Penanganan Hasil Panen Ikan Bawal

Setelah pemanenan, langkah selanjutnya adalah penanganan hasil. Penanganan hasil harus disesuaikan dengan jarak dan waktu tempuh dalam mengangkut ikan-ikan ke konsumen. Hal ini penting untuk menjaga ikan tetap hidup atau tetap segar hingga diterima konsumen.

1. Penanganan Ikan Hidup

Harga ikan BAT hidup lebih mahal dibandingkan dengan BAT yang sudah mati walaupun masih segar. Biasanya dapat mencapai dua kali lipat harga ikan mati yang masih segar. Oleh karena itu, pemanenan dan penanganan hasil harus hati-hati, sehingga BAT tetap hidup hingga sampai ke tangan konsumen.

BAT yang ham dipanen dimasukkan ke dalam wadah yang berisi air segar. Selanjutnya ikan-ikan yang hendak diangkut harus menggunakan wadah yang memenuhi syarat agar ikan tetap hidup. Ikan hidup diangkut dengan menggunakan wadah berupa kantong plastik, seperti pengangkutan benih dan atau wadah terbuka dengan bak, tong, tanki atau wadah
lainnya.

Permasalahan yang dihadapi dalam pengangkutan ikan hidup adalah stres. Ikan yang stres mudah mengalami kematian. Untuk mengurangi stres maka diusahakan agar selama pengangkutan ikan melakukan gerakan seminimal mungkin. Caranya adalah dengan menurunkan suhu air angkut atau memberikan obat bius pada ikan. Penggunaan obat bius dapat diterapkan wadah terbuka atau tertutup. Obat bius yang digunakan misalnya phenoxyethanol dengan dosis 0,15 mg/liter air media (Tabel 8.1) atau minyak cengkeh dosis 10—20 ppm. Ikan dengan bobot 200—300 g dapat diangkut dengan kepadatan 30 ekor/lO liter air selama 6 perjalanan.

Penurunan suhu air media sampai 18 oc sudah dapat meredam aktivitas gerak ikan. Penurunan suhu media harus dilakukan secara berangsur-angsur agar ikan dapat menyesuaikan din secara biologis. Bahan penurun suhu air yang umum digunakan yaitu es dan nitrogen cair. Penggunaan obat bius dalam pengangkutan ikan hidup hams hati-hati agar tidak menimbulkan dampak negatif bagi ikan, lingkungan, dan manusia. Perhatian khusus ditekankan pada jenis, dosis dan cara penyimpanan obat bius yang dipakai, ukuran ikan serta limbah dan efek residunya pada ikan.

2. Penanganan Ikan Segar

Ikan BAT yang telah mati hams dijaga agar tetap segar hingga sampai di tangan konsumen. BAT yang telah mati sangat cepat mengalami penurunan mutu. Kerusakan daging ikan setelah mati disebabkan oleh:

  • Adanya enzim dalam tubuh ikan yang menyebabkan daging ikan menjadi busuk. Kerusakan yang disebabkan oleh kegiatan enzim ini disebut otolisis.
  • Adanya bakteri pembusuk dan luar tubuh ikan yang masuk ke dalam jaringan tubuh ikan mati dan menghancurkannya, dan
  • Adanya proses kimia di dalam jaringan tubuh yang mulai busuk karena proses otolisis.

Ketiga penyebab proses pembusukan tersebut dapat berjalan bersama-sama, tumpang-tindih atau saling memperkuat. Proses pembusukan akan semakin cepat bila suhu semakin tinggi. Proses pembusukan ikan dapat dihambat bila suhu didinginkan sampai 0 derajat c atau lebih rendah lagi.

Kesegaran ikan dapat dipertahankan dnegan menerapkan prinsip rantai dingin. Artinya, setelah ikan dipanen dan telah mati, ikan harus selalu dicampur es. Jumlah es yang digunakan bergantung pada waktu yang diinginkan. Efektivitas es untuk mempertahankan kesegaran ikan ditentukan oleh ketahanan es untuk tetap membeku. Perlakuan untuk mempertahankan kesegaran ikan dapat dilakukan dengan cara-cara berikut:

  • Pemanenan ikan harus dilakukan hati-hati agar ikan-ikan tidak luka. Ikan yang terluka akan mudah terserang bakteri sehingga terjadi otolisis.
  • Ikan dimasukkan dalam wadah yang diberi es dengan suhu 6—7 0C. Pada suhu tersebut ikan yang masih hidup akan cepat pingsan dan mati tanpa meronta. Jumlah es yang digunakan sebanyak 1/6 volume air.
  • Sebelum dikemas, ikan harus dicuci hingga bersih.
  • Wadah pengangkut harus bersih dan tertutup. Untuk pengangkutan jarak dekat yang hanya memerlukan waktu 2—4 jam, dapat digunakan keranjang yang dilapisi dengan daun pisang atau plastik. Untuk pengangkutan jarak jauh, digunakan kotak dan seng atau fibreglass. Kapasitas kotak maksimum 50 kg dengan tinggi kotak maksimum 50 cm. Ukuran ini adalah ukuran standar yang dapat menghindari risiko kerusakan ikan.
  • Es yang digunakan hams es potongan kecil-kecil (es curah). Perbandingan jumlah es dan ikan sebaiknya 1:1. Es diletakkan secara berlapis-lapis. Dasar kotak dilapisi es setebal 4—5 cm. Kemudian, ikan disusun di atas lapisan es setebal 5—10 cm, lalu disusul lapisan es lagi dan setemsnya. Antara ikan dengan dinding boks diberi es, demikian juga antara ikan dengan penutup boks.

Untuk pengangkutan dengan angkutan darat biasanya digunakan boks yang tidak berinsulasi. Hal ini mengakibatkan es cepat mencair ketika udara panas. Oleh karena itu, bila perjalanannya Iebih dan 6 jam, perlu ditambahkan es di perjalanan. Ikan yang disimpan di dalam boks berinsulasi dan diberi es sesuai dengan prosedur di atas akan tahan sampai 7 hari.

Bagikan Artikel Ini Ke Teman Anda.

Facebook Twitter Google+

Tentang Penulis

Penulis banyudadi
Diposkan oleh :

Banyudadi adalah penyedia dan penyalur benih ikan air tawar, seperti: Gurame, Lele, Nila, Bawal, Patin, Ikan mas, Graskap, Tawes, Nilem, Gabus dan juga beberapa jenis ikan hias seperti: Koi, cupang, Komet, dll yang dihasilkan dari produksi para kelompok-kelompok petani perikanan yang terdaftar di Dinas Perikanan Prop. DI. Yogyakarta maupun Dinas Perikanan se-Kab. di DI. Yogyakarta.

Baca Juga Artikel Ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.