Pembesaran Gurami Pada Kolam

Media air yang digunakan untuk pembesarab gurami dapat berupa apa saja, termasuk air berkadar garam rendah. Perairan dengan kadar oksigen sedikit pun dapat dimanfaatkan untuk usaha pembesaran ikan gurami. Suplai air yang disenangi berasal dari sumber air tanah kolam atau air yang bergerak tenang. Sumber air mengalir dapat digunakan, asalkan tidak terlalu deras. Air yang berarus deras dapat membuat gurami mengaduk-aduk kolam.Selain itu, sumber atau badan air hendaknya tidak tercemar.

Pembesaran Gurami Di Kolam Tanah

Pembesaran Gurami Di Kolam Tanah

Budi daya gurami dapat dilakukan di kolam, baik berair tenang atau kolam mengalir. Kolam tempat pembesaran gurami yang dibutuhkan hampir sama dengan kolam pembesaran lainnya. Luas kolam berkisar 200-600 m2 dengan kedalaman 1,25-1,5 m. Aliran air berkisar 10-15 liter/detik/ha. Aliran yang terlalu deras dapat mempengaruhi ruang gerak dari ikan gurami karena bentuk badannya tidak pipih. Padat tebar berkisar 10-20 ekor/m2.

Di dalam kolam yang cukup tenang terjadi proses ekologis seperti proses produksi biomass nabati melalui aktivitas fotosintesis pada fitoplankton atau tumbuhan air (makrofita), proses konsumsi oleh organisme hewani (antara lain ikan) dan proses dekomposisi bahan organik di dasar kolam menjadi hara oleh bakteri pengurai. Bahan organik yang mengendap di dasar kolam berasal dari bangkai organisme yang mati, feses dan sisa pakan. Hara yang dihasilkan dari penguraian bahan organik oleh bakteri tersebut selanjutnya dimanfaatkan oleh fitoplankton.

Pada persiapan kolam pembesaran . Terdapat beberapa pekerjaan yang harus dilakukan. Adapun pekerjaan yang dilakukan juga hampir sama dengan kolam perawatan induk, kolam pendederan dan kolam pembesaran ikan lainnya, di antaranya sebagai berikut.

1) Perbaiki tanggul kolam dan pintu air. Hindari kebocoran yang terjadi pada kolam yang akan digunakan sebagai tempat pembesaran ikan. Pintu air berfungsi untuk memasukkan dan mengeluarkan air dari kolam. Air yang dimasukkan hendaknya air segar dan kaya oksigen, sedangkan air yang dikeluarkan berupa air kotor di dasar kolam yang banyak mengandung amoniak, CO2 dan limbah metabolisme.

2) Endapkan atau saring aliran air yang masuk ke kolam untuk menghindari hama dan penyakit.. Inlet kolam bisa dibuat dari pralon atau berbentuk saluran, sedangkan outlet bisa terbuat dari pralon atau beton. Outlet yang terbuat dari pralon disebut pipa goyang, karena pipa dapat digoyang miring-tegak sehingga dapat menentukan tinggi air dalam kolam. Outlet yang terbuat dari beton, salah satunya disebut monik. Pengaturan tinggi air kolam dilakukan dengan mengatur ketinggian susunan papan yang terdapat pada monik tersebut.

3) Lakukan pembalikan tanah dengan cara mencangkul/membajak tanah dasar kolam. Kedalaman pencangkulan sekitar 10-15 cm. Dengan kedalaman tersebut, suplai oksigen tanah menjadi lebih lancar sehingga dapat meningkatkan kesuburan tanah. Namun, ada sebagian pembudi daya yang hanya meratakan tanah dasar dan menjemurnya dibawah sinar matahari. Buat saluran (kemalir) sedalamn 20-40 cm dengan lebar 50-60 cm di dasar kolam untuk tempat berlindung ikan, tempat pengaliran air atau sebagai tempat menggiring ikan pada waktu panen.

4) Setelah pengolahan tanah selesai, lakukan pengapuran agar tanah lebih gambur sekaligus membunuh hama dan penyakit. Takaran kapur yang diperlukan sama seperti pada kolam pembenihan / pendederan, yaitu 150-250 kg /ha.

5) Untuk meningkatkan kesuburan perairan tanah, lakukan pemupukan. Pemupukan dapat dilakukan dengan pupuk organik dan pupuk anorganik. Pupuk organik berupa pupuk kandang atau kompos. Sementara pupuk anorganik menggunakan pupuk uea dan TSP. Perlakuan pemupukan pada kolam pembesaran sama dengan perlakuan pada kolam pembenihan/pendederan.

 

Bagikan Artikel Ini Ke Teman Anda.

Facebook Twitter Google+

Tentang Penulis

Penulis banyudadi
Diposkan oleh :

Banyudadi adalah penyedia dan penyalur benih ikan air tawar, seperti: Gurame, Lele, Nila, Bawal, Patin, Ikan mas, Graskap, Tawes, Nilem, Gabus dan juga beberapa jenis ikan hias seperti: Koi, cupang, Komet, dll yang dihasilkan dari produksi para kelompok-kelompok petani perikanan yang terdaftar di Dinas Perikanan Prop. DI. Yogyakarta maupun Dinas Perikanan se-Kab. di DI. Yogyakarta.

Baca Juga Artikel Ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.