Penanggulangan Penyakit Ikan Bawal

Penyakit ikan dapat didefinisikan sebagai segala sesuatu yang dapat mengganggu suatu fungsi atau struktur dan alat tubuh atau sebagian alat tubuh, baik secara langsung maupun tidak langsung. Pada prinsipnya penyakit yang menyerang ikan tidak datang begitu saja, melainkan melalui proses hubungan antara tiga faktor, yaitu kondisi lingkungan (kondisi air), kondisi inang (ikan budi daya), dan adanya jasad patogen (jasad penyakit). Dengan demikian, timbulnya serangan penyakit itu merupakan hasil interaksi yang tidak serasi antara lingkungan, ikan dan jasad/organisme penyakit. Interaksi yang tidak serasi ini menyebabkan stres pada ikan, sehingga mekanisme pertahanan dirinya menjadi lemah dan akhirnya mudah diserang oleh penyakit.

Di lingkungan alam, ikan dapat diserang berbagai macam penyakit. Demikian juga dalam pembudidayaannya, bahkan penyakit tersebut dapat menyerang ikan dalam jumlah besar dan dapat menyebabkan kematian, sehingga kerugian yang ditimbulkan pun sangat besar. Kerugian yang ditimbulkan bergantung pada beberapa faktor yaitu: (a) umur ikan yang sakit, (b) persentase populasi yang terserang penyakit, (c) parahnya penyakit, dan (d) adanya infeksi sekunder.

1. Pencegahan

‘Mencegah lebih baik daripada mengobati’. Selain tidak bisa menjamin penyembuhan 100%, pengobatan juga membutuhkan biaya dan tenaga yang cukup besar. Ada beberapa teknik pencegahan yang dapat dilakukan, yaitu secara mekanik, kimia, maupun biologis. Tindakan pencegahan secara mekanik adalah upaya mencegah serangan penyakit dengan bantuan peralatan mekanik. Pencegahan secara kimiawi adalah usaha pencegahan terhadap serangan penyakit dengan memanfaatkan berbagai senyawa kimia. Sedangkan pencegahan secara biologis adalah usaha pencegahan terhadap serangan penyakit dengan menggunakan prinsip-prinsip biologis atau organisme lain.

Agar hasilnya memuaskan, pemilihan teknik pencegahan harus disesuaikan dengan kondisi lingkungan setempat. Beberapa teknik pencegahan hama dan penyakit ikan antara lain adalah sebagai berikut.

  • Pembersihan Kolam

Pembersihan (dekontaminasi) kolam dimaksudkan untuk membersihkan organisme parasit, virus, jamur dan bakteri serta hama yang terdapat di dalamnya. Dekontaminasi dilakukan dengan pengeringan/penjemuran terpal plastik atau dengan menggunakan bahan kimia telah umum diterapkan. Bahan kimia yang sering digunakan adalah kalium permanganat (PK) dan metilin biru (methylene blue).

  • Pembersihan Peralatan

Pembudi daya menggunakan berbagai peralatan pembersihan sebagai alat bantu, seperti seser, baskom, ember, kantong plastik dan lain-lain. Peralatan ini sering digunakan oleh organisme lain sebagai media untuk menimbulkan penyakit. Untuk mencegah timbulnya serangan penyakit, semua peralatan yang akan atau telah digunakan segera dibersihkan agar kotoran dan organisme penyebab penyakit yang menempel pada alat tersebut dapat dihilangkan. Caranya adalah dengan dengan mencelupkannya ke dalam larutan PK dosis rendah, sekitar 3—20 ppm selama 30 menit. Pembersihan alat juga dapat dilakukan dengan menggunakan klorin.

  • Pembersihan Ikan Peliharaan

Pembersihan ikan bisa dilakukan dengan sistem karantina. Caranya adalah dengan memelihara ikan-ikan tersebut dalam wadah khusus selama waktu tertentu. Dengan cara ini dapat diketahui apakah ikan tersebut “bersih” atau mengandung jenis organisme tertentu yang mampu menyebabkan penyakit, sehingga langkah pengamanan dapat segera diambil.

Cara lain adalah dengan membersihkan benih sebelum ditebar ke kolam. Benih yang telah diperoleh terlebih dahulu disucihamakan sebelum ditebar ke dalam kolam terpal dengan menggunakan larutan kalium permanganat (PK) sebanyak 4 mg/liter air selama 30 menit atau bisa juga direndam dalam air garam dapur sebanyak 10 g/liter air selama 15—30 menit.

  • Meningkatkan Kekebalan Ikan

Teknik lain untuk mencegah serangan penyakit pada ikan adalah meningkatkan kekebalan (imunitas) ikan. Salah satu caranya adalah melakukan imunisasi, yaitu penyuntikan antibodi ke tubuh ikan untuk mendapatkan kekebalan (imun) terhadap infeksi penyakit. Peningkatan kekebalan tubuh ikan juga dapat dilakukan dengan vaksinasi, yaitu menyuntikkan vaksin tertentu ke tubuh ikan. Selain penyuntikan, pemberian vaksin juga dapat dilakukan dengan teknik perendaman, pencelupan, penyemprotan, atau melalui pakan.

Vaksin adalah suatu antigen yang digunakan untuk memvaksinasi ikan,yang terbuat dan organisme penyakit yang telah dilemahkan dengan menggunakan senyawa kimia tertentu. Jenis vaksin yang dapat digunakan misalnya Septicaemia haemorrhagica, yang memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit bercak merah yang disebabkan oleh bakteri Aeromonas hydrophila. Caranya, benih ikan direndam dalam larutan vaksin selama 30 menit dengan dosis 1 ml vaksin dicampur dalam 10 liter air untuk 150 ekor benih. Vaksinasi ini mampu memberikan kekebalan ikan selama 4 bulan dengan masa inkubasi 15 hari.

Kekebalan ikan juga dapat ditingkatkan dengan penggunaan vitamin C dosis 250-500 mg/kg berat tubuh selama beberapa hari. Bisa juga menggunakan probiotik sebagai imunostimulan misalnya lipo polisakanida 10 mg/l untuk mempertahankan stamina ikan. Pada musim kemarau, petani ikan di Jawa Tengah dan Yogyakarta menggunakan probiotik dan molases seminggu sekali untuk meningkatkan kekebalan ikan. Probiotik dan molases diencerkan, kemudian disemprotkan ke pakan sebelum diberikan kepada ikan budi daya.

2.Penyakit Non-infeksi

Penyakit non-infeksi (penyakit non-parasiter) adalah penyakit yang disebabkan oleh bukan organisme infektif, sehingga tidak menyebabkan infeksi dan tidak menular. Penyakit non-infeksi atau non-parasiter berdasarkan sumber dan penyebabnya antara lain:

 

Penyebab penyakitDampak pada ikanPenanggulangan
Menurunnya kualitas airStres, keracunanPerbaikan kualitas air, meningkatkan kekebalan ikan, ikan dievakuasi, bila memungkinkan segera dilakukan pemanenan
PakanPertumbuhan lambat, mudah terserang penyakit infeksiPemberian pakan bergizi, cukup, tepat waktu dan tidak beracun
KeracunanStres, kematianPerbaikan kualitas air, pemberian pakan yang tidak beracun, dievakuasi
TurunanKerdil, organ tidak lengkap, sulit bersaing dengan ikan-ikan normalMenggunakan induk berkualitas, menebar benih yang berkualitas
IklimStres, mudah terserang penyakitPerbaikan kualitas air, meningkatkan kekebalan ikan, evakuasi, mempercepat pemanenan

 

3. Penyakit Infeksi

Penyakit infeksi atau penyakit parasiter disebabkan oleh organisme infeksi (penyebab infeksi) seperti jamur, virus, bakteri dan parasit. Karena bersifat infeksi, maka penyakit ini menular dalam waktu cepat bila kondisi perairan memungkinkan. Namun sampai saat ini belum ada laporan dari pembudi daya mengenai penyakit spesifik yang menyerang ikan BAT. Yang mengkhawatirkan adalah jika BAT mempunyai penyakit spesifik yang merupakan “penyakit impor”, yang berasal dan tempat lain dan masuk bersama ikan tersebut, kemudian menginfeksi ikan spesies lain. Akan tetapi, sejauh mi belum ada laporan mengenai penyakit yang menyerang ikan BAT, termasuk penyakit spesifik atau “penyakit impor”.

Berikut ini dikemukakan beberapa penyakit infeksi yang dikenal umum menyerang ikan air tawar. Penyakit penyakit ini sebelumnya juga tidak menginfeksi ikan-ikan budi daya, terutama ikan-ikan yang dikenal unggul, misalnya ikan mas (Cyprinus carpio), lele dumbo (Clarias gariepinus), dan nila (Oreochromis nilotica). Sekalipun demikian, ikan-ikan yang dikenal unggul pun tidak bisa menghindar dan serangan penyakit.

a.Parasit

Parasit yang telah diketahui menyerang ikan-ikan budi daya di air tawar antara lain sebagai berikut.

  • Penyakit Bintik Putih

Penyakit bintik putih atau white spot disebabkan oleh jenis protozoa Ichthyophthirius multifihlis. Oleh karena itu, penyakit yang ditimbulkannya disebut Ichthyophthiriasis. Ikan yang terserang menjadi malas berenang dan cenderung mengapung di permukaan air. Terlihat adanya bintik-bintik putih, terutama di bagian sirip, tutup insang, permukaan tubuh, dan ekor.

Cara menanggulanginya antara lain ikan diberok dalam air mengalir, mengurangi padat penebaran, dan pemberian pakan yang cukup. Parasit yang menempel pada tubuh ikan dapat dirontokkan dengan menaikkan suhu air di atas 28 OC. Pengobatan dapat dilakukan dengan perendaman dalam larutan yang mengandung formalin 25 cc/m3 ditambah malachite green oxalat 15 gram/m3 selama 24 jam atau NaC1 10-15 gram!l selama 20 menit. Bisa juga menggunakan formalin 25 ppm dan diulang 3 kali selama beberapa hari atau pencelupan dengan dosis 200 ppm selama 15 menit untuk 14 hari. Setelah pengobatan, ikan dikembalikan ke dalam air yang segar. Bisa juga menggunakan malachite green 0,5 ppm selama 6—24 jam, atau larutkan 2—4 cc larutan baku (konsentrasi 1 persen) methylene blue ke dalam 4 liter air bersih dan rendam ikan yang sakit selama 24 jam. Obat lain yang juga terbukti cukup efektif untuk memberantas I. multifiliis adalah larutan kina (1 gram per 20 liter air). Caranya adalah dengan merendam ikan yang sakit selama beberapa han dalam larutan tersebut.

  • Penyakit Gatal

Penyakit gatal atau motal disebabkan oleh parasit Trichodina sp., sehingga penyakitnya sering disebut trichodiniasis. Ikan yang terserang penyakit ini menunjukkan gejala-gejala berikut:

  • terdapat bintik-bintik putih terutama di bagian kepala dan punggung.
  • nafsu makan ikan hilang.
  • ikan menjadi sangat lemah.
  • produksi lendir bertambah sehingga ikan tampak mengilat, pada tubuh bagian luar sering dijumpai perdarahan.
  • warna tubuh ikan kusam.
  • ikan sering terlihat menggosok-gosokkan tubuhnya pada dasar atau dinding kolam serta benda-benda keras lain di sekitarnya.
  • ikan menunjukkan tanda-tanda “flashing” dan kerusakan pada kulit sering disertai infeksi sekunder.

Parasit ini ditanggulangi dengan cara padat penebaran tidak terlalu tinggi, air yang masuk ke kolam harus melalui penyaringan dan menjaga kebersihan wadah budi daya. Sementara ikan yang terinfeksi diobati dengan merendam ikan dalam larutan formalin 40 ppm selama 24 jam, 150—250 ppm selama 15 menit atau 15 ppm selama lebih dan 24 jam. Bisa juga menggunakan malachite green 0,1 gram/m3 selama 24 jam, atau campuran 0,1 ppm malachite green dengan 25 ppm formalin untuk perendaman yang diulang 3 kali selama. 2 minggu. Ikan juga dapat direndam dalam larutan garam 30 ppm, larutan asam asetat 1:500 atau formalin 15 ppm sampai ikan sembuh.

  • Lerneasis

Penyakit lerneasis disebabkan oleh parasit Lernea sp. Jenis lernea yang banyak ditemukan menyerang ikan air tawar adalah Lernea cyprinacea, yaitu sejenis udang renik yang berbentuk bulat panjang seperti cacing. Pada bagian kepalanya terdapat organ yang menyerupai jangkar, sehingga organisme ini dikenal dengan sebutan Cacing jangkar (anchor worm). Dengan perantaraan organ ini cacing jangkar menempelkan dirinya ke tubuh ikan.

Ikan yang terserang parasit ini mengalami luka pada tubuhnya dan terlihat dengan jelas cacing jangkar menempel dengan kuat (menyerupai panah yang menusuk) di bagian badan, sirip, insang dan mata. Urat daging ikan menjadi hyperaemic dan berigkak, sisik terkelupas dan nekrosis pada bagian tersebut, berat tubuh ikan turun, monocyt dan polymorphonucleus bertambah banyak, perkembangan gonad ikan dewasa terhambat, terdapat borok (ulcer) dan ikan terlihat mengalami kesulitan bernapas. Sering terjadi infeksi sekunder oleh jamur dan lumut di luka tempat parasit melekat.

Penanggulangan cacing jangkar dilakukan dengan mengeringkan kolam, menyaring air sebelum dialirkan ke kolam atau menggunakan bahan kimia untuk membasminya. Benih ikan yang terinfeksi dalam stadium awal dapat diobati dengan larutan formalin 25 cc/m3 selama 15 menit. Atau, perendaman dengan dylox sebanyak 20 ppm selama 15 menit, dapat juga dipakai dengan cara menambahkannya pada makanan sebesar 0,25 %. Juga dapat dilakukan penyemprotan dengan dipterex (dylox, chloroplas, foschlor, neguvon dan masoten), yaitu secara langsung disemprotkan pada permukaan air dengan konsentrasi 0,25—0,50 ppm dan 1,00 ppm bila suhu mencapai 29 derajat celicius. Penyemprotan dilakukan berulang kali setelah 9 hari (25 derajat celicius), 7 hari (30 derajat celicius) dan 5 hari (35 derajat celicius). Penyemprotan juga dilakukan dengan menggunakan larutan dipterex 95 SP atau agrothio 50 EC, dan sumithion 50 EC 10 ppm.

  • Myxosporeasis

Penyakit myxosporeasis disebabkan oleh beberapa jenis parasit, seperti Myobolus spp., Myxcosoma spp., Thelohanellus spp., dan Henneguya sp.. Gejala ikan yang terserang penyakit ini berupa timbulnya bintik kemerah-merahan yang sebenarnya bintik-bintik itu adalah ribuan spora. Bintik-bintik menyebabkan insang ikan selalu terbuka. Pada insang ikan terdapat benjolan seperti tumor, sehingga terjadi gangguan pada sirkulasi pernapasan, nekrosis, serta penurunan fungsi organ pernapasan.

Hingga kini belum ditemukan obat yang efektif untuk menanggulanginya. Oleh karena itu, pencegahan dengan menjaga kondisi ikan dan perawatan serta persiapan wadah budi daya yang baik adalah cara untuk menghindarkan ikan dan serangan parasit ini.

  • Dactylogiriasis

Penyakit dactylogiriasis disebabkan oleh cacing Dactylogyrus sp.. Cacing ini mempunyai alat yang berftingsi sebagai pengait dan pengisap darah. Parasit ini lebih suka menyerang insang ikan. Ikan yang diserang biasanya menjadi kurus dan kulitnya tidak kelihatan bening lagi. Kulit juga terlihat pucat, terlihat bintik-bintik merah di bagian tubuh tertentu, produksi lendir tidak normal dan sebagian atau seluruh tubuh ikan berwarna lebih gelap, penurunan chromatophor, sisik dan kulit terkelupas, proses respirasi dan osmoregulasi terganggu (ikan kelihatan megap-megap seperti kekurangan oksigen), sel darah putih berlebihan, ikan terlihat menggosok-gosokkan tubuhnya pada dasar atau dinding kolam serta benda-benda keras di sekelilingnya.

Ikan yang diserang parasit ini cliobati dengan perendaman dalam larutan garam dapur (NaC1) 12,5—13 gram/m3 selama 24—36 jam atau NaC1 2 % selama 30 menit. Atau, di dalam larutan formalin 40 ppm selama 24 jam atau 250 ppm selama 15 menit, dalam methylene blue 3 gram/m3 selama 24 jam atau KMnO4 0,01 ppm selama 30 menit.

Perendaman juga dapat dilakukan pada larutan ammonium 1:2000 selama 5—15 menit. Cara membuat larutan ammonium 1:2000 adalah dengan mencampurkan 10 bagian ammonium ke dalam 90 bagian air bersih.

Selanjutnya 5 cm kubik larutan ini dicampurkan ke dalam I liter air sehingga berbentuk larutan 1:2000. Ikan juga dapat direndam dalam PK 4—5 mg/liter, larutan bromex (dimetil 1 ,2-dibromo-2,2-dichloro-ethilposphat) 0,1—0,2 ppm atau perendaman dalam larutan neguvon 2— 3,5 % selama 15 detik atau 1 % selama 2—3 menit.

  • Gyrodactyliasis

Penyakit gyrodactyliasis disebabkan oleh parasit Gyrodactylus sp. Parasit cacing ini hampir sama dengan cacing Dactylogyrus sp. Ikan yang diserang cacing ini menampakkan gejala-gejala seperti diserang penyakit dactylogiriasis. Pengobatannya sama seperti pengobatan ikan yang diserang dactylogyriasis.

  • Penyakit Kutu Ikan

Penyakit kutu ikan disebabkan oleh parasit Argulus sp., penyakitnya sering dinamakan argulosis. Sebagai kutu, argulus menggigit ikan dengan rahang, kemudian melepaskan sengat pada luka gigitan agar tidak terjadi pembekuan darah. Efek dan penempelan, gigitan dan racun yang diinjeksikan menyebabkan ikan mengalami iritasi, kehilangan keseimbangan, melompat-lompat keluar dan air, ikan terlihat sangat kurus bahkan dapat mati karena disengat dan dihisap darahnya, produksi mucus berlebihan, sisik terkuak dan kadang-kadang lepas, muncul titik-titik darah pada kulit di sekitar bekas gigitan parasit, rongga tubuh berisi cairan kekuningan, kulit ikan pecah dan borok serta ikan menggosok-gosokkan badannya pada benda-benda keras disekitarnya.

Penanggulangan penyakit argulosis dapat dilakukan secara mekanis atau dengan sikat yang halus. Tetapi cara ini dapat dilakukan bila ikan yang diserang jumlahnya sedikit. Bila jumlahnya besar, perlu dilakukan perendaman dengan larutan KMnO4 dosis 10 ppm selama 30 menit, 100 ppm selama 5—10 menit, 500 ppm selama kurang lebih 5 menit atau 1000 ppm selama 30—45 detik. Atau, digunakan NaC1 1,0—1,5 % selama 15 menit, 20 gram/liter selama 15 menit. Bahan lain yang dapat digunakan adalah formalin 250 ppm selama 1 jam, asam asetat glasial 1000 ppm selama 5 menit, ammonium khlorida dengan dosis 500 ppm selama kurang lebih 24 jam, 1000 ppm selama 4 jam, atau 2000 ppm selama 30 menit. Demikian pula dengan perendaman ikan sakit dalam larutan bromex 0,1—0,2 ppm, lindane 0,01—0,02 ppm dan neguvon 1 gram/liter air.

  • Ergasiosis

Penyakit ergasilosis disebabkan oleh parasit Ergasilus sp. Serangan parasit ini menimbulkan anemia pada ikan, menghambat pertumbuhan ikan dan ikan mengalami kesulitan bernapas. Karena bersifat ektoparasit yang menempel pada insang, anus, kulit, dan sirip ikan maka parasit ini menghisap darah ikan serta merusak sel-selena bersifat ektoparasit yang epithel.

Hingga ini belum ditemukan obat yang cocok untuk memberantas parasit ini Tetapi, dianjurkan untuk menggunakan kapur tohor (CaO) dengan dosis 250 ppm. Caranya, ikan yang diserang direndam selama 30—60 menit dan diulang 3 kali dalam slang waktu 3 hari. Dapat pula menggunakan NaC1 3 gram/100 cc air untuk merendam ikan selama 3—5 menit. Perlakuan ini membuahkan hasil bila serangan penyakit baru pada tahap awal.

  • Clinostonumiosis

Penyakit clinostonumiosis disebabkan oleh parasit Clynostonum sp. Parasit ini tergolong cacing yang menyerang kepala, mata, operkulum dan bagian sebelah dalam otak serta perbatasan kedua operkulum ikan. Tempat yang diserang parasit berbentuk gondok dan mengakibatkan pertumbuhan ikan terhambat.

Hingga kini belum ditemukan obat yang cocok untuk menanggulanginya. Tetapi, petani ikan di Purwokerto, Jawa Tengah, mengobati ikan dengan cara mengoperasi bagian tubuh ikan yang diserang penyakit dengan menggunakan peniti dan mengeluarkan cacingnya.

  • Penyakit Cacing Darah

Penyakit cacing darah disebabkan oleh cacing darah jenis Sanguinicola inermis. Cacing ini menyebabkan pembekuan darah dan tersumbatnya pembuluh kapiler insang yang diakibatkan oleh telur-telur cacing. Jika populasi cacing yang menyerang ikan berjumlah besar, maka ikan mengalami pendarahan, nekrosis, dan akhirnya mati. Hingga kini belum ditemukan obat yang cocok untuk menanggulanginya. Cara yang efektif untuk mencegah serangan cacing ini adalah dengan memberantas siput (keong) di kolam yang merupakan inang perantaranya.

b. Bakteri

Bakteri yang diketahui menyerang ikan-ikan budi daya air tawar antara lain adalah sebagai berikut.

  • Penyakit Bercak Merah

Penyakit bercak merah atau septicemia haemorrhagica disebabkan oleh bakteri Aeromonas sp.. Ikan yang diserang menunjukkan gejala-gejala berikut: warna tubuh ikan menjadi gelap, kemampuan berenang ikan menurun, mata ikan rusak dan agak menonjol, sisik terkelupas, seluruh siripnya rusak, insang berwarna merah keputihan, ikan terlihat megap-megap di permukaan air, insang ikan rusak sehingga kesulitan bernapas, kulit menjadi kasat dan timbul pendarahan yang selanjutnya diikuti dengan luka-luka borok, perut ikan kembung, dan apabila dilakukan pembedahan maka akan kelihatan pendarahan pada hati, ginjal, dan limfa. Penanggulangan bakteri ini dapat dilakukan dengan perendaman, penyuntikan dan dicampur dengan pakan. Perendaman dilakukan dalam larutan kalium permanganat (PK) 10—20 ppm selama 30—60 menit atau 3—5 ppm selama 12—24 jam, larutan nitrofuran 5—10 ppm selama 12—24 jam, oxytetracycline 5 ppm selama 24 jam, Imequil 5 ppm selama 24 jam, Baytril 5—8 m3 untuk waktu yang tidak terbatas. Perendaman dengan vaksin hydrovet (1 ml vaksin + 10 ml air) untuk 100 ekor benih ikan selama 30 menit. Air bekas rendaman dibuang ke tempat kering dan tidak boleh mencemari perairan umum.

Sedangkan penanggulangan dengan cara penyuntikan dilakukan dengan menggunakan oxytetracycline 20—40 mg/kg ikan, kanamycine 20—40 mg/kg ikan atau streptomycine 20—60 mg/kg ikan. Penyuntikan dilakukan secara intra peritonea] atau intra muscular. Untuk perlakuan pakan, ikan diberi pakan pelet yang dicampur oxytetracycline 50 mg/kg ikan yang diberikan setiap hari selama 7—10 han berturut-turut. Ikan yang diobati dengan antibiotik baru dapat dikonsumsi dua minggu setelah pengobatan.

  • Columnaris

Penyakit columnaris disebabkan oleh bakteri Flexibacter columnaris. Ikan yang diserang bakteri ini menampakkan gejala-gejala berikut: ikan kehilangan nafsu makan, bintik-bintik putih terlihat pada bagian yang terinfeksi, kemudian menjadi merah karena pendarahan. Infeksi ini terlihat pada kulit kepala, kulit badan bagian belakang, insang, sirip dan dapat pula di bagian badan lainnya. Insang dan sirip menjadi rontok.

Ikan yang terserang bakteri mi direndam dalam oxytetracycline 10 ppm selama 24 jam atau baytril 8—10 cc/m3 air selama 24 jam. Bisa juga direndam dalam malachite green 1:50.000 selama 10—30 detik, CuSO4 500 ppm selama 1—2 menit atau chioromycetine 5—10 ppm selama 1—2 menit. Dapat juga melalui perlakuan pakan dengan memakai oxytetracycline 75 mg/lcg ikan/hari.

  • Edwardsilosis

Penyakit edwardsilosis disebabkan oleh bakteri Edwardsiella tarda. Ikan yang diserang menunjukkan gejala-gejala berikut: terjadi luka-luka kecil di kulit kemudian meluas ke daerah daging, sehingga dengan cepat terjadi pendarahan. Luka-luka tersebut kemudian berkembang menjadi bisul dan mengeluarkan nanah (abses). Luka sering pula dijumpai pada hati ikan.

Ikan yang sakit diobati dengan menyuntikkan oxytetracycline HC1 dengan konsentrasi 25—30 mg/kg ikan. Atau, melalui pemberian pakan dengan menggunakan sulfamerazine sebanyak 100—200 mg/kg ikan/hari sampai hari ketiga, atau oxytetracycline HCI dengan dosis 50 mg/kg ikan/hari yang diberikan selama 7 hari.

  • Vibriosis

Penyakit vibriosis disebabkan oleh bakteri Vibrio sp. Ikan yang diserang menunjukkan gejala-gejala: ikan kehilangan nafsu makan (anorexia), kulit ikan menjadi gelap, insang ikan pucat, sering terjadi pembengkakan pada kulit yang lama-kelamaan pecah menjadi luka (bisul) dan mengeluarkan cairan berwarna kuning kemerah-merahan, terjadi pendarahan pada dinding perut dan permukaan jantung, dan jika dilakukan pembedahan akan terlihat pembengkakan dan kerusakan pada jaringan hati, ginjal, dan limpa.

Ikan yang sakit diobati dengan menyuntikkan oxytetracycline HC1 25—30 mg/kg ikan yang diulang tiap 3 hari sekali. Ulangan dilakukan sebanyak 3 kali. Dapat juga melalui perlakuan pakan dengan oxytetracycline HC1 sebanyak 50 mg/kg ikan/hari yang diberikan selama 7—10 hari berturut-turut.

  • Tuberculosis

Penyakit tuberculosis disebakan oleh bakteri dan famili Mycobacteriacea. Dua spesies yang dikenal adalah Mycobacterium marinum dan M.fortoitum. Ikan yang diserang menunjukkan gejala-gejala: tubuh ikan menjadi berwarna gelap, perut ikan membengkak, jika perut ikan dibedah maka akan kelihatan bintil-bintil (tubercie) terutama pada hati, ginjal, dan limpa. Bintil-bintil itulah yang membuat penyakit ini dinamakan tuberculosis.

Hingga kini belum ditemukan obat yang cocok untuk menanggulanginya. Oleh karena itu, menjaga kualitas air dianggap cara terbaik untuk mencegah serangan bakteri ini. Ikan yang mati terinfeksi bakteri ini harus segera dimusnahkan. Beberapa obat yang pernah dicobakan dan berhasil, terutama pada ikan-ikan yang barn diserang, adalah penyuntikan dengan kanamycine 0,02 mg/gr ikan ke bagian perutnya. Cara lain adalah penyuntikan dengan streptomycine 0,01—0,02 mg/gr ikan atau merendam ikan ke dalam larutan streptomycine 10 mg/liter air.

  • Penyakit Ginjal

Penyakit ginjal disebabkan oleh bakteri Corynebacteriurn sp. aau biasa disebut bacterial kidney disease. Gejala-gejala pada ikan yang diserang dikenali dan: warna tubuh ikan menjadi gelap, kadang-kadang matanya me-nonjol keluar (exophthamus), kadang-kadang ditemukan benjolan di samping tubuh ikan, pada pangkal sirip dada sering dijumpai bercak-bercak darah, dan jika ikan dibedah akan dijumpai luka pada bagian ginjal dan hati.

Penanggulangannya hanya dapat dilakukan pada periode awal penyerangan, yaitu dengan menggunakan suiphonamid dengan dosis 100—200 mg/kg ikanlhari yang diberikan sampai han keempat berturut-turut. Ikan yang tidak bisa disembuhkan segera dimusnahkan dengan cara dikubur atau dibakar.

  • Penyakit Cacar

Penyakit cacar pada ikan disebabkan oleh bakteri Pseudomonas sp. dan Micrococcus sp. Gejala-gejalanya berupa ikan terlihat lemah, nafsu makan hilang, mata menonjol dan seringkali lepas, kulit kelihatan melepuh yang selanjutnya menjadi borok.

Ikan yang diserang cacar diobati dengan merendamnya ke dalam oxytetracycline 10 ppm selama 24 jam atau kalium permanganat (PK) 10—20 ppm selama 30—60 menit.

  • Furunculosis

Penyakit furunculosis disebabkan oleh bakteri Aeromonas salmonicida. Ikan yang diserang bakteri ini menampakkan gejala-gejala: ikan kehilangan nafsu makan, kulit ikan melepuh, insang terlihat pucat, mata menonjol dan terjadi pendarahan pada kulit dan insang. Bila dibedah maka pada organ-organ dalam seperti usus, ginjal, hati, dan limpa terlihat mengalami pendarahan.

Ikan yang sakit diobati dengan memberikan pakan yang telah dicampur 12 gram sulfamerazine +6 gram sulfaquanidine untuk setiap 45,4 kg pakan/hari. Furazolidone juga dapat digunakan untuk mengobati ikan yang terserang penyakit furunculosis dengan cara mencampurkannya ke dalam pakan sebanyak 25—75 mg/kg berat ikan setiap harinya. Bisa juga digunakan oxytetracycline dan Chioramycine (Chioramphenicol) dengan mencampurkannya ke dalam pakan sebanyak 1 gram/kg pakan dan diberikan selama 10 han berturut-turut.

  • Penyakit Bisul

Penyakit bisul disebabkan oleh bakteri Pseudomonas flourescens. Ikan yang diserang menunjukkan gejalagejala: mempunyai bisul terutama pada sirip, kulit, rongga perut dan organ-organ dalam. Bakteri ini menyebabkan anemia dan kematian massal. Penyakit bisul yang disebabkan oleh bakteri mi juga biasa disebut hemmorhagica septicemia.

Hingga saat ini belum ditemukan obat yang cocok untuk memberantas penyakit ini. Tetapi, pemberian oxytetracycline 20—40 mg/kg ikan atau streptomycine 20—60 mg/kg ikan melalui penyuntikan serta oxytetracycline 50 mg/kg ikan yang dicampur dengan pakan dan diberikan setiap han selama 10 han berturut-turut dianggap membantu, terutama pada periode awal serangan bakteri.

  • Streptococcosis

Penyakit streptococcosis disebabkan oleh bakteri Streptococcus inae. Ikan yang diserang bakteri ini menunjukkan gejal-gejala:bisul pada sirip, kulit, rongga perut dan organ dalam. Sebuah penelitian tahun 2002 menunjukkan bahwa ikan nila (Oreochromis nilotica) sangat rentan terhadap infeksi panyakit bakterial antara lain akibat infeksi bakteri Streptococcus inae. Prevalensi tertinggi dari streptococciasis terdapat di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Sedangkan penyebaran penyakit ini telah meliputi: Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, dan Yogyakarta. Level infeksinya bervariasi, bergantung pada tingkat budi dayanya. Penyakit ini di luar negeri telah banyak mengakibatkan kerugian berupa kematian baik pada ikan nila benih maupun ikan nila ukuran konsumsi. Kematian yang diakibatkan oleh penyakit tersebut dapat mencapai lebih dan 75 % (Parera et al., 1994).

Pada manajemen budi daya yang kurang baik, penyakit streptococcosis dapat mengakibatkan kematian massal hingga mencapai 100 %, terutama pada saat cuaca berubah secara drastis, dan panas ke hujan maupun sebaliknya. Waktu yang dibutuhkan oleh bakteri Streptococcus sp. untuk menginfeksi ikan rata-rata 7-14 hari. Bakteri Streptococcus sp. masuk ke dalam tubuh ikan melalui infeksi sistem pencernaan. Gejala ditandai dengan penampakan perut ikan yang terlihat agak kembung. Selanjutnya, bakteri akan masuk ke dalam darah dan menyebar ke seluruh tubuh. Cara pengobatan ikan yang diserang penyakit streptococcosis sama dengan pengobatan penyakit bisul.

C. Jamur

Penyakit ikan yang disebabkan oleh jamur antara lain sebagai berikut.

  • Saprolegniasis

Penyakit saprolegniasis disebabkan oleh jamur Saprolegnia sp. Jamur ini menyerang ikan dan telur ikan. Sifat penyerangan merupakan infeksi sekunder. Ikan dan telur ikan yang diserang jamur ini diketahui dengan mudah, sebab terlihat bagian organ atau telur yang terserang ditumbuhi oleh sekumpulan mycelium jamur yang menyerupai gumpalan benang-benang halus (hve) yang tampak seperti kapas. Gumpalan benang ini biasanya terlihat di bagian kepala, tutup insang, atau di sekitar sirip. Sedangkan telur ikan yang diserang terlihat seperti kapur.

Ikan yang diserang jamur ini diobati dengan merendam ikan dalam larutan malachite green oxalat 1 ppm selama 1 jam atau 0,15—0,70 ppm selama 24 jam, formalin 100—200 ppm selama 1—3 jam, NaC1 20 ppm selama 1 jam atau 5 % selama 1—2 detik atau 1—1,5 % selama 20—30 menit. Obat lain yang dapat digunakan adalah malachite green 5 ppm selama 1 jam atau 66,7 ppm selama 10—30 detik, formalin 100 ppm + malachite green 2,5 ppm 1 jam. Ikan yang sakit juga dapat dicelupkan ke dalam larutan aceticacid 5 % selama 30—60 detik.

Telur yang telah diserang jamur biasanya tidak menetas dengan baik. Oleh karenanya, perlu dilakukan upaya pencegahan dengan cara merendam telur ikan yang hendak ditetaskan ke dalam ovadine atau betadine dosis 100—200 ppm selama 10—15 menit. Bisa juga menggunakan formalin atau cooper sulfate dosis 150—250 ppm selama 15 menit.

  • Brachiomycosis

Penyakit brachiomycosis disebabkan oleh jamur Brachyomyces sangunis yang banyak dijumpai pada saluran darah ikan dan sering menyebabkan nekrosis di sekitar jaringan. Ikan yang diserang jamur ini diobati dengan malachite green 0,1 mg/liter atau 0,3 mg/liter selama 12 jam melalui perendaman. Bisa juga direndam dalam larutan formalin 15—25 mi/liter.

  • Achlyasis

Penyakit achiyasis disebabkan oieh jamur Achlya sp. Jamur ini menyerang organ-organ eksternai ikan seperti kulit, sirip, dan insang ikan. Seperti Saproiegnia, serangan Achlya diketahui dengan mudah sebab organ ikan yang diserang ditumbuhi sekumpulan benang haius yang tampak seperti kapas.

Ikan yang diserang jamur ini diobati dengan merendam ikan sakit dalam larutan formalin 100—200 ppm selama 1—3 jam, formaiin 100 ppm + malachite green 2,5 ppm selama 1 jam. Atau, malachite green 1:200.000 selama 30 menit, pottasium permanganat 1:100.000 selama 90 menit atau pottasium bichromate 1:25.000 selama 1 minggu.

d. Virus

Virus adaiah organisme penyebab dan sumber penyakit yang sangat kecil, karena memiliki ukuran tubuh antara 200—300 nanometer, sehingga hanya dapat diiihat dengan menggunakan mikroskop elektron. Virus mempunyai struktur tubuh yang sederhana dan tidak mempunyai organ pencernaan sendiri, sehingga kebutuhan pakan untuk memperbanyak dirinya bergantung sepenuhnya pada organ pencernaan dan tubuh inangnya.

Usaha untuk memperbanyak dirinya dimulai dengan masuknya virus ke dalam sel inang. Pada saat itu asam nukleat dan virus (RNA dan DNA) akan mengendalikan V organ pencernaan dan sel inang untuk segera memproduksi asam nukleat sesuai dengan kebutuhan virus tersebut. Selain itu, virus juga akan “memerintahkan” pembentukan protein baru yang mempunyai sifat khas untuk membunuh organisme lain atau digunakan sebagai bungkus pelindung bagi asam nukleat virus. Protein pembungkus asam nukleat virus ini biasanya disebut capsid, yang bentuknya bervariasi dan satu virus ke virus Iainnya.

Virus dikiasifikasikan ke dalam kelompok-kelompok menurut morfologi, jenis asam nukleat, pilihan tunggal atau dobel, berat molekul, kepekaan terhadap bahan kimia. Virus patogen pada ikan kebanyakan merupakan rhabdo virus (virus bentuk peluru).

Gejala umum penyakft akibat serangan virus adalah pendarahan (hemoragik) pada berbagai organ (termasuk kulit), perut menggembung, eksoptalmia dan kulit pucat gelap pada bagian-bagian tertentu (gangguan sistem saraf vegetatif). Aktivitas serangan virus bersifat akut, menghasilkan kerusakan jaringan cukup luas dan dapat menyebabkan kematian dalam waktu singkat. Infeksi virus sering diikuti dengan infeksi sekunder oleh bakteri, sehingga tubuh ikan menjadi sangat lemah dan penyakit yang menyebabkannya sulit diidentifikasi.

Infeksi virus bisa tersebar secara horizontal dan atau vertikal. Infeksi horizontal yaitu dan satu ikan ke ikan yang lain dalam satu generasi. Sedangkan infeksi vertikal yaitu dan satu generasi ke generasi berikutnya dengan melalui telur-telur atau sperma yang terinfeksi.

Jenis viral/virus yang telah teridentifikasi menyerang ikan budi daya adalah iridovirus/DNA. Penyakit yang ditimbulkannya disebut lymphocystis. Virus ini umumnya menyerang ikan yang hidup di perairan payau dan laut. Akan tetapi, pada beberapa jenis ikan air tawar, baik ikan hias maupun ikan konsumsi, virus ini juga dijumpai, meskipun aktivitas serangannya relatif tidak berbahaya dibandingkan dengan pada kondisi lingkungan asin (lam dan payau).

Virus ini menyebabkan hypertrophy (penebalan) dan sel-sel jaringan ikan, menimbulkan tonjolan pada daerah sirip atau kulit (nodul) yang dapat terjadi secara satus atu atau mengelompok. Hingga kini belum ditemukan obat yang efektif untuk mengatasi virus lymphocystis, sehingga ikan yang terserang penyakit ini sebaiknya dimusnahkan agar tidak menular ke ikan lainnya. Tindakan pencegahan dengan menjaga kondisi kualitas air dan kesehatan ikan dianggap tindakan yang lebih baik dan bijak.

Bagikan Artikel Ini Ke Teman Anda.

Facebook Twitter Google+

Tentang Penulis

Penulis banyudadi
Diposkan oleh :

Banyudadi adalah penyedia dan penyalur benih ikan air tawar, seperti: Gurame, Lele, Nila, Bawal, Patin, Ikan mas, Graskap, Tawes, Nilem, Gabus dan juga beberapa jenis ikan hias seperti: Koi, cupang, Komet, dll yang dihasilkan dari produksi para kelompok-kelompok petani perikanan yang terdaftar di Dinas Perikanan Prop. DI. Yogyakarta maupun Dinas Perikanan se-Kab. di DI. Yogyakarta.

Baca Juga Artikel Ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.