Makanan Dan Kebiasaan Makan Ikan Patin

Patin adalah ikan omnivor (pemakan segala) dan cenderung menjadi karnivor (pemakan hewan/daging). Di alam, patin memakan ikan-ikan kecil, cacing, detritus, serangga, biji-bijian, potongan daun tumbuh-tumbuhan, rumput-rumputan, udang-udang kecil dan moluska. Dalam pemeliharaannya, patin dapat memakan pakan buatan (artificial foods) berupa pelet.

Kebiasaan Makan Ikan Patin

Larva dan benih patin memakan plankton (fitoplankton dan zooplankton). Larva patin baru mulai memangsa pakan dari luar setelah cadangna makanan berupa kuning telurnya habis, antara lain Bracinous calicyflorus, Synchaeta sp, Notholca sp, Polyarthra platyptera, Hexartra mira, Bracinous falcatus, Asplanchna sp, Concchilus sp, Filina sp, Brachinous angularis, Kratella cochlearis dan Kratella quadrata. Benih yang berukuran lebih besar hingga menjadi ikan muda memakan Paramaecium, Larva Artemia, cladocera (Moina sp, Daphnia, Bosmina sp, Sida sp, Diaphanosoma sp, Chidorus sp dan lain-lain), Copepoda dan sebagainya.

Benih yang dipelihara di wadah terkontrol akan tumbuh baik dengan pemberian pakan yang terdiri dari pakan alami dan pakan buatan. Penelitian Wahyuningsih (1988) menyatakan bahwa kebutuhan jenis pakan untuk benih patin siam, yaitu 75% pakan alami dan 25% pakan buatan.

Dalam pembudidayaan, pemeliharaan pada sangkar di Sungai Musi, patin diberikan pelet dengan kadar protein 20-25% sebanyak 5% dari berat tubuh ikan tiap harinya. Untuk calon induk, diberikan pakan dengan kadar protein 35% dan tambahan pakan ikan rucah dua kali seminggu sebanyak 20% dari total berat badan (Gaffar dan Nasution, 1990). Benih patin dari hasil pembenihan pijah rangsang dan dibesarkan dikolam yang diberi pakan berupa pelet komersial dengan kandungan protein 27% berukuran rata-rata 58,75 g dan setelah dipelihara 4 bulan mencapai ukuran rata-rata 472,5 g dengan konversi pakan 1,43 (Arifin, 1990).

Percobaan pembesaran patin menggunakan sangkar apung dengan benih berbobot rata-rata 109 g dan 172 g yang ditebar dengan kepadatan 72 ekor/sangkar pada sangkar ukuran 1,5x1x1,5 m. Pakan yang diberikan berupa pelet yang terdiri atas 30% tepung ikan, 25% tepung kedelai, 25% bungkil kelapa dan 20% dedak halus diberikan sebanyak 4-5% dari berat total ikan/hari. Setelah 2 bulan pemeliharaan, sangkar pertama ikan patin dengan rata-rata bobot awal 109 g tumbuh menjadi 186,5 g dengan konversi pakan 4,6. Pada sangkar kedua, ikan patin dengan rata-rata bobot awal 172 g tumbuh menjadi 281,3 g dengan konversi pakan 5. Kelangsungan hidup (sintasan) masing-masing mencapai 98,7% dan 100% (Ondara, 1980).

Penelitian yang dilakukan oleh Asyari (1997) dengan menggunakan sangkar berukuran 2x3x1,5 m persegi, benih yang ditebar berukuran panjang dan bobot rata-rata 30,98 cm (25,5-37,7 cm) dan 253,4 (140,5-376 g) ditebar dengan jumlah ikan 22 ekor/sangkar. Patin diberi pelet komersial dengan kandungan protein 23% sebanyak 2% dari bobot tubuh ikan per hari yang diberikan 1% pagi dan 1% sore. Setelah 1 tahun dipelihara, ikan mencapai bobot 2.445 g atau 965% dari bobot awal 253,4 g dengan rata-rata pertambahan bobot sebesar 182,63 g per bulan, sedangkan pertumbuhan panjang mencapai 57,12 cm dari panjang awal rata-rata 30,98 cm. Laju pertumbuhan rata-rata ikan adalah 21,45% per bulan atau 0,71% per hari, kelangsungan hidup 90,9% dengan konversi pakan 3,7. Konversi pakan ini cukup tinggi, yaitu 2,7-3,97 dibandingkan penelitian Arifin dan Asyari (1992). Hal ini disebabkan oleh pemberian pakan yang kurang efisien, dimana sebagian makanan ada yang terbuang ke luar sangkar sebelum dimakan ikan.

Penelitian Suhenda , dkk. (2003) pada benih patin siam (Pangasius hypophthalmus) dengan menggunakan benih ukuran 7,6  g/ekor, berkesimpulan bahwa pakan yang mengandung protein 35%, karbohidrat 36% dan lemak 4% memberikan pertumbuhan terbaik bagi benih. Penelitian Subamia dan Suhenda (2003) juga menyatakan bahwa kebutuhan protein yang tepat untuk pertumbuhan benih patin siam adalah 35%.

Pakan untuk induk sebaiknya mengandung protein minimal 30%, sedangkan induk pembesaran, yang diberikan minimal mengandung protein 20%.

Bagikan Artikel Ini Ke Teman Anda.

Facebook Twitter Google+

Tentang Penulis

Penulis banyudadi
Diposkan oleh :

Banyudadi adalah penyedia dan penyalur benih ikan air tawar, seperti: Gurame, Lele, Nila, Bawal, Patin, Ikan mas, Graskap, Tawes, Nilem, Gabus dan juga beberapa jenis ikan hias seperti: Koi, cupang, Komet, dll yang dihasilkan dari produksi para kelompok-kelompok petani perikanan yang terdaftar di Dinas Perikanan Prop. DI. Yogyakarta maupun Dinas Perikanan se-Kab. di DI. Yogyakarta.

Baca Juga Artikel Ini

8 thoughts on “Makanan Dan Kebiasaan Makan Ikan Patin

  1. Mas Anto

    Joe Yip

    Greeting, i wish to know what’s the best food for patin and where to get it? I wish to get bulk order. Thanks.

    Reply
  2. Mas Anto

    Haris Shahrizal Haryoto

    Salam mas anto…Sy berminat uyk beternak ikan patin berapa harga benih patin ukuran 12 cm. Dan perlu berapa lama utk mencapai Berat seekor 500gr . ..Atau bolekah kah sy konsultasi di no hp berapa ya.t.kasih banyak2 sebelumnya ya . Salam

    Reply
  3. Mas Anto

    munir basuni

    Mas anto sy piara patin di aquarium 8 ekor cocokkah makanan pelet ikan mas koki sy beri

    Reply
  4. Mas Anto

    mukhlash amali

    Benih ikan patin seekornya berapa ya? Terus kalo dijualnya berapa per kg kalo yang dewasa?

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published.