Pembuatan Makanan Ikan Maskoki

1. Makanan alami

Makanan alami dapat diperoleh dari alam tempat ia tumbuh dengan sendirinya tanpa bantuan manusia, atau diperoleh secara buatan melalui usaha budidaya. Tentu saja makanan alami yang diperoleh secara buatan mempunyai kualitas lebih baik dibandingkan produksi alami. Hal ini di sebabkan oleh:

    • – Produksi makanan alami lebih homogen, Karena tidak tercampur dengan organisme lain.
    • – Kesinambungan produksinya lebih terjamin.
    • – Dapat terhindar dari pengaruh polusi lingkungan.

Berikut ini disajikan beberapa cara budidaya organisme makanan alami yang biasa digunakan untuk makanan maskoki, yaitu:

a. Budidaya Daphnia

Daphnia merupakan salah satu anggota keluarga udang renik paling primitif yang termasuk ke dalam , filum arthropoda, kelas crustacea, ordo phylopoda. Karena termasuk udang renik daphnia mempunyai ukuran tubuh cukup kecil, yaitu berkisar antara 1000 – 5000 mikron.

Di alam, daphnia merupakan organisme hewan penghuni habitat air tawar, terutama di danau, waduk, rawa, kolam atau genangan air lainnya. Karena dapat hidup di semua habitat air tawar, daphnia sangat mudah dipelihara.

Siklus hidup daphnia sangat singkat. Rata-rata umur maksimum yang dapat dicapai oleh daphnia adalah 12 hari. Jika temperatur lingkungan berkisar antara 22 – 31 oC dan derajat keasaman (pH) air antara 6,6 – 7,4, daphnia akan tumbuh menjadi dewasa hanya dalam 4 hari.

Untuk pertama kalinya,  proses reproduksi daphnia akan terjadi pada umur 4 hari dan selanjutnya setiap 1 – 2 hari kemudian daphnia akan berkembang biak lagi dengan menghasilkan keturunan sebanyak 29 ekor. Jadi selama hidupnya daphnia mampu berkembang biak paling banyak 7 kali dengan  jumlah keturunan yang dihasilkannya kurang lebih 200 ekor. Proses perkembangbiakan daphnia dapat terjadi dengan perkawinan atau tanpa perkawinan antara induk jantan dan induk betina (partenogenesis).

Dalam kondisi lingkungan yang luar biasa (ekstrim), daphnia dapat berkembang biak lebih cepat lagi. Pada kondisi demikian seekor daphnia dapat menghasilkan keturunan sebanyak 120.000.000 ekor hanya dalam waktu 60 hari (menurut perhitungan dengan teori Randalls) , bahkan menurut Ahmad Mujiman dapat mencapai jumlah 13.000.000.000 ekor.

Jika kondisi lingkungan tidak menentu (buruk) biasanya daphnia akan segera membentuk suatu cangkang telur yang kuat (efipium). Dalam cangkang tersebut, embrio daphnia akan beristirahat dan dapat bertahan cukup lama terhadap pengaruh kondisi lingkungan yang buruk. Apabila kondisi lingkungan sudah membaik kembali, embrio di dalam efipium akan menetas menjadi individu baru.

Untuk mendapatkan daphnia secara buatan. dapat dilakukan usaha budidaya sebagai berikut:

Sediakan sebuah bak terhuat dan bahan semen, plastik, kayu atau fibre glass yang mempunyai ukuran satu meter kubik, untuk bak pemeliharaafl daphnia. Letakkan bak tersebut di tempat yang agak terlindung dan pengaruh sinar matahari secara langsung.

Setelah dibersihkafl, isilah bak tersebut dengan air tawar hingga perm ukaan air mencapai ketinggian 60 cm. Sementara itu — pada tempat lain — campurkan 10 kg kotoran ayam yang telah dikeringkafl ke dalam 90 liter air dan biarkan selama 5 — 10 han sambil terus diberi aliran udara dengan menggunakan aerator.

Pada wadah yang lain lagi, tumbuklah bungkil kelapa sanipai halus dan diayak. Campurkan 240 gram bungkil kelapa yang telah dihaluskan ke dalam 1.200 ml larutan kotoran ayam. Setelah diaduk sampai rata, adonan tersebut dimasukkafl ke dalam kantong yang terbuat dan kain. Selanjutnya kantong tersebut diperas dan cairan yang diperoleh segera dimasukkan ke dalarn bak pemeliharaan.

Setelah dibiarkan 15—24 jam, bak pemeliharaan sudah dapat diisi bibit daphnia. Bibit daphniu mi dapat diperoleh dan alam atau dengan cara memintaflya ke Balai Budidaya Air Tawar setempat. Jika kondisi lingkungan cukup baik, daphnia akan terlihat pertumbuha nnya setelah dipelihara selama seminggu.

Pemanenan daphnia dapat dilakukan dengan menggunakan scoop net yang mempunyai mata jaring cukup halus. Pemanenan sebaiknya dil aksanakan pada malam han atau pagi han sebelum matahari terbit. Hal mi dimaksudkan untuk mempermudah penangkapan daphnia. Daphnia yang diperoleh dan hasil pemanenan dapat langsung diberikan kepada maskoki atau disimpan di dalam lemari pendingin sehagai cadangan makanan.

b. Kultur infusoria

Infusoria rnerupakan salah satu anggota dan filurn protozoa yang termasuk ke dalarn subkelas ciliata, yaitu hewan-heWan bersel satu yang dilengkapi dengan bulu-bulu getar (silia). Beberapa contoh yang cukup terkenal adalah Pa,anIaeCiU 01 caudata, Colpoda cukulus, Didinium nasutuni dan Colpidiuni campy/un? Upaya untuk niernproduksi infusouia melalui usaha budidaya dapat dilakukan sebagai berikut:

  • Masukkan daun yang mudah hancur (daun kol, seledri, talas dan lain-lain) ke datum panci berisi air tawar. Usahakan agar seluruh daun tersebut tenggelam di dalam air.
  • Rebuslah panci tersebut di atas api sampai mendidih selama 10 — 15 menu. Selanjutnya cairan yang ada disaring agar kotorannya dapat dip isahkan. Cairan hasil penyaringan inilah yang kelak akan digunakan sehagai media untuk pertumbuhan infusoria. Selain menggunakan daun dan tanaman tersebut di atas, media pertumbuhan infusoria dapat juga diperoleh dan hasil perendaman jerami yang telah dididihkan selama 15 menit. Lintuk budidaya skala besar tidak perlu dilakukan perebusan media pertumbuhan, sebab akan menyulitkan.
  • Masukkan bibit inf itsoria ke media pertumbuhan dengan cara menuangkan 2 — 3 sendok makan air selokan yang biasanya banyak mengandung in/i (50110.
  • Simpanlah media pertumbuhan yang telah diisi bibit infusoria dalam keadaan terbuka selama 2—3 han. Bila kondisi lingkungan mendukung, setelah 2 — 3 han akan terlihat pertumbuhan infusoria yang ditandai dengan timbulnya lapisan putih agak keruh di permukaan air.
  • Pernanenan infusoria dapat dilakukan dengan menggunakan pisau atau daun pisang untuk mengambil lapisan putih agak keruh tersebut. Infusoria dapat diberikan langsung kepada anak-anak maskoki sampai berumur 20 han atau lebih.

c. Kultur Cacing

Cacing telah lama dikenal sebagai makanan alami ikan yang mempunyai kandungan protein cukup tinggi. Cacing sangat mudah dibudidayakan dan tidak membutuhkan biaya besar. Berdasarkan ukurannya, cacing dapat dibagi menjadi tiga golongan, yaitu cuing halus, cacing kecil dan cacing tanah yang mempunyai ukuran tubuh relatif besar. Dan ketiga golongan tersebut, hanya cacing halus dan cacing kecil saja yang sering digunakan sebagai makanan alami dalam budidaya maskoki.

Secara garis besarnya, cara membudidayakan cacing adalah sebagai berikut:

1) Cacing halus

Cacing halus sangat cocok untuk diberikan sebagai makanan alami maskoki, terutama pada masa-masa awal dan kehidupannya. Cacing halus biasanya banyak terdapat di tanah yang agak berair, seperti tanah sawah, timbunan sampah alau saluran air.

Untuk keperluan budidaya cacing halus, cukup disediakan beberapa buah piring plastik yang bergaris tengah 20 cm sebagai wadah budidaya. Scinentara itu kita buat media perturnbuhan cacing yang terdiri dan camp uran tepung beras dan susu. Media pertumbuhan ini ditempatkan pada piring plastik kurang Iebih setebal I-2 cm. Fungsinya adalah sebagai pengganti lapisan tanah.

Selanjutnya masukkan benih cacing halus ke dalam media pertumbuhan. Benih cacing halus dapat diperoleh dan pedagang ikan hias atau mencarinya di teinpat-tempat cacing tersebut biasa hidup. Jika kondisi lingkungan cukup menunjang cacing akan tumbuh dengan baik dan melakukan aktivitas perkawinan yang akan menghasilkan telur sebagal bakal individu baru.

Dalam jangka waktu satu atau dua minggu setelah benih dimasukkan, cacing sudah dapat dipanen. Pemanenan dapat dilakukan dengan cara mengayak media pertumbuhan sehingga diperoleh cacing halus, sedangkan media pertumbuhan yang mengandung telur dimasukkan kembali ke wadah budidaya. Media pertumbuhan harus segera ditambah, sebab telur akan segera menetas dan individu cacing yang muda memerlukan makanan.

Cacing hasil pemanenan dapat diberikan langsung kepada ikan sebagai makanan alami atau diolah dahulu menjadi tepung cacing untuk digunakan sebagai salah satu komponen dalam makanan buatan.

2) Cacing Kecil

Cacing ini mempunyai ukuran yang relatif Iebih besar bila dibandingk an dengan cacing halus, yaitu kurang lebih 8 mm panjangnya. Dengan demikian, cacing kecil biasa diberikan pada anak-anak maskoki yang telah mencapai ukuran relatif Iebih besar.

Bila dibandingkan dengan cacing halus, teknik budidaya cacing kecil Lidak berbedajauh. Perbedaannya hanya terletak pada wadah budidaya dan media pertumbuhan yang digunakan.

Sebagai wadah budidaya, petani biasanya menggunakan pot dan tanah liat yang mempunyai garis tengah 12,5 cm. Pot ini diletakkan pada sebuah kotak kayu yang telah diberi alas tumpukan lumut segar. Pemberian tumpukan lumut ini dimaksudkan untuk mempertahankan kondisi lingkungan yang lembab dan basah. Bila kondisi Iingkungan wadah budidaya menjadi kering karena panas yang terlalu terik, perlu dilakukan penyiraman dengan air terhadap tumpukan lumut di dalam kotak agar cacing tidak mati kekeringan.

Di bagian dasar pot ditebarkan media pertumbuhan yang terdiri dan campuran ragi dengan bubur tepurig beras. Media pertumbuhan ini ditutup dengan gelas, sehingga pada bibir gelas inilah cacing kecil kelak akan berkumpul.

Setelah benih ditebarkan dan dipelihara selama 1 — 2 minggu, cacing sudah dapat dipanen. Pemanenan dapat dilakukan secara berulang-ulang dengan cara menangkap cacing yang berkumpul di bibir gelas. Bila produksi cacing telah menurun, sebaiknya dilakukan penambahan media pertumbuhan atau dilakukan pemanenan secara total.

d. Budidaya Nyamuk

Nyamuk merupakan insekta yang telah dikenal manusia sejak ratusan tahun lalu. Namun yang kita kenal adalah nyamuk sebagai binatang merugikan, karena sering menimbulkan penyakit malaria atau dcmam berdarah. Kenyataanya masih ada kegunaan lain dan nyamuk, yaitu sebagai bahan makanan bagi anak-anak ikan hias. Sebenarnya yang digunakan sebagai makanan anak-anak ikan hias bukan nyamuk dewasa, melainkan jentik nyamuk atau sering disebut sebagai cuk.

Hingga saat ini masih sedikit buku-buku yang menerangkan cara-cara membudidayakan nyamuk. Oleh karena itu, pembahasan mengenai budidaya nyamuk berikut ini sebagian besar didasarkan pada pengalaman dan beberapa petani ikan hias yang telah berhasil melaksanakannya.

Cara membudidayakan nyamuk tidaklah terlalu sulit. Dengan modal semangat, rajin dan ulet, kemungkinan untuk berhasil memelihara nyamuk sangat besar. Adapun cara membudidayakan nyamuk adalah sebagai berikut:

  • Sediakan beberapa wadah yang dapat dipergunakan untuk menampung air, misalnya panci, ember plastik, kuali dan tanah liat atau kaleng bekas. Wadah yang digunakan tidak perlu bagus atau baru, tetapi cukup berupa barang-barang bekas yang sudah tidak terpakai. Jika menggunakan wadah dan kaleng sering menimbulkan kerugian, sebab dapat terjadi proses pengkaratan yang dapat mengganggu kehidupan dan pertumbuhan jentik nyamuk.
  • Garis tengah wadah sebaiknya tidak kurang dan 30 cm. Semakin lebar luas permukaan wadah biasanya akan memberikan produksi jentik nyamuk yang lebih tinggi. Jumlah wadah yang perlu disediakan untuk mernbudidayakan nyamuk tergantung pada tingkat produksi jentik nyamuk yang diharapkan.
  • Istilah wadah yang telah disediakan dengan air bekas cucian beras (dan air bilasan pertama sampai bilasan kedua). Tinggi permukaan air bekas cucian beras pada setiap wadah sebaiknya berkisar antara 10— 30 cm.
  • Selanjutnya semua wadah yang telah diisi air cucian beras segera di letakkan pada tempat agak remang-remang, misalnya di bawah pohon. Kondisi lingkungan yang agak remang merupakan tempat paling disenangi oleh nyamuk-nyamuk yang akan bertelur. Agar suasananya tetap lembab, sebaiknya dipilih tempat yang berada di dekat selokan. Untuk menghindari debu maupun tetesan air hujan, sebaiknya wadah dilengkapi dengan penutup. Namun perlu diperhatikan, jangan sampai penutup tersebut menghalangi keluar masuknya nyamuk ke dalam wadah.
  • Setelah dua atau tiga bulan kemudian akan terbentuk lapisan tipis iacla permukaan air di dalam wadah. Apabila setelah empat bulan lapisan tipis ini belum juga terlihat, maka usaha budidaya nyamuk sudah dapat dipastikan mengalami kegagalan. Hal ini kemungkinan disebabkan karena air bekas cucian beras yang dipergunakan terlalu encer (kurang putih). Hanya ada satu cara untuk mengatasinya, yaitu dengan mengganti seluruh air cucian beras tersebut dengan air baru yang lebih kental.
  • Bila kondisi lingkungan cukup menunjang, maka akan segera terlihat sejumlah telur nyamuk di permukaan air. Telur-telur mi tarnpak melekat satu sama lain dan membentuk sebuah kolani yang mirip seperti perahu dengan ukuran antara 0,5 — 1,5 cm. Telur-telur nyamuk ini dapat di berikan langsung kepada anak-anak maskoki dengan cara menebarkannya ke kolam pemeliharaan anak maskoki atau dibiarkan dahulu hingga menetas, kemudian jentik (larva) nyamuk yang ada diberikan kepada anak-anak maskoki. Anak-anak maskoki dapat diberi makanan jentik nyamuk setelah mencapai usia 1 — 2 minggu.
  • Pemanenan telur nyamuk dapat dilakukan dengan menggunakan sebatang lidi yang panjangnya 40 cm. Bagian ujung lidi mi dibuat runcing agar mudah memasukkannya ke dalam air. Setelah dimasukkan ke dalam air, lidi digeser ke arah telur nyamuk. Adanya gaya adhesi menyebabkan telur akan melekat ke lidi sehingga mudah dipindahkan ke kolam maskoki. Jentik nyamuk dapat dipanen dengan menggunakan saringan halus.
Pengambilan telur nyamuk dengan lidi

Cara mengambil telur nyamuk menggunakan lidi.

e. Ulat Hongkong

Akhir-akhir ini ulat hongkong mulai digemari oleh petani ikan hias sebagai salah satu jenis makanan alami. Konon, menurut pedagang ikan hias, ulat hongkong selain digunakan sebagai makanan berprotein tinggi juga dapat membantu mempercepat munculnya warna-warna indah pada tubuh ikan hias. Ulat hongkong sangat mudah dibudidaya, bahkan di dalarn ruangan sempit pun dapat tumbuh dengan baik. Adapun tahapan yang perlu dilaku kan adalah sebagai berikut:

  • Sediakan kotak yang terbuat dan bahan tripleks dengan ukuran 40 X 40 cm dan tinggi 20cm. Agar lebih praktis, dapat juga digunakan baskom atau ember plastik yang berukuran sedang untuk digunakan sebagai wadah pemeliharaan. Sebaiknya pada bibir wadah diberi isolotif (isolasi) untuk mencegah ulat hongkong atau kumbang yang akan lari, terutaina pada kotak yang terbuat dan bahan tripleks.
  • Sebagai media untuk pertumbuhan ulat hongkong, pada bagian dasar wadah ditebarkan campuran antara ampas tahu dengan dedak. Jika sulit mendapatkan bahan-bahan tersebut, media pertumbuhan dapat dibuat dengan menggunakan pakan ayam ras. Tebal media pertumbuhan kurang lebih 3 cm. Sebaiknya semua bahan disaring atau diayak dahulu dan hanya bagian yang halus saja digunakan sehagai media pertumbuhan.

Langkah selanjutnya adalah memasukkan 100 gram ulat honikong ke dalam wadah. Benih ulat hongkong ini dapat dibeli pada pedagang buruh oceh. Jika kondisi lingkungan cukup menunjang, ulat hongkong ini akan terus tumhuh dan berkembangbiak.

Selama proses pertumbuhan ulat hongkong akan tetap menghasilkan kotoran karena tcrjadi OSCS metabolisme. Dengan demikian media pertumbuhan akan menjadi kotor (tampak hitam karena penuh kotoran) sehingga perlu diganti dengan yang baru. Pergantian media tersebut dapat dilakukan dengan mengayak seluruh media pertumbuhan. sehingga telur ulat hongkong (larva) atau kumbang yang ada akan tersaring dan dapat segera dipindahkan ke media pertumbuhan yang baru.

Siklus kehidupan ulat hongkong hanya 14 bulan, dengan demikian pem anenan dapat dilakukan setiap 14 bulan. Proses pemanenan tidak berbedajauh dengan cara penggantian media pertumbuhan. ( ulat hongkong yang tertinggal di dalam ayakan dapat diambil dan diberikan kepada anak-anak maskoki.

Makanan Buatan

Telah dijelaskan pada bab sebelumnya mengenai pembuatan makanan bagi larva ikan yang terdiri dan campuran rebusan kuning telur dan tepung terigu. Pada bagian ini akan dijelaskan secara singkat menenai cara pembuatan makanan berhentuk pc/ct.

lstilah pelet digunakan untuk menyatakan bentuk makanan herupa potongan-potongan kecil berbentuk pipa,jadi bukan berbentuk butiran atau tepung. Pelet mempunyai ukuran diameter tertentu dan biasanya diberikan pada ikan yang sudah cukup besar

Langkah pertama yang harus ditempuh dalam pembuatan makanan berbentuk pelet adalah menyusun komposisi makanan berdasarkan kadar protein yang di inginkan. Untuk membantu mempermudah dalam penyusunan komposisi makanan, petani perlu dilengkapi dengan pengetahuan mengenai kandungan protein dan beberapa jenis bahan makanan utama yang sening digunakan sebagai makanan ikan. Berikut ini disajikan komposisi dan beberapa jenis bahan makanan yang umum digunakan sebagai komponen dalam pembuatan makanan ikan.

Komposisi bahan pakan ikan maskoki

Komposisi dari beberapa jenis bahan pakan ikan maskoki

Untuk keperluan penentuan komposisi makanan yang akan dibuat, jenis bahan makanan dikelompokkan dahulu ke dalam protein basal dan protein suplemen. Protein basal adalah bahan makanan ikan baik nabati maupun hewani yang kandungan proteinnya di bawah 20 persen. Protein suplemen adalah bahan makanan yang kandungan proteinnya di alas 20 persen.

Seandainya hendak membuat makanan buatan dengan kandungan protein sebesar 25 persen dan terdiri dari campuran tepung ikan, tepung darah, tepung kedele, dedak dan tepung terigu, maka komposisi dari setiap komponen bahan dapat dihitung berdasarkan metode kuadrat, yaitu:

ilustrasi sketsa pakan buatan maskoki

ilustrasi sketsa pakan buatan maskoki

BiIa jumlah makanan yang akan dibuat adalah 100 kg, berat dari:
Protein basal = 22.05/35.05 X 100 kg
= 62.91 kg
Protein suplemen = 13/35.05 X 100 kg
= 37.09 kg
Jadi berat setiap .jenis komponen bahan makanan adalah:
Tepung ikan = 22.65/94.1 X 37.09 kg
= 8.93 kg
Tepung darah = 7~1.45/94.1 X 37.09 kg
= 28.16 kg
Tepung kedele = 13.6/3,..1.84 X 62.91 kg
= 25.28 kg
Tepung terigu = 8.9/33.84 X 62.91 kg
= 16.55 kg
Dedak = ll .,15/33.84 X 62.91 kg
= 21.08 kg

Bahan-bahan yang masih kasar, sebaiknya digiling daahulu dan disaring dengan ayakan. Setelaah semua bahan dihaluskan dan diayak, barulah dilakukan penimbangan berat sesuai dengan hasil perhitungan di atas. Penim bangan bahan sebelum proses penghalusan dan pengayakan sering meng hasilkan komposisi yank berbeda dari perhitungan, sebab selalu ada bahan yang tersisa di dalam alat pengayak. Keuntungan makanan buatan yang terbuat dari bahan halus adalah tidak mudah tenggelam dan lebih tahan lama di dalam air.

Untuk menghaluskan bahan makanan yang masih kasar dapat menggunaKan blender atau penggiling daging. Bagi petani tradisional penghalusan bahan makanan dilakukan secara manual, yaitu menggunakan alat penumbuk padi.

Setelah masing-masing bahan makanan ditimbang sesuai dengan ke butuhan campurkan semuanya kecuali dedak dalam sebuah wajan besar dan panas kan selama l menit. Tambahkan air mendidih sedikit demi sedikit sambil terus diaduk sampai seluruh adonan menjadi pasta. Angkat lah wajan tersebut dari alas kompor dan selanjutnya campurkan dedak tadi sambil terus diaduk sampai benar-benar rata.

Untuk memenuhi syarat kesehatan ke dalam adonan tadi ditambahkan mineral dan vitamin masing-masing sebanyak 0.5 dan 1.5 persen dari berat total makan dan Penambahan vitamin dan mineral sebaiknya dilakukan setelah adonan menjadi dingin. Lan_~kah selanjutnya adalah mencetak adonan tersebut menjadi pelet yang ukurannya sesuai dengan kebutuhan. Kemudian pelet tersebut dipotong- potong sepanjang 3 cm dan di jemur di bawah sinar matahari hingga benar benar kering. Jika sudh kering, pelet diremas-remas dengan tangan hingga terbentuk potongan potongan kecil dan siap ditebarkan ke kolam sebagai makanan ikan.

Satu hal yang sangat penting dalam pembuatan pelet adalah masalah penyimpanan. Pelet yang telah dijemur harus disimpan dalam tempat yang kering agar kandungan proteinnya tidak berubah dan terhindar dari proses pembusukan.

Bagikan Artikel Ini Ke Teman Anda.

Facebook Twitter Google+

Tentang Penulis

Penulis banyudadi
Diposkan oleh :

Banyudadi adalah penyedia dan penyalur benih ikan air tawar, seperti: Gurame, Lele, Nila, Bawal, Patin, Ikan mas, Graskap, Tawes, Nilem, Gabus dan juga beberapa jenis ikan hias seperti: Koi, cupang, Komet, dll yang dihasilkan dari produksi para kelompok-kelompok petani perikanan yang terdaftar di Dinas Perikanan Prop. DI. Yogyakarta maupun Dinas Perikanan se-Kab. di DI. Yogyakarta.

Baca Juga Artikel Ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.