Macam-Macam Lokasi Pendederan Ikan Gurami

1) Pendederan di kolam

Pendederan dengan cara ini bisa dilakukan oleh pembudi daya yang memiliki kolam. Ukuran kolam hendaknya tidak terlalu luas karena lebih sulit pengelolaannya. Sebaiknya, kolam yang dibuat berukuran 100 m2 per petak. Kegiatan selanjutnya adalah persiapan kolam yang sama seperti pada waktu persiapan kolam induk. Kegiatan persiapan kolam mencakup perbaikan kolam, pengapuran, pemberantasan hama dan pemupukan. Umumnya, pengolahan tanah dasar untuk benih tidak dilakukan dengan cara penyangkulan tanah dasar. Bahkan, tanah dasar dibuat padat agar benih gurami tidak terbenam pada lumpur ketika dipanen.

Kolam Pendederan Gurami Dengan Lampu

Kolam di lengkapi lampu untuk mempertahankan suhu

Sebelum dimasukkan dalam kolam pendederan, benih harus diaklimatisasi terlebih dahulu agar beradaptasi dengan lingkungannya. Aklimatisasi dilakukan dengan memasukkan wadah ikan beserta airnya ke dalam kolam pendederan secara perlahan. Hal ini dimaksudkan agar air kolam dan air dalam wadah pengangkut benih bercampur sedikit demi sedikit. Dengan begitu, benih akan beradaptasi secara perlahan dengan lingkungan barunya.

Pendederan dapat dilakukan dari pendederan 1-4 dan ada yang sampai pendederan 5. Padat penebaran awal pada  kolam pendederan 1 adalah 40-60 ekor/m2 dengan berat awal benih 2 g/ekor. Pembudi daya biasa memberikan naungan berupa daun pisang kering. Tempat naungan ini sekaligus berfungsi sebagai tempat berkumpulnya benih. Selain daun pisang kering, naungan juga bisa menggunakan daun dileman. Selain sebagai naungan, daun dileman juga berfungsi sebagai antibiotika. Daun pisang biasa digunakan pada pendederan 1, sedangkan daun dileman digunakan pada pendederan 2.

2) Pendederan di sawah

Pendederan ikan bisa dilakukan di sawah. Namun, hanya ada dua pola pemeliharaan benih gurami yang dapat dilakukan di sawah, yaitu pola penyelang dan pola palawija.

  • Pola penyelang adalah pemeliharaan gurami dalam sawah sebagai penyelang di antara kegiatan pemeliharaan padi, yaitu ketika: (1) lahan sawah sedang digenangi sehabis panen menunggu pengolahan tanah berikutnya dan (2) selama penyemaian dan lahan sawah digenangi air menunggu penanaman. Umur pemeliharaan ikan dalam pola ini sekitar 15-30 hari. Benih gurami yang ditebar pada pendederan 1 berukuran 1-2 cm dengan padat tebar 3-5 ekor/m2 atau lanjutan dari penetasan telur yang telah dilakukan disawah. Pada fase ini, pertumbuhan benih biasanya sangat cepat karena lahan sawah setelah panen memiliki kandungan pakan alami (Daphnia, Infusaria, Moina, Rotifera) cukup melimpah.
  • Pola palawija merupakan pemeliharaan gurami disawah sebagai pengganti palawija. Waktu pemeliharaan dilakukan setelah penanaman padi dilakukan dua kali hingga memasuki musim tanam berikutnya. Pola ini hanya dapat dilakukan jika pengairan sawah menunjang karena pada selang musim tanam padi tersebut curah hujan sangat rendah.

3) Pendederan di bak atau tangki

Pendederan secara terkontrol di bak atau di tangki masih jarang dilakukan. Kalau pun dilakukan, cara ini membutuhkan penelitian ddan modal yang cukup besar. Kapasitas bak yang sering digunakan 5-8 ton atau 2 m x 3 m, 2 m x 4 m, atau 2 m x 5 m. Selanjutnya, bak diisi air setinggi 0,8-1 m. Pergantian air dalam bak pendederan dilakukan secara kontinu. Persiapan paling penting untuk pendederan didalam bak adalah mendisinfeksi bak dari penyakit dengan menggunakan klorin. Padat penebaran berkisar 20-30 ekor/m3 dengan ukuran benih 50 g/ekor. Namun, dapat juga untuk mendederkan benih yang berukuran lebih kecil.

4) Pendederan di karamba

Pendederan di karamba dapat dilakukan di kolam, sungai, serta genangan air lainnya seperti rawa atau embung yang memiliki aliran air cukup tenang. Bangunan karamba dapat dibuat dari bahan bambu, kayu, logam atau kawat dengan ukuran ideal 1 m x 1 m x 2 m. Karamba diletakkan di dalam air dengan posisi beberapa bagian atas karamba terlihat, setidaknya bagian dasar kurungan berada 1 m dari dasar perairan. Padat penebaran gurami sebanyak 100-200 ekor/m3 dengan bobot benih 50 g/ekor.

Standar Kolam Pendederan Gurami

Kolam pendederan baiknya tidak terlalu luas

5) Pendederan di jaring apung

Prinsip pendederan gurami dengan jaring apung hampir sama dengan karamba. Perbedaannya pada bahan pembuat media pemeliharaan. Jaring apung terbuat dari jaring nilon yang dilengkapi dengan pelampung. Jaring apung ditempatkan pada badan air yang cukup dalam seperti rawa, embung, waduk atau danau yang memiliki aliran air tenang dan terlindung dari hempasan angin. Ukuran jaring apung dapat disesuaikan dengan kemampuan pembudi daya dan kondisi perairan. Jaring apung dapat dibuat dengan ukuran 8 m x 6 m x 1 m atau 7 m x 7 m x 1 m. Adapun padat penebaran pada jaring apung sekitar 300 ekor/m3 dengan berat benih 50 g per ekor.

Pemanenan

Grade atau tingkat ukuran usaha pendederan yang dilakukan oleh pembudi daya gurami disesuaikan dengan kebutuhan atau permintaan pasar. Ada pembudi daya yang melakukan pendederan hanya sampai P1 dengan P2 atau tingkat P3 dengan P4 dan lain sebagainya. Mereka para pembudi daya melakukan tingkat pendederan dengan pertimbangan tertentu di antaranya untuk melayani permintaan pasar, keterbatasan lahan, modal atau menginginkan percepatan perputaran modal yang diinvestasikan.

Pemanenan pada pendederan gurami dapat dilakukan secara keseluruhan maupun bertahap. Panen secara keseluruhan dilakukan dengan menghabiskan seluruh ikan. Pemanenan secara keseluruhan dapat dilakukan dengan mengalirkan air ke saluran pembuangan sehingga gurami akan berkumpul didekat saluran pembuangan.

Sementara pemanenan bertahap dilakukan karena adanya permintaan pasar dalam jumlah yang tidak banyak. Pemanenan bertahap atau sebagian dapat menggunakan jaring plastik berukuran 1,5 m x 2,5 m. Satuan produksi pendederan biasanya dinyatakan dalam ekor atau bobot biomassa, tergantung fase dan jenis ikan yang diproduksi.

Bagikan Artikel Ini Ke Teman Anda.

Facebook Twitter Google+

Tentang Penulis

Penulis banyudadi
Diposkan oleh :

Banyudadi adalah penyedia dan penyalur benih ikan air tawar, seperti: Gurame, Lele, Nila, Bawal, Patin, Ikan mas, Graskap, Tawes, Nilem, Gabus dan juga beberapa jenis ikan hias seperti: Koi, cupang, Komet, dll yang dihasilkan dari produksi para kelompok-kelompok petani perikanan yang terdaftar di Dinas Perikanan Prop. DI. Yogyakarta maupun Dinas Perikanan se-Kab. di DI. Yogyakarta.

Baca Juga Artikel Ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.