Pakan Alami Ikan Mujair

Pakan alami memiliki komposisi gizi yang baik, diantaranya protein, lemak, karbohidrat, dan mineral. Protein berguna dalam proses pertumbuhan, pengganti sel yang rusak, dan zat pembangun. Lemak dan karbhohidrat berfungsi sebagai pembentuk energi yang digunakan tubuh. Vitamin dan mineral membantu proses metabolisme, mengatur proses fisiologi, membentuk enzim dan hormon, serta menjaga kesehatan tubuh ikan.

Lumut pakan alami ikan mujair

Lumut pakan alami ikan mujair

Pakan alami dibutuhkan pembenih karena dapat bergerak aktif dan merangsang larva ikan untuk memakannya. Pda larva, setelah kuning telur habis, perlu tambahan pakan supaya larva tetap mendapat masukan nutrisi. Larva belum bisa mendapatkan pakan dan bukaan mulutnya masih sangat kecil. Gerakan yang dibuat pakan alami seperti: Inforia, Dapnia, Artemia akan merangsang larva memakannya dan ukurannya yang kecilcocok dengan ukuran mulut larva.

Untuk menumbuhkan pakan alami, petani ikan harus mengetahui jenis lokasi yang tepat untuk ikan yang dipelihara. Pada kolam yang dikekola secara tradisional, ikan mujair memakan jenis pakan alami yang ada di dalam kolam, yaitu klekap yang merupakan campuran berbagai jenis lumut dan dentritus atau bahan dan kotoran yang membusuk di air dan dasar kolam.

Setelah berumur 10 hari, benih mujair harus mendapat makanan. Pakan untuk bibit mujair diantaranya kuning telur ayam dan plankton. Selama sebulan makanan itu sebaiknya diberikan secara teru-menerus setiap hari. Pemberian pakan dapat dilakukan dua atau tiga kali sehari. Jika diberikan dua kali, pemberian pakan dilakukan pada pagi dan petang hari. Jika dilakukan tiga kali, pemberian pakan dapat diberikan pagi, siang, dan menjelang senja.

1. Brachionus

Persyaratan lokasi yang cocok untuk budidaya Brachionus: adalah suhu optimal untuk pertumbuhan dan reproduksi adalah 22-30 derajat celcius salinitas optimal 10-35 ppt, yang betina dapat tahan sampai 98 ppt kisaran pH antara 5-10 dengan pH optimal 7,5-8.

Bibit diambil dari alam. Air medium yang digunakan untuk pembibitan adalah air rebusan kotoran kuda atau pupu kandang lainya, yaitu 800 ml kotoran kering dalam satu liter air selama 1 jam. Setelah dingin, air rebusan tersebut disaring  dan diencerkan dengan air hujan yang telah direbus dengan perbandingan 1:2. Air medium dimasukkan dalam botol 1 galon dan ditanami bibit protozoa dan ganggang renik sebagai makanan Brachionus selama 7 hari. 1-2 minggu kemudian, Branchionus akan tumbuh. Cara lain adalah menenamkan bibit kedalam medium air hijau yang berisi phytoplankton. Pemeliharaan pakan dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu:

1. Pemeliharaan pakan dengan cara pemupukan: bibit brachionus ditebar 4-5 hari setelah pemupukan, sebanyak 10 ekor/ml. Lima sampai tujuh hari kemudian, Branchionus berkembang dengan kepadatan sekitar 100 ekor/1 dan dapat digunakan sebagai pakan ikan.

2. Pemeliharaan dengan carapemberian pakan: bibit brachionus ditebar 4-5 hari setelah pemupukan sebanyak 10 ekor/ml. Wadah diaduk setiap pagi sebagai pergantian udara. Pemberian pakan berupa algae atau ragi roti sebanyak 1-2 gram berat basah per 1 juta ekor per hari pada suhu 25 derajat celcius atau 2-3 gram pada suhu lebih dari 25 derajat celcius. Takaran untuk ragi kering adalah 1/3-1/2 takaran berat basah. Apabila campuran algae tidak diberikan terus-menerus, 1-2 jam sebelum panen, Brachionus harus diberi makanan algae secukupnya. Ragi laut (Rhodotorula) diberikan sebagai makanan Brachionus. Ragi laut dapat diperoleh dari saluran pembuangan pembenihan ikan dan udang laut. Ragi laut dapat ditanamkan dengan pemupukan 10 gram (NH4)2SO4, dan 0,1 gram KH2PO4 atau K2HPO4 untuk setiap 1 liter air laut dan ditambah HCI, hingga pH mencapai 4. Dalam wadah 500-1.000 liter, kepadatannya 100 juta sel/ml. Brachionus yang diberi makanan ragi laut mencapai kepadatan 80-120 ekor/ml dalam pemeliharaan 25 hari.

Panen Brachionus dilakukan pada kepadatan menapai 100 ekor/ml dalam jangka waktu 5-7 hari atau 2 minggu kemudian dengan kepadatan 500-700 ekor/ml. Panen dapat dilakukan selama 45 hari. Satu sampai dua jam sebelum penangkapan, air diaduk, kemudian didiamkan. Brachionus yang berkumpul di permukaan diseser dengan kain nilon no 200 atau kain plankton 60 mikron. Panen total dilakukan dengan menyedot air, dengan menggunakan selang plastik dan 1/3 bagian dari air tersebut disisakan, kemudian disaring dengan kain nilon 200 atau kain plankton 60 mikron. Hasil tangkapan dicuci bersih dan dapat digunakan sebagai pakan.

2. Artemia

Persyaratan lokasi yang baik untuk Artemia adalah kisaran suhu 25-30 C dan untuk artemia kering -273-100 C, kadar garam optimal 30-50 ppt, untuk menghasilkan kista 100 per mil, kandungan O2 optimal adalah lebih dari 3 mg/liter dengan kisaran 1 mg/liter sampai tingkat kejenuhan 100%. pH optimal adalah 7,5-8,5 dan kadar amonia yang baik kurang dari 80 mg/liter.

Penyiapan bibit dapat berasal dari telur kering yang dikalengkan. Untuk itu, peternak ikan dapat menghubungi Dinas Perikanan Daerah setempat, Direktorat Jendral Perikanan Jakarta atau Balai Budidaya Air Payau Jepara (Jawa Tengah). Penetasan telur Artemia dilakukan di wadah bening dengan dasar berbentuk kerucut, ukuran 3-75 liter. Wadah dibuat dari kantong plastik 3-5 liter, dilapisi dengan kertas plastik kaca dan disetrika untuk melekatkannya. Air media diperoleh dari pengenceran air laut (30 per mil) sampai kadar garamnya 5 per mil dan ditambah NaHCO3 2 gram/liter supaya pH-nya menjadi 8-9. Telur yang akan ditetaskan direndam air tawar selama 1 jam, kemudian disaring dengan menggunakan kain saringan 125 mikron, sambil disemprot air, dan ditiriskan.

Kondisi yang mendukung penetasa telur ,yaitu suhu 25-30 C, kadar oksigen lebih dari 2 mg/liter, penyinaran lampu neon dengan kekuatan cahaya 1.000 luks atau dengan menggunakan 2 buah lampu 60 watt sejauh 20 cm dari dinding wadah . Telur menjadi Nauplius setelah 24-36 jam, dan ditangkap paling lambat 24 jam sejak menetas. Anak artemia disedot dengan selang plastik kecil dan ditampung dengan saringan 125 mikron, kemudian dicuci.

Pakan utama artemia adalah dedak halus yang berukuran kurang dari 50 mikron. Makanan lainnya adalah tepung terigu, tepung beras, ragi roti, ragi bir, ragi laut, dedak gandum, tepung kedelai dan tepung ganggang. Dedak dilarutkan 50-150 gram/liter air garam atau 150 gram dalam 1 liter air, kemudian diblender dan disaring kain halus 50 mikron. Larutan dedak dimasukkan ke dalam kantong plastik yang dilengkapi keran untuk pemberian pakan. Jumlah pemberian pakan ditentukan berdasarkan kekeruhan medium, yaitu untuk Artemia dewasa lebih 2 minggu, kekeruhannya 20-25 cm dan artemia berumur kurang dari 2 minggu, kekeruhannya 15-20 cm.

Usaha Pembesaran

Benih pada tingkat Nauplius instar 1, belum diberi makanan. Pemberian makan untuk umur 1-5 hari, ditandai dengan kekeruhan 15-20 cm dan untuk umur lebih dari 6 hari ditandai dengan kekeruhan 20-25 cm. Alat penyaring air dipasang dengan mata saringan yang diperbesar sesuai umur Artemia, yaitu 200, 250, 350 dan 450 mikron. Kadar oksigen, pH dan suhu air diamati secara rutin. Aerasi ditambah bila oksigen kurang dari 2 mg/liter dan pH kurang dari 7,5. Air medium ditambah 2 gram/liter NaHCO3 bila pH turun. Bak ditutup plastik malam hari untuk mencegah fluktuasi suhu. Suhu yang baik adalah 25-30 C. Kotoran yang mengendap harus selalu disedot.

Panen dilakukan pada umur 2 minggu, yaitu saat ukuran artemia 8 mm. Sebelum penangkapan, aerasi dihentikan selama 30 menit, lalau artemia yang naik ke permukaan diserok dengan seser kain halus. Artemia dapat langsung dimanfaatkan atau disimpan dalam freezer.

3. Infusoria

Persiapan bibit diambil dari alam menggunakan pipet panjang dan berujung halus, lalu diperiksa dengan menggunakan mikroskop. Penangkapan bibit menggunakan media air rebusan 70 gram jerami dalam air suling selama 15 menit. Setelah dingin, air tersebut disaring dan diencerkan sampai volumenya menjadi 1,5 liter. Selain jerami, media yang digunakan adalah kacang panjang, kacang hijau dan daun selada. Ambil 10 ml medium dan encerkan dalam cawan petri yang ditutup kain sutra, lalu simpan ditempat gelap suhu 28 C selama 1-2 minggu.

Pemeliharaan pakan dengan menebarkan bibit ciliate. Setelah makanan tumbuh, yaitu 1 minggu setelah persiapan wadah, warna air medium berubah menjadi keputih-putihan. Apabila medium berbau busuk, lakukan pergantian air secara bertahap dengan menggunakan selang air. Infusoria bisa dipanen dalam waktu 1 minggu, ditandai dengan perubahan warna medium menjadi keputih-putihan.

4. Chlorella

Persyaratan lokasi Chlorella  adalah salinitas 0-35 ppt dan optimal pada 10-20 ppt, kisaran suhu optimal 25-30 C dan maksimum pada 40 C. Pemeliharaan pakan dalam wadah 1 galon adalah bibit ditebar dalam medium yang diberi pupuk, sampai airnya berwarna agak kehijau-hijauan. Bibit yang masuk disarng dengan saringan 15 mikron. Wadah disimpan dalam ruang labotarium dibawah penyinaran lampu neon dan air diberi udara terus-menerus. Setelah 5 hari, Chlorella sudah tumbuh dengan kepadatan sekitar 10 juta sel/ml. Airnya berwarna hijau segar. Hasil penumbuhan digunakan sebagai bibit pada penumbuhan wadah yang lebih besar.

Secara berkala, medium perlu dipupuk susulan, ditambah air dan diberi obat pemberantas hama. Chlorella dipanen total pada 60 liter per 1 ton dan langsung diumpankan pada ikan.

5. Tetraselmis

Persyaratan lokasi Tetraselmis adalah salinitas 15-36 ppt dan kisaran suhu 15-35 C. Pemeliharaan pakan dalam wadah 1 liter. Bibit ditebar dalam medium yang telah diberi pupuk sebanyak 100.000 sel/mil. Airnya diaerasi terus dan diletakkan dalam ruang ber-AC, dibawah sinar lampu neon. Setelah 4-5 hari, Tetraselmis telah berkembang dengan kepadatan 4-5 juta sel/ml. Cara pemanenan adalah langsung diumpankan dan diambil dari budidaya massal 1 ton.

6. Dunaliella

Persyaratan lokasi dunaliella adalah salinitas optimum 18-22% NaCI, untuk produksi carotenoid lebih dari 27% NaCI dan bertahan pada 31% NaCI, suhu optimal 20-40 C, pH optimal 9 dan bertahan pada pH sebesar 11. Dalam pemeliharaan pakan, perhatikan penempatan wadah agar mendapat cahaya, sehingga fotosintesis berjalan lancar. Setelah pupuk tercampur merata, bibit dimasukkan 1/3 bagian. Wadah ditutup kapas atau styrofoam yang diberi selang untuk mencegah kontaminasi. Empat hari setelah masa pemeliharaan, Dunaliella dapat dipanen dan diperbanyak pada wadah yang lebih besar. Cara pemanenan adalah langsung diumpankan dan diambil dari budidaya massal 1 ton.

7. Diatomae

Persyaratan lokasi Diatomae adalah suhu optimal 21-28 C dan intensitas cahaya 1.000 luks. Pemeliharaan pakan dalam wadah 1 liter. Bibit ditebar dalam medium yang telah diberi pupuk sebanyak 7.000 sel/mil. Airnya diaerasi terus dan wadah diletakkan dalam ruang ber-AC, dibawah sinar lampu neon, setelah 3-4 hari, diatomae telah berkembang dengan kepadatan 6-7 sel/ml. Hasilnya digunakan sebagai bibit pada penumbuhan berikutnya.

Pemanenan menggunakan alat penyaring pasir, terbuat dari ember plastik 60 liter, yang bagian bawahnya dipasang pipa PVC berdiameter 5 cm, berlubang-lubang kecil sebagai saluran pembuangan air. Ember diisi kerikil berukuran 2-5 mm dan pasir berdiameter 0,2 mm, dengan bagian dari jumlah isi pasir dan kerikil, 8 cm di atas permukaan pasir dibuat lubang perluapan. Diatomae dari bak pemeliharaan dimasukkan ke dalam bak penyaring pasir dengan cara dipompa dan tersaring oleh lapisan pasir. Dari lubang pengurasan, pompakan air yang akan menembus lapisan kerikil pasir dan luapkan air beserta Diatomae melalui lubang peluapan, lalu tampung dalam wadah.

8. Spirulina

Persyaratan lokasi Spirulina adalah pH optimal 7,2-9,5 dan maksimal 11, suhu optimal 25-35 C. Spirulina tahan terhadap kadar garam tinggi, yaitu sampai dengan 85 gram/liter. Dalam pemeliharaan pakan, perhatikan penempatan wadah agar mendapat cahaya sehingga fotosintesis berjalan lancar. Setelah tercampur merata, bibit dimasukkan sebanyak 1/5-1/10 bagian. Empat hari setelah pemeliharaan, Spirulina dapat dipanen dan dikultur pada wadah yang lebih besar.

Keunggulan pakan alami adalah sebagai berikut:

  1. Tidak menurunkan kualitas air. Hal ini berlaku untuk jenis pakan alami yang hidup dan pakan buatan mengendap didasar perairan. Pakan buatan sisa akan terurai menjadi amonia, nitrit, nitrat dan lainnya. Dalam proses penguraian dibutuhkan oksigen sehingga kadar oksigen diair akan menurun.
  2. Tidak mudah rusak. Pakan alami berbentuk organisme dapat hidup lebih lama dan tidak mudah rusak.
  3. Mudah dicerna ikan. Pakan alami mudah dicerna dalam saluran pencernaan ikan, serta mudah diserap usus ikan.
  4. Cepat berkembang biak. Pakan alami cepat berkembang biak di lingkungan yang kaya bahan organik. Sebaliknya, perkembangan pakan alami diawasi supaya tidak lepas kontrol karena dapat menyebabkan kerusakan air jika terlalu banyak.

Bagikan Artikel Ini Ke Teman Anda.

Facebook Twitter Google+

Tentang Penulis

Penulis banyudadi
Diposkan oleh :

Banyudadi adalah penyedia dan penyalur benih ikan air tawar, seperti: Gurame, Lele, Nila, Bawal, Patin, Ikan mas, Graskap, Tawes, Nilem, Gabus dan juga beberapa jenis ikan hias seperti: Koi, cupang, Komet, dll yang dihasilkan dari produksi para kelompok-kelompok petani perikanan yang terdaftar di Dinas Perikanan Prop. DI. Yogyakarta maupun Dinas Perikanan se-Kab. di DI. Yogyakarta.

Baca Juga Artikel Ini

2 thoughts on “Pakan Alami Ikan Mujair

Leave a Reply

Your email address will not be published.