Penanganan Gurami Sesudah Panen

Penanganan pasca panen difokuskan untuk ikan gurami konsumsi segar yang telah mati. Hal ini karena ikan konsumsi yang telah mati akan cepat mengalami penurunan mutu jika tidak segera ditangani. Sementara untuk ikan gurami konsumsi hidup tidak ada masalah, karena ikan yang hidup dan sehat tidak akan mengalami proses pembusukan secara alami.

Jika mengalami kerusakan mirobiologis, bahan makanan yang mengandung protein akan menghasilkan bau busuk khas protein. Bau busuk tersebut dikenal sebagai bau putrid. Sementara kerusakan yang menghasilkan bau putrid disebut kerusakan putrefaktif. Kerusakan semacam ini juga dialami ikan gurami yang sudah mati.

Gurami Segar sesudah panen

Gurami Segar sesudah panen

Mikroorganisme yang paling berperan dalam menyebabkan kerusakan makanan berprotein adalah bakteri. Bakteri tersebut mampu memecah protein menjadi senyawa-senyawa sederhana seperti kadaverin, putresin, skatol, H2S, dan NH3, yang menyebabkan bau busuk. Selain bau busuk, kerusakan jaringan protein juga mengakibatkan rasa makanan menjadi tidak enak serta tekstur makanan menjadi lembek dan berair.

Lemak dan minyak yang terdapat pada bahan makanan dapat mengalami pemecahan menjadi asam lemak gliserol. Asam lemak terutama asam lemak tak jenuh yang memiliki ikatan rangkap dapat mengalami dapat mengalami pemecahan lebih lanjut menjadi senyawa sederhana seperti aldehid, keton dan senyawa lain yang menimbulkan bau tengik.

Proses terjadinya kerusakan makanan karena aktivitas mikroba biasanya terjadi secara simultan dan bersama-sama. Hal ini disebabkan dalam bahan makanan biasanya selain terdapat kandungan protein, juga terkandung karbohidrat dan lemak. Oleh sebab itu, tanda-tanda kerusakannya pun biasanya ada bermacam-macam.

Mengenali Ikan Segar

Ikan merupakan bahan pangan yang mudah sekali mengalami kerusakan. Penyebab kerusakan ikan antara lain sebagai berikut.

  • Kadar air rata-rata yang cukup tinggi, yaitu 70-80% dari berat ikan, menyebabkan miroorganisme mudah berkembang.
  • Kandungan enzim yang dapat menguraikan protein menjadi putresin, isobutilamin, kadaverin, dan lainnya yang menyebabkan bau tidak sedap (busuk).
  • Lemak ikan banyak mengandung asam lemak tidak jenuh ganda berantai panjang yang sangat mudah mengalami proses oksidasi sehingga menghasilkan bau tengik.
  • Daging ikan memiliki susunan sel longgar sehingga komponen gizinya mudah terurai. erbagai mikroorganisme akan menguraikan komponen gizi ikan menjadi senyawa berbau busuk seperti indol, H2S, skatola dan markaptan.

Untuk mengetahui apakah ikan dalam keadaan segar atau tidak, berikut disajiikan ciri-ciri umum keadaan ikan yang masih segar dan ikan yang telah busuk.

Bagian TubuhIkan SegarIkan Busuk
MataBening dan cembungKusam dan cekung
InsangMerah darahPucat, keabu-abuan
SisikCerah dan melekat kuatKusam dan mudah lepas
PerutUtuh bau segarRusak dan bau busuk
KulitCerah dan semua permukaannya di lapisi lendir tipis, segar dan rataKusam dilapisi lendir tebal adak lengket
DagingKenyak dan melekat kuat pada tulangMudah lepas dari tulangnya
DarahMerah segarWarna gelap dan bau busuk
BauSegarBusuk
Dalam AirTenggelamTerapung
Detail One ADetail Two ATitle 2

Bagikan Artikel Ini Ke Teman Anda.

Facebook Twitter Google+

Tentang Penulis

Penulis banyudadi
Diposkan oleh :

Banyudadi adalah penyedia dan penyalur benih ikan air tawar, seperti: Gurame, Lele, Nila, Bawal, Patin, Ikan mas, Graskap, Tawes, Nilem, Gabus dan juga beberapa jenis ikan hias seperti: Koi, cupang, Komet, dll yang dihasilkan dari produksi para kelompok-kelompok petani perikanan yang terdaftar di Dinas Perikanan Prop. DI. Yogyakarta maupun Dinas Perikanan se-Kab. di DI. Yogyakarta.

Baca Juga Artikel Ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.