Pendederan Ikan Mas

Aturan dalam budidaya ikan mas larva tidak langsung di tebar pada kolam pembesaran, namun harus melalui beberapa tahap, yaitu tahap pendederan pendederan ikan mas. Biasanya jika larva langsung di tebar di kolam pembesaran efeknya kurang baik. Larva di besarkan dahulu hingga berukuran sekitar 8-12 cm.

Ada 2 tahap yang perlu di lakukan dalam pendederan. 1. Pendederan pertama selama 10 – 12 hari. 2. Pendederan ke dua selama 25 sampai 30 hari. Kegiatan setiap tahapnya terdiri dari persiapan kolam, penebaran benih, pemberian pakan tambahan, dan panen.

Pendederan Ikan Mas

1. Persiapan kolam

Sebelum di pakai untuk pendederan ikan mas kolam di persiapkan terlebih dahulu, seperti menumbuhkan pakan-pakan alami untuk membantu mencukupi kebutuhan vitamin ikan mas. Jika pada kolam sudah subur dan banyak pakan alami ikan mas bisa tumbuh secara maksimal. Jadi tidak boros pakan butan (pelet).

Persiapan kolam setiap tahapan pendederan terdiri dari pengeringan, perbaikan pematang, pengolahan tanah dasar, perbaikan kemalir, pengapuran, pemupukan, serta pengairan.

Pengeringan

Pengeringan dilakukan dengan cara membuang seluruh air kolam. Kolam dibiarkan terjemur sinar matahari. Pengeringan dianggap cukup bila tanah dasar sudah retak-retak. Biasanya selama 4 – 7 hari.

Pengeringan bertujuan untuk memberantas hama dan penyakit, memperbaiki struktur tanah dasar dan membuang gas-gas beracun. Selain itu juga untuk mempermudah per-baikan pematang, pengolahan tanah dasar dan pembuatan kemalir.

Perbaikan pematang

Pada dareah tertentu ada tanah yang susah untuk menampung air dan sering kehilangan air. Nah jika kolam pada kondisi seperti itu kegiatan perbaikan pematang bisa menjadi kegiatan rutin setiap bulan/panen. Jika pematang sering mengalami kebocoran kami sarankan pematang di beri plastik yupi. Seringnya keluar masuk air tanpa kontrol bisa membuat pakan alami mudah habis.

Pengolahan tanah dasar

Pengolahan tanah dasar dilakukan dengan mencangkul seluruh bagian dasar kolam, tapi tidak terlalu dalam. Tujuannya agar tanah dasar kedap air, strukturnya baik dan higenis. Tanah dasar yang kedap dapat menahan air dan tidak porous.

Struktur tanah yang baik dapat memperlancar proses penguraian bahan organic (pupuk), sehingga pakan alami tumbuh dengan baik. Higenis artinya tanah dasar terbebas dari gas-gas beracun, seperti amoniak, belerang dan lain-lain.

Pembuatan kemalir

Pembuatan kemalir dilakukan dengan cara menarik dua buah tali plastik dari pintu pemasukan ke pintu pengeluaran. Jarak antara tali atau lebar kemalir antara 40 – 50 cm. Tanahnya digali sedalam 5 – 10 cm, lalu dilemparkan ke pelataran.

Pembuatan kemalir bertujuan untuk memudahkan penangkapan benih saat panen. Di depan lubang pengeluaran dibuak kobakan dengan panjang 1,5 m, lebar 1 m, dan tinggi 20 cm. Setelah kemalir dibuat, tanah dasar diratakan.

Pengapuran

Pengapuran dilakukan setelah pembuatan kemalir dengan cara menyiramkan air kapur ke seleuruh bagian tanah dasar dan pematang. Sebelumnya ditebar atau disiram, kapur direndam terlebih dahulu dengan air. Untuk kapur yang sudah kering, pengapuran dapat dilakukan dengan cara menaburkan ke seluruh bagian tanah dasar dan pematang.

Pengapuran bertujuan untuk meningkatkan produktivitas tanah, terutama pH dan alkalinitasnya. Untuk kolam yang pH-nya sudah 7, pengapuran tidak perlu dilakukan. Dosis pengapuran setiap meternya dapat dilihat dalam table berikut (lihat pengapuran yang baik).

Pemupukan

Selain berguna untuk menyuburkan kolam, pemupukan juga bertujuan untuk menumbuhkan pakan alami di dalam kolam. Karena pakan alami sangat penting untuk ikan, bagaimanapun ikan butuh makanan alami.

Pemupukan dalam kolam bertujuan untuk menumbuhkan pakan alami agar kolam menjadi subur. Pakan alami sangat berguna untuk berudu agar tumbuh lebih cepat. Setelah kolam dipupuk, kolam diisi air selama 4 – 6 hari.

Caranya dengan menutup pintu pengeluaran air (monik) dengan 3 – 4 buah belahan papan selebar masing-masing 10 cm, kemudian membuka pintu pemasukan air untuk mengalirkan air. Setelah air mencapai ¾ bagi-an, pintu pemasukan ditutup, agar air pupuk tidak ter-buang. (lihat pemupukan yang baik).

Selain cara di atas, pemupukan dapat pula dilakukan setelah kolam diisi air, agar tidak menimbulkan bau yang tidak sedap. Pupuk yang baik untuk kolam adalah kotoran ayam atau puyuh. Dosis pupuknya 500 – 1000 gram/m2.

2. Penebaran benih

Seperti larva ikan lain, penebaran larva/benih baiknya di lakukan pagi hari atau sore hari. Penebaran pada pagi hari di lakukan sebelum matari terbit, antara jam 05.00 sampa jam 06.00. Dan penebaran pada sore hari bisa di lakukan sekitar jam 17.00 sampai malam.

Penebaran larva atau benih dilakukan pagi hari, saat suhu air rendah, yaitu antara pukul 06.00 – 07.00. Tujuannya agar larva atau benih tidak stress akibat suhu tinggi. Larva atau benih yang ditebar terlalu siang bisa strees akibat kepanasan.

Padat tebar setiap tahapan pendederan berbeda-beda, tergantung dari ukuran dan umur benih. Pada pendederan pertama, larva ditebar dengan kepadatan antara 100 – 200 ekor/m2, pendederan kedua 50 – 75 ekor/m2, dan pendederan ketiga 25 – 50 ekor/m2.

Agar jumlahnya diketahui, sebelum ditebar larva atau benih dihitung terlebih dahulu. Cara menghitungnya harus hati-hati, karena kondisi tubuhnya masih lemah dan mudah terluka. Cara menghitung yang paling baik dan risikonya paling kecil adalah secara volumetrik.

Cara menghitung larva secara volumetrik : tangkap larva dari hapa pemijahan, lalu masukan dalam ember besar yang sudah diberi air sebanyak 2 liter, aduk larva dalam ember agar merata, ambil satu liter sebagai sampel dan hitung. Untuk mengetahui jumlah keseluruhan dapat digunakan dengan rumus :

A = B x C

A = Jumlah total berudu (ekor)

B = Jumlah berudu dalam 1 liter (ekor)

C = Volume air dalam ember (liter)

Cara menghitung benih secara volumetrik : tangkap benih dengan sekup net halus atau ayakan kecil; biarkan selama 10 detik agar airnya turun; masukan benih ke dalam gelas minum, mangkuk kecil, atau literan sebagai takaran; hitung benih dalam wadah itu; masukan ke wadah lain; takar seluruh benih. Untuk menghitung jumlah berudu seluruhnya dapat digunakan dengan rumus :

A = B/C x D

A = Jumlah berudu keseluruhan (ekor

B = Jumlah berudu dalam takaran kecil (ekor)

C = Volume gelas (cc)

D = Volume total (cc)

3.  Pemberian pakan tambahan

Pakan tambahan diberikan setelah 4 hari dari penebaran, karena pada awal penebaran, pakan alami masih cukup tersedia, sedangkan setelah 4 hari pakan alami sudah mulai berkurang.

Pemberiannya dilakukan 2 kali dalam sehari, yaitu pada pukul 09.00 dan pukul 15.00. Dosisnya 20 gram /100 ekor berudu pada minggu pertama, 30 gram pada minggu kedua, demikian seterusnya dosisi pakan tambahan ditambah sesuai dengan kebutuhan. Pemberian pakan tambahan dilakukan dengan cara menebar langsung ke kolam.

4. Pengontrolan

Pengontrolan dilakukan setiap hari untuk melihat keadaan kolam. Waktunya bisa bersamaan dengan pemberian pakan tambahan. Saat pengontrolan keadaannya harus diamati dengan cermat, agar setiap kejadian dapat segera ditangani.

Bila ada bocoran pada pematang, segera diperbaiki agar ketinggian air dapat dipertahankan dan larva atau benih tidak terbawa aurs air. Air yang masuk juga harus diatur debitnya agar tidak terlalu besar juga tidak terlalu kecil, tetapi air debit air tersebut cukup untuk mempertahankan ketinggian air kolam.

Kemudian bila ada tanda-tanda benih terserang penyakit harus segera diambil tindakan. Benih yang terserang ditandai dengan gerakannya lamban atau tidak normal, dan tidak napsu makan. Kemudian bila dilihat lebih dekat atau ditangkap badannya berwarna pucat.

5. Pemanenan

Pemanen benih di lakukan secara hati-hati, saat pengeringan kolam, pengeluaran air harus terkontrol sedikit demi sedikit jangan di lakukan sekaligus. Maksud dari cara ini agar ikan tidak mudah stress karena pergerakan air terlalu cepat.

Langkah selanjutnya adalah menangkap benih dengan serokan, Benih yang sudah ditangkap sebaiknya dibiarkan dalam hapa tersebut selama malam agar kondisinya tubuhnya pulih kembali. Air yang masuk ke kolam penyimpanan hapa harus bersih agar tidak mengotori air dalam hapa.

Bila kondisi kurang aman sebaiknya benih dipindah ke dalam bak atau hapa lainnya yang dipasang di tempat yang terjamin keamanannya, misalnya di dalam ruangan (indoor hatchery). Berikut disajikan data pertumbuhan berudu hasil pendederan di kolam dalam setiap minggu.

Ukuran benih yang dihasilkan tergantung dari kesuburan kolam, dan cara pengelolaan. Namun pada umumnya benih yang dihasilkan dari pendederan satu berukuruan 2 – 3 cm (berat antara 0,1 – 1 gram), pendederan 5 – 8 cm (berat antara 5 – 7 cm), dan pendederan ke tiga 10 – 12 cm (berat antara 9 – 11 gram).

Bagikan Artikel Ini Ke Teman Anda.

Facebook Twitter Google+

Tentang Penulis

Penulis banyudadi
Diposkan oleh :

Banyudadi adalah penyedia dan penyalur benih ikan air tawar, seperti: Gurame, Lele, Nila, Bawal, Patin, Ikan mas, Graskap, Tawes, Nilem, Gabus dan juga beberapa jenis ikan hias seperti: Koi, cupang, Komet, dll yang dihasilkan dari produksi para kelompok-kelompok petani perikanan yang terdaftar di Dinas Perikanan Prop. DI. Yogyakarta maupun Dinas Perikanan se-Kab. di DI. Yogyakarta.

Baca Juga Artikel Ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.