Pemantauan Media Pembenihan Gurami

Biasanya, pembudi daya tradisisonal jarang sekali melakukan pemantauan terhadap parameter kondisi lingkungan secara rutin. Apalagi gurami merupakan salah satu ikan yang tahan terhadap kadar oksigen rendah. Hal tersebut menyebabkan para pembudi daya merasa sangat aman dengan kondisi yang sudah ada. Namun, ada baiknya pembudi daya meningkatkan kehati-hatian dan benar-benar memperhatikan parameter lingkungan perairan. Dengan begitu, hasil yang akan diperoleh nantinya akan menjadi lebih optimal.

Pemantauan Media Pembenihan Gurami

Pemantauan Media Pembenihan Gurami

1. Suhu

Suhu perairan yang dibutuhkan untuk pertumbuhan gurami adalah 24-280 C, sedangkan rata-rata suhu harian di daerah tropis 24-330 C. Suhu yang relatif baik untuk pemijahan adalah 280 C, sedangkan penetasan 320C. Dalam budi daya, adanya goncangan suhu perairan perlu diperhatikan. Goncangan suhu ini dapat terjadi antara siang dan malam atau ketika terjadi perubahan suhu yang ekstrim. Goncangan suhu jangan lebih dari 50 C. Goncangan suhu lebih dari 50 C dapat mengganggu metabolisme dan fisiologi gurami karena suhu air berpengaruh terhadap proses metabolisme.

Pada suhu rendah, proses pencernaan makanan pada ikan berlangsung lambat. Goncangan suhu yang sangat drastis dapat menyebabkan gangguan pada pertumbuhan karena mempengaruhi nafsu makan dan dapat menyebabkan kematian massal. Di perairan tropis, goncangan yang cukup menyolok umumnya terjadi pada perairan dangkal. Oleh sebab itu, perairan dangkal tidak baik untuk budi daya ikan. Temperatur perairan dapat diukur secara harian atau sehari dua kali ( pagi dan sore ) dengan termometer.

2. Oksigen terlarut

Secara alami, oksigen masuk ke dalam perairan melalui difusi langsung dari udara, hujan yang jatuh, proses fotosintesis tumbuhan di dalam perairan  dan aliran air yang masuk. Bagi gurami dewasa, kandungan oksigen terlarut di dalam perairan tidak begitu menjadi masalah, karena gurami relatif tahan terhadap kondisi oksigen rendah. Namun, berbeda dengan larva gurami karena masih membutuhkan oksigen yang cukup.

Oksigen diperlukan untuk suplai telur serta pernapasan dan metabolisme larva gurami. Selain itu, kandungan oksigen yang cukup pada suatu perairan dapat memberikan kesuburan pada perairan tersebut. Perairan akan lebih kaya dengan zat-zat renik yang dibutuhkan larva gurami sebagai pakannya. Kandungan oksigen terlarut yang lazim pada suatu perairan sebanyak 4-6 ppm. Konsentrasi oksigen terlarut optimal sebanyak 5 mg/liter.

Kekurangan oksigen dapat menyebabkan kematian larva ikan. Secara umum, kematian larva akibat kurangnya oksigen terlarut dalam air dapat dikenali dari kematian massal pada waktu yang hampir bersamaan. Kadar oksigen terlarut yang rendah dalam perairan menyebabkan terjadinya penurunan terhadap daya hidup, kecepatan makan dan proses metabolisme ikan. Pengukuran kandungan oksigen dapat dilakukan dengan tertrasi atau DO meter.

3.  Derajat Keasaman (PH)

Derajat keasaman perlu dipantaukarena kondisi telur dan larva cukup rawan terhadap goncangan keasaman perairan. Derajat keasaman yang dapat ditoleransi oleh ikan berkisar 5-9,5. Namun, kondisi ideal untuk gurami berkisar 6,5-8,5. Kisaran PH perairan yang mampu ditoleransi oleh ikan dapat dilihat dari tampilan optimalnya, yaitu laju pertumbuhan yang tinggi atau kapisitas reproduksi maksimal.

Selain dipengaruhi komposisi kimiawi air, besaran PH suatu perairan juga dipengaruhi aktivitas biologis yang berlangsung di dalamnya. Goncangan PH yang cukup ekstrim-terlalu asam (kurang dari 4) atau terlalu basah (lebih dari 9)-dapat menggangu penetasan atau merusak telur. Selain itu, goncangan PH dapat menghambat pertumbuhan larva karena terganggunya oksigen pada metabolisme tubuh larva tersebut. Perubahan PH secara mendadak hingga turun menjadi 4,6dapat menyebabkan kematian gurami.

Nilai PH dalam suatu perairan sangat berhubungan dengan kandungan CO2. Jika kadar CO2 tinggi maka PH menjadi rendah atau asam, begitu pula sebaliknya.

Kadar CO2 pada suatu perairan sangat dipengaruhi proses perombakan bahan-bahan organik dan jasad renik, proses pernafasan hewan air, dan proses respirasi tanaman air pada waktu malam hari. Kandungan CO2 yang baik untuk berkisar 2-5 ppm, meskipun gurami masih dapt hidup hingga keasaman mencapai kurang dari 12 ppm.

Air hujan yang turun dengan lebat dapat mengganggu keberadaan larva karena air hujan bersifat asam. Keasaman ini disebabkan adanya kontak antara air hujan dengan karbondioksida serta senyawa sulfur alami di udara. Sulfur dioksida, nitrogen oksida serta hasil emisi industri lainnya dapat lebih meningkatkan keasaman air hujan. Pengukuran derajat keasaman dapat dilakukan dengan kertas lakmus atau pH tester. Pengukuran ini dapat dilakukan harian atau sehari dua kali (pagi dan sore).

Di dalam media terkontrol, misalnya akuarium, fluktuasi pH dapat distabilkan dengan zat kimia. Keasaman (pH) dapat diturunkan 1 digit dengan menggunakan asam fosfat sebanyak 0,5 g untuk 100 liter air. Sementara untuk menaikkan pH 1 digit digunakan sodium bikarbonat sebanyak 0,5 g untuk 100 liter air.

4. Kecerahan

Kecerahan perairan yang digunakan untuk pembenihan gurami perlu diperhatikan. Kolam penetasan dan pembesaran larva memerlukan kejernihan air yang cukup. Air yang keruh dapat merusak keberadaan telur dan dapat menyebabkan telur menjadi busuk karena kekurangan oksigen. Selain itu, air keruh dapat mengganggu pandangan mata dan pernapasan larva. Kecerahan air yang relatif baik berkisar 30-40 cm, yaitu kedalaman dimana perbedaan warna suatu benda masih dapat terlihat.

Detail 1Detail 2

Ke Dalaman Air (cm)Keterangan
<25Keruh di sebabkan oleh oleh plankton atau partikel tanah
25 – 50Subur dengan jumlah plankton memadai
>50miskin Hara dan jumlah plankton sedikit

5. Kimia perairan berbahaya (NH3, H2S dan nitrit)

Amoniak (NH3), hidrogen sulfida (H2S) dan nitrit (NO2) merupakan senyawa kimia perairan yang cukup berbahaya bagi budi daya ikan. Jumlah ketiga senyawa tersebut yang melampaui ambang batas dapat menyebabkan kematian massal terhadap ikan gurami. NH3 merupakan produk akhir katabolisme protein yang disekresikan ke luar tubuh ikan melalui insang dan kulit. NH3 merupakan bentuk amoniak bebas (tidak terionisasi) yang bersifat sangat toksik bagi ikan. Amoniak bersifat basa lemah sehingga kenaikan suhu dan pH akan meningkatkan jumlahnya. Peningkatan kadar amoniak terutama berasal dari pemberian pakan yang berlebihan. Akibatnya, eksresi amoniak oleh ikan cukup tinggi. Selain berasal dari pakan, pupuk nitrogen berpengaruh pada kehadiran NH3 tersebut. Jika NH3 pada suatu perairan budi daya di atas 0,02 mg/liter maka kondisi tersebut sangat tidak dianjurkan.

Hidrogen sulfida (H2S) merupakan senyawa yang bersifat mematikan. H2S berbentuk secara anaerobik sebagai hasil dekomposisi materi organik yang mengandung sulfat (S) yang ada dalam sedimen suatu perairan. H2S dalam bentuk tidak terdisosiasi pada konsentrasi 0,01-0,05 mg/liter sangat berbahaya bagi ikan karena dapat menyebabkan kematian. Kematian massal pada ikan sering terjadi karena kadar oksigen rendah dan H2S tinggi. Hal ini sering terjadi pada pemeliharaan ikan di perairan umum (rawa, waduk, danau) yang di dalamnya terjadi pengadukan (up welling). H2S dari hasil dekomposisi bahan organik akan naik dan meracuni pernapasan ikan yang berakhir pada kematian massal. Kondisi ini terjadi pada musim kering hingga musim hujan tiba.

Bagikan Artikel Ini Ke Teman Anda.

Facebook Twitter Google+

Tentang Penulis

Penulis banyudadi
Diposkan oleh :

Banyudadi adalah penyedia dan penyalur benih ikan air tawar, seperti: Gurame, Lele, Nila, Bawal, Patin, Ikan mas, Graskap, Tawes, Nilem, Gabus dan juga beberapa jenis ikan hias seperti: Koi, cupang, Komet, dll yang dihasilkan dari produksi para kelompok-kelompok petani perikanan yang terdaftar di Dinas Perikanan Prop. DI. Yogyakarta maupun Dinas Perikanan se-Kab. di DI. Yogyakarta.

Baca Juga Artikel Ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.