Lokasi Kolam Terpal Ikan Bawal

Kolam konvesional, seperti kolam air mengalir dan kolam air deras, pembangunannya harus dilakukan di lokasi ideal, terutama di lokasi dimana kuantitas air (debit air) dan kualitas airnya memenuhi syarat pembuatan kolam. Faktor tanah juga penting dalam membangun kolam karena terkait dengan kemampuan tanah untuk menampung air. Kuantitas dan kualitas air merupakan faktor utama dalam setiap pemilihan lokasi. Namun pada budi daya ikan di kolam terpal, sekalipun merupakan faktor penting, kuantitas dan kualitas air tidak menjadi faktor pembatas.

Lokasi yang baik untuk budidaya bawal

Sumber air untuk kolam terpal tidak hams berasal dari sumber air utama yang dikenal dalam sistem budi daya konvensional, seperti danau, waduk, sungai, raws-rawa, dan saluran irigasi. Kolam terpal bisa diisi air sumur, air dari PAM (Perusahaan Air Minum), air hujan yang tela.h ditampung, air limbah yang telah di-treatment, dan sumber air lain yang diangkut dengan menggunakan ember atau mobil.

Sejak mulai dikembangkan pada tahun 1999, kolam terpal telah berkembang hingga di daerah-daerah yang sulit air semacam Gunung Kidul, Yogyakarta. Di Desa Gading, Rec. Playen Gunung Kidul, sistem budi daya lele di kolam terpal menggunakan air yang diambil dari mata air dengan Cara diangkut dengan mobil pick up. Bahkan ada pembudidaya yang membeli air seharga Rp. 85.000/tanki (isi 3.000 liter) untuk mengisi kolam terpal. Namun demikian, pemanfaatan lahan sempit atau kritis untuk pembangunan kolam terpal membutuhkan beberapa pertimbangan, baik teknis maupun sosial ekonomis.

A. PERTIMBANGAN TEKNIS

  1. Ada beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan dalam membangun kolam terpal, antara lain:
    Terdapat sumber air untuk mengisi kolam terpal. Sumber air berupa sumur, air PAM, air hujan yang ditampung, dan lain-lain yang layak digunakan. Lebih ideal lagi, jika kolam terpal mendapat pasokan dari sungai, saluran irigasi, waduk, atau danau.
  2. Ketinggian lokasi perlu diperhatikan Karena terkait dengan suhu air. Ketinggian yang cocok untuk budi daya ikan BAT adalah 100-800 m dpl. Namun BAT juga dapat hidup di dataran rendah, sehingga ikan ini dapat dipelihara di ketinggian 0-800 m dpl.
  3. Ukuran ikan. Ukuran yang akan dipelihara perlu diper- timbangkan karena terkait dengan kedalaman air di dalam kolam. Misalnya, benih cocok dipelihara pada kedalaman air 40-50 cm. Untuk menampung air sedalam 40 cm, ketinggian atau kedalaman kolam adalah sekitar 60 cm. Sedangkan untuk usaha pembesaran yang menggunakan benih ukuran 2030 g/ekor, dibutuhkan kedalaman air antara 80100 cm. Untuk menampung air sedalam 100 cm diperlukan kolam dengan ketinggian atau kedalaman sekitar 120 cm. Ketinggian atau kedalaman air di dalam kolam perlu diperhatikan Karena terkait pula dengan kontruksi kolam, terutama kolam yang dibangun di atas permukaan tanah dengan menggunakan kerangka kayu atau bambu.
  4. Dasar tanah untuk peletakan kolam terpal hams rata. Kerangka yang digunakan pun tidak boleh berbahan tajam karena dapat mengakibatkan terpal sobek. Bila tanah tidak rata, sebaiknya diberi lapisan dari pelepah batang pisang atau sekam padi. Selain berfungsi meratakan tanah, kedua bahan ini dapat membuat suhu menjadi stabil.
  5. Untuk kolam yang dibangun di daerah pemukiman penduduk perlu dipikirkan penanganan limbah air kolam. Penampungan untuk buangan air limbah perlu dibangun, fungsinya adalah untuk mengolah air limbah pemeliharaan ikan sebelum air dibuang ke saluran umum. Bisa juga membangun saluran yang permanen yang terhubung langsung dengan sungai atau kanal besar. Atau, membangun bak atau sumur resapan untuk menampung limbah yang dibuang. Adalah lebih baik jika air limbah ditampung untuk menyiram tanaman, karena sisa pakan dan kotoran ikan pada air limbah mengandung protein tinggi. Menyiram tanaman, karena sisa pakan dan kotoran ikan pada air limbah mengandung protein tinggi.

B. PERTIMBANGAN SOSIAL-EKONOMIS

Pemeliharaan ikan BAT di kolam terpal juga membutuhkan pertimbangan faktor sosial-ekonomi, di antaranya:

  1. Lokasi yang dipilih bukanlah lokasi sengketa. Sekalipun kolam terpal mudah dibongkar dan dipindahkan, sebaiknya lokasi yang dipersengketakan tidak dipilih Karena dapat merugikan.
  2. Dekat dengan daerah pengembangan budi daya ikan BAT, sehingga memudahkan memperoleh benih untuk kegiatan pembesaran. Bila dilakukan kegiatan pembenihan, maka mudah diperoleh induk dan calon induk.
  3. Tersedia sarana dan prasarana transportasi yang memadai untuk memudahkan pengadaan alat, bahan, transportasi benih, induk, basil panen dan lain-lain.
  4. Adanya alat dan bahan di seitar lokasi, atau pengadaannya mudah.
  5. Pasar cukup terbuka untuk menampung produksi, baik pasar lokal maupun pasar ekspor serta harga yang cukup memadai.
  6. Lokasi cukup aman dari berbagai gangguan, baik hewan-hewan liar maupun gangguan manusia (pencurian). Atau, ada cara yang efektif untuk mengatasi gangguan tersebut.
  7. Adanya sumber energi listrik untuk penerangan dan kebutuhan lainnya.
  8. Adanya dukungan dari pihak-pihak terkait, misalnya permodalan dan lain-lain. Untuk petani ikan kecil, dukungan juga dapat berupa penyuluhan teknis dan pemasaran hasil.

Bagikan Artikel Ini Ke Teman Anda.

Facebook Twitter Google+

Tentang Penulis

Penulis banyudadi
Diposkan oleh :

Banyudadi adalah penyedia dan penyalur benih ikan air tawar, seperti: Gurame, Lele, Nila, Bawal, Patin, Ikan mas, Graskap, Tawes, Nilem, Gabus dan juga beberapa jenis ikan hias seperti: Koi, cupang, Komet, dll yang dihasilkan dari produksi para kelompok-kelompok petani perikanan yang terdaftar di Dinas Perikanan Prop. DI. Yogyakarta maupun Dinas Perikanan se-Kab. di DI. Yogyakarta.

Baca Juga Artikel Ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.