Lokasi Kolam Terpal Budidaya Ikan Patin

Sebelumnya telah dijelaskan bahwa kolam terpal merupakan salah satu alternatif teknologi budi daya ikan yang diterapkan pada lahan sempit, lahan minim air atau lahan yang tanahnya porous, terutama tanah berpasir. Artinya, kolam terpal merupakan salah satu solusi untuk pengembangn budi daya ikan dilahan kritis dan sempit.

Bebeda dengan kolam konvesional (misalnya, kolam air mengalir dan kolam air deras) yang pembangunannya harus dilakukan pada lokasi ideal, terutama memiliki kuantitas air (debit air) dan kualitas air. Selain itu, untuk membangun kolam konvesional, faktor tanah juga penting karena terkait dengan kemampuannya menampung air. Begitu juga jika mengembangkan sistem budi daya yang berbasis air (water-base aquaculture), seperti budi daya ikan di hampang, keramba atau keramba jaring apung (KJA) yang ditempatkan di danau, waduk atau laut. Kuantitas dan kualitas merupakan faktor utama dalam setiap pemilihan lokasi. Pada budi daya ikan patin di kolam terpal, kuantitas dan kualitas air sekalipun faktor penting tidak menjadi faktor pembatas.

Lokasi budidaya patin di terpal

Sumber air untuk kolam terpal tidak harus berasal dari sumber air utama, seperti danau, waduk, sungai, rawa-rawa atau saluran irigasi. Kolam terpal dapat diisi dengan air sumur, air dari PAM (Perusahaan Air Minum), air hujan yang telah ditampung, dan air limbah yang telah di-treatment.

Pemanfaatan lahan sempit atau kritis untuk pembangunan kolam terpal perlu beberapa pertimbangan, antara lain:

1. Pertimbangan Teknis

Kolam terpal dapat dibangun di berbagai tempat, termasuk dihalaman rumah, bekas garasi mobil atau bekas gudang. Beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan dalam membangun kolam terpal adalah sebagai berikut:

a. Ada sumber air untuk mengisi kolam terpal. Sumber air tersebut dapat berasal dari air sumur, air PAM, air hujan yang ditampung dan lain-lain yang layak digunakan. Lebih ideal lagi jika kolam terpal mendapat pasokan dari sungai, saluran irigasi, waduk atau danau.

b. Ketinggian lokasi perlu diperhatikan karena terkait dengan suhu air. Untuk budi daya ikan patin, ketinggian yang cocok adalah 0-800 m dpl.

c. Ukuran ikan yang hendak dipelihara perlu dipertimbangkan karena terkait dengan kedalaman air didalam kolam, misalnya benih patin cocok dipelihara pada kedalaman air 40-50 cm. Untuk menampung air sedalam 40 cm, cukup dibuat kolam dengan ketinggian atau kedalaman sekitar 60 cm, sedangkan untuk usaha pembesaran yang menggunakan benih berukuran 100 g/ekor, dibutuhkan kedalaman air mencapai 100 cm, diperlukan kolam dengan ketinggian atau kedalaman sekitar 120 cm.

d. Dasar tanah untuk peletakan kolam terpal harus rata, begitu pula dengan kerangka yang digunakan tidak berbahan tajam yang dpaat membuat terpal sobek. Bila tanah tidak rata, sebaiknya diberi lapisan dari pelepah batang pisang atau sekam padi. Selain berfungsi meratakan tanah, kedua bahan tersebut dapat menstabilkan suhu.

e. Untuk kolam yang dibangun di daerah pemukiman penduduk, perlu dipikirkan penanganan limbah air kolam. Perlu diupayakan penampungan untuk buangan air limbah sehingga air limbah dari peliharaan ikan dapat diolah lebih dahulu sebelum dibuang ke saluran umum. Selain itu, dapat pula membangun bak atau sumur resapan untuk menampung limbah yang dibuang atau membangun saluran yang permanen, yang terhubung langsung dengan sungai atau kanal besar.

2. Perkembangan sosial-ekonomi

Pengembangan budi daya patin di kolam terpal juga perlu pertimbangan faktor sosial-ekonomi, antara lain:

a.  Lokasi yang dipilih untuk memelihara patin dengan kolam terpal bukanlah lokasi sengketa. Sekalipun kolam terpal mudah dibongkar dan dipindahkan, namun sebaiknya lokasi yang dipersengketakan tidak dipilih karna dapat merugikan.

b. Dekat dengan daerah pengembangan budi daya ikan patin sehingga memudahkan memperoleh induk atau benih.

c. Tersedia sarana dan prasarana transportasi yang memadai untuk memudahkan pengadaan alat, bahan, transportasi benih, hasil panen dan lain-lain.

d. Adanya alat dan bahan di sekitar lokasi atau pengadaannnya mudah.

e. Pasar cukup terbuka untuk menampung produksi baik, pasar lokal maupun pasar ekspor, serta harga yang cukup memadai.

f. Lokasi cukup aman dari gangguan, baik hewan-hewan liar maupun gangguan manusia (pencurian). Atau ada cara efektif untuk mengatasi gangguan tersebut.

g. Adanya sumber energi listrik untuk penerangan dan kebutuhan lainnya.

h. Adanya dukungan dari pihak-pihak terkait, misalnya pemodalan dan lain-lain. Untuk petani ikan kecil, dukungan juga dapat berupa penyuluhan teknis dan pemasaran hasil.

 

Bagikan Artikel Ini Ke Teman Anda.

Facebook Twitter Google+

Tentang Penulis

Penulis banyudadi
Diposkan oleh :

Banyudadi adalah penyedia dan penyalur benih ikan air tawar, seperti: Gurame, Lele, Nila, Bawal, Patin, Ikan mas, Graskap, Tawes, Nilem, Gabus dan juga beberapa jenis ikan hias seperti: Koi, cupang, Komet, dll yang dihasilkan dari produksi para kelompok-kelompok petani perikanan yang terdaftar di Dinas Perikanan Prop. DI. Yogyakarta maupun Dinas Perikanan se-Kab. di DI. Yogyakarta.

Baca Juga Artikel Ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.