Pemeliharaan Ikan Mujair Di Keramba Jala Apung

Agribisnis ikan mujair di perairan umum dapat memacu peningkatan produksi ikan mujair dari perairan itu. Usaha ikan mujair merupakan kegiatan terkendali dalam upaya optimalisasi pemanfaatan perairan dalam rangka peningkatan produktivitas dan produksi ikan. Salah satu teknik untuk usaha ikan mujair yang cukup potensi untuk dikembangkan di perairan air tawar, terutama di perairan waduk atau danau adalah usaha ikan mujair dalam kolam jaring apung.

Hasil kajian budidaya ikan mujair dalam kolam jaring apung dapat menanggulangi permasalahan peningkatan pendapatan, membuka peluang kesempatan kerja, serta mampu meningkatkan produksi sekaligus produktivitas lahan dan menjaga kelestarian sumber daya ikan di perairan darat. Ikan mujair di kolam apung telah dikembangkan di beberapa perairan waduk, diantaranya Waduk Ir. Juanda, Waduk Saguling, Waduk Cirata di Jawa Barat, Waduk Wonogiri, Waduk Sudirman dan Waduk Kedung Ombo di Jawa Tengah, Waduk Gondong dan Waduk Selorejo di Jawa Timur.

Semua jenis ikan dapat dipelihara dengan menggunakan jaring apung. Penanaman ikannya dapat dikombinasikan dengan menggunakan jaring apung ganda, yaitu jaring bagian terdalam, jaring bagian dalam dan jaring bagian atas. Pemeliharaan ikan mas menggunakan bagian teratas, sedangkan jaring untuk bagian bawah digunakan untuk ikan mujair. Berat awal ikan yang dipelihara dengan menggunakan jaring apung hanya dibatasi oleh besarnya jaring yang digunakan.

Sistem kolam jaring terapung termasuk intensif, yaitu padat tebar benih ikan mujair relatif tinggi dengan pakan sepenuhnya diberikan dari luar kolam, yaitu dengan cara pemebarian pakan buatan. Pakan yang diberikan terutama untuk pembesaran ikan mas, sedangkan sisanya yang terbuang yang jatuh ke jaring di bawahnya, merupakan pakan ikan mujair.

A. Pembuatan Keramba Jala Apung

Hal yang diperhatikan dalam penempatan kolam jaring apung di danau, waduk atau situ adalah luas waduk, situ atau danau harus lebih dari 4 hektar dan kedalaman airnya minimum 5 meter. Kalau kedalaman airnya hanya 5 meter atau kurang, kolam jaring apung ditempatkan pada jalur arus. Lokasi kolam jaring apung harus terlindungi dari angin kencang atau gelombang karena angin yang kencang dapat merusak kontruksi kolam jaring apung.

Kondisi air yang baik secara langsung akan memengaruhi kehidupan ikan mujair. Kualitas air yang baik dari sungai, waduk atau danau adalah temperatur air normal, pH air sebaiknya berkisar antara 6,5-8,5, kandungan oksigen terlatur minimum 4 ppm, sedangkan kandungan CO2 kurang dari 25 ppm, arus air harus cukup untuk pergantian air, air untuk pemeliharaan ikan mujair di kolam jaring apung harus bebas dari pencemaran limbah, tidak dekat daerah blooming alga, serta jauh dari daerah yang berpotensi untuk terjadi perubahan kondisi air.

Dalam pembuatan kolam jaring apung ada beberapa komponen kolam yang harus dibuat. Komponen kolam tersebut terdiri dari rakit kolam dan jaring apung sebagai sarana pokok, gudang untuk tempat penyimpanan pakan, perahu atau rakit penyeberangan dan alat perikanan lainnya sebagai sarana penunjang. Lampu penerangan diperlukan sebagai sarana pelengkap untuk memudahkan penjaga kolam memeriksa kolam pada malam hari. Jaring kolam terbuat dari polyethylene yang dibuat kantong, dengan ukuran 7 x 7 x 3 meter kubik untuk satu unitnya. Pada bagian dasar kantong diberi pemberat yang dibentuk persegi panjang sesuai dengan dasar jaring.

Mata jaring kolam apung 1-1,5 inci. Untuk menghindari resiko kebocoran akibat gigitan binatang air yang buas, seperti kura-kura, biawak dan ikan buas yang lainnya, pasang kantong rangkap. Kantong dalam bermata jala 1-1,5 inci dan kantong luar bermata jala 1,5-2 inci. Tinggi kantong 3 meter dengan bagian yang terendam air sedalam 2,5 meter. Kantong rangkap dapat dibuat berlapis.

Tambang diikatkan pada tiang-tiang besi disekeliling sisi rakit. Jaring apung yang terndam diikatkan disudut-sudut jaringnya pada tiang-tiang besi disudut-sudut rakit. Rakit merupakan salah satu sarana pokok yang berfungsi sebagai pengapung kolam jaring apung dan stabilitas kolam. Rakit umumnya berukuran 8 m x 8 m, terbuat dari kerangka besi, kayu, bambu dan lainnya yang diapung oleh drum besi, drum plastik, kayu dan bahan mengangkat rakit.

Pada sepanjang pinggir kolam jaring apung dibuat jalan kontrol yang lebarnya 50 cm. Bentuk rakit persegi panjang atau memanjang bergantung pada lokasi. Fungsi rakit selain tempat pemasangan kantong jaring, juga sebagai tempat orang berjalan pada waktu memberi pakan atau mengontrol dalam pemeliharaan. Sebagai penguat atau pengikat bambu gunakan tambang plastik/ijuk/kawat. Pada setiap sisi rakit pasang sebuah tiang bercincin pada kedua ujungnya sebagai tempat mengikat jaring.

Rakit kolam jaring apung ditempatkan pada arus air yang jauh dari pinggir danau atau waduk. Agar rakit tidak hanyut, untuk dasar perairan yang landai, setiap sudut diberi jangkar yang terbuat dari beton berbentuk piramida yang digunakan sebagai tempat mengikatnya air pada dasar waduk, sedangkan untuk dasar perairan lumpur atau curam digunakan jangkar berbentuk cekung.

B. Penebaran Benih

Kegiatan persiapan yang dilakukan sebelum penebaran benih adalah pengadaan rakit, keramba, benih, pakan dan perlengkapan lainnya sesuai dengan skala usaha yang akan dilaksanakan dan jadwal produksi yang ditetapkan. Untuk usaha pemeliharaan ikan mujair secara monokultur, kegiatan persiapan ini meliputi perawatan dan perbaikan rakit, keramba dan peralatan yang sudah digunakan, serta penyediaan benih dan pakan. Jika semua persiapan sudah selesai dilakukan, kegiatan selanjutnya yaitu penebaran benih.

Kualitas benih ikan mujair harus berkualitas baik. Sifat benih ikan mujair yang berkualitas baika dalah berasal dari induk yang diketahui asal-usulnya, sama ras, umur dan ukuran, sehat dan tidak cacat fisik, bereaksi cepat terhadap rangsangan fisik, bebas dan tahan penyakit, serta cepat dalam pertumbuhan.

Benih ikan mujair dapat berasal dari berbagai sumber penangkar ikan. Yang penting, ukuran ikan benih harus lebih besar dibandingkan ukuran mata jala dari kolam jaring apung. Sumber benih bisa diperoleh dari kolam pendederan, baik kolam air tenang maupun kolam air deras, dari sawah, baik berasal dari program minapadi, penyelang di sawah atau pada program palawija di sawah dan dapat pula dari kolam jaring apung petani yang khusus menyediakan bibit ikan mujair untuk kolam jaring apung lainnya.

Selain memerhatikan kualitas benih ikan mujair, perhatikan pula kuantitas atau jumlah benih yang tersedia. Dalam budidaya kolam jaring apung diperlukan jumlah benih yang cukup besar dan ini sering menjadi masalah di lapangan karena jumlah yang tersedia tidak seperti yang diharapkan, sehingga benih yang diperlukan harus menunggu cukup lama karen ajumlah benih ikan mujair kurang banyak. Ada juga, ikan mujairnya banyak, tetapi ukurannya beraneka macam, hingga perlu dilakukan pemilihan lagi.

Jumlah benihyang tersedia harus cukup sesuia dengan rencana skala usaha yang telah ditetapkan dan jumlah benih tersebut harus tersedia secara berkesinambungan. Jumlah benih akan berkaitan erat dengan tingkat padat penebaran yang diterapkan dalam kolam jaring apung, volume kecil, tetapi padat serta penebaran tinggi. Padat penebaran untuk 1 unit kolam jaring apung berukuran 7 m x 7 m x 2,5 m adalah kurang lebih 300 kg atau 6 kg untuk setiap meter persegi.

Bagikan Artikel Ini Ke Teman Anda.

Facebook Twitter Google+

Tentang Penulis

Penulis banyudadi
Diposkan oleh :

Banyudadi adalah penyedia dan penyalur benih ikan air tawar, seperti: Gurame, Lele, Nila, Bawal, Patin, Ikan mas, Graskap, Tawes, Nilem, Gabus dan juga beberapa jenis ikan hias seperti: Koi, cupang, Komet, dll yang dihasilkan dari produksi para kelompok-kelompok petani perikanan yang terdaftar di Dinas Perikanan Prop. DI. Yogyakarta maupun Dinas Perikanan se-Kab. di DI. Yogyakarta.

Baca Juga Artikel Ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.