara alami atau dengan kawin suntik (induced breeding)), penetasan telur dan perawatan larva. Selama pemijahan, induk lele lokal diberi pakan pelet sebanyak 35% per hari dari bobot totsl induk yang dipelihara. Pemberian pakan dilakukan 2-3 kali sehari pada pagi, sore, dan malam hari.

Sementara itu, larva lele lokal yang baru menetas balum diberi pakan tambahan, karena cadangan makanan di dalam tubuhnya berupa kuning telur masih ada. Pada hari ke-4 setelah menetas, benih diberi pakan tambahan berupa pakan alami atau pakan hidup (plankton). Salah satunya adalah Daphnia sp. atau bisa diberi cacing sutera. Pemberian pakan dilakukan sesuai dengan kebutuhan (sekenyangnya) sebanyak 2 kali sehari, pada pagi atau sore dan malam hari.

Kegiatan pendederan adalah pemeliharaan benih yang berasal dari hasil pemijahan. Pendederan dilakukan dalam dua tahap, yaitu pendederan I dan pendederan II. Setiap pendederan memerlukan waktu pemeliharaan selama 3 minggu. Benih yang dihasilkan mencapai ukuran 3-5 cm (pendederan I) atau 5-8 cm (pendederan II). Dengan kata lain, pendederan merupakan kegiatan penyiapan benih untuk dibesarkan di kolam pembesaran. Pendederan ini dapat dilakukan di kolam tembok, kolam tanah, atau jaring apung. Kegiatan pendederan meliputi persiapan kolam, penebaran benih, pemberian pakan, pengontrolan, pengendalian hama dan penyakit, serta pemanenan hasil.

Pada pendederan I, benih diberi pakan berupa pakan dalam bentuk tepung sebanyak 3-5% dari berat total lele lokal yang dipelihara. Pemberian pakan dilakukan 3 kali sehari, pada pagi, sore dan malam hari.

Pada pendederan II benih diberi pakan berupa crumble (pelet hancuran) sebanyak 3-5% dari berat total lele yang dipelihara. Sebaiknya pemberian pakan dilakukan dengan cara disebar merata agar semua benih mendapatkan kesempatan yang sama untuk memperoleh pakan.

Kegiatan pembesaran adalah pemeliharaan benih yang berasal dari kegiatan pendederan. Pembesaran lele lokal dapat dilakukan di kolam tanah, kolam tembok, atau di jaring apung. Kegiatan pembesaran dilakukan selama 3 bulan hingga lele mencapai ukuran yang siap dipasarkan ke konsumen, yaitu 6-12 ekor per kg.

Selain pakana alami, untuk mempercepat pertumbuhan, lele lokal diberi pakan pelet sebanyak 2-5% per hari dari berat total ikan yang ditebarkan di kolam. Pemberian pakan dilakukan 3-4 kali per hari pada pagi, siang, sore dan malam hari. Komposisi pelet dapat dibuat dari campuran dedak halus dan ikan rucah dengan perbandingan 1:9 atau campuran dedak halus, bekatul, jagung, cincangan bekicot dengan perbandingan 2:1:1:1.

Bagikan Artikel Ini Ke Teman Anda.

Facebook Twitter Google+

Tentang Penulis

Penulis banyudadi
Diposkan oleh :

Banyudadi adalah penyedia dan penyalur benih ikan air tawar, seperti: Gurame, Lele, Nila, Bawal, Patin, Ikan mas, Graskap, Tawes, Nilem, Gabus dan juga beberapa jenis ikan hias seperti: Koi, cupang, Komet, dll yang dihasilkan dari produksi para kelompok-kelompok petani perikanan yang terdaftar di Dinas Perikanan Prop. DI. Yogyakarta maupun Dinas Perikanan se-Kab. di DI. Yogyakarta.

Baca Juga Artikel Ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.