Kolam Konvensional Budidaya Lele

Selain kolam terpal, ada pula budidaya lele di kolam konvesional. Kolam konvesional ini juga memiliki beberapa keuntungan dibandingkan kolam terpal.

Pada umumnya, kolam lele hampir sama dengan kolam ikan budidaya lainnya. Kolam lele dibuat berbentuk persegi panjang dengan bagian yang panjang sejajar dengan arah angin. Luas satu petak kolam adalah 1000 m2 (40mx25m), dengan kedalaman air rata-rata 100 cm dan jagaan 25cm. Anatomi kolam lele secara umum sebagai berikut.

a. Pematang

Bentuk pematang yang biasanya disukai oleh peternak adalah bentuk trapesium yang melebar dibagian bawahnya. Idealnya kemiringan pematang tidak lebih dari 450C dengan ketinggian 110 cm. Sebaiknya bagian atas pematang dibuat dengan ukuran lebar 140 cm dan bagian bawahnya 260 cm. Pada bagian pematang ini nantinya dipukul-pukul agar keras dan tidak mudah longsor.

b. Saluran Masuk Air

Saluran masuk air berbentuk parit-parit yang terdapat dipinggir kolam dan letaknya lebih tinggi dari kolam. Saluran ini berfungsi untuk memasukkan air ke dalam kolam atau mengganti air kolam secara berkelanjutan.

c. Saluran Pembuangan Air

Saluran pembuangan berfungsi untuk membuang air kolam yang sudah keruh. Seperti halnya saluran masuk, saluran pembuangan ini juga berbentuk parit. Saluran pembuangan sebaiknay dibuat lebih besar atau ukuran lebarnya sekitar 50cm. Hal ini untuk mengantisipasi jika harus mengeringkan lebih dari satu kolam secara bersamaan. Tentu saja saluran ini dibuat lebih rendah daripada kolam agar semua air klam dapat habis terserap. Biasanya saluran pembuangan dibuat 25 cm lebih rendah dari dasar kolam. Saluran pembuangan dapat dibuat secara permanen dengan menggunakan semen.

d. Kemalir

Kemalir adalah sebuah parit kecil yang berada di dalam kolam. Kemalir berfungsi untuk menggiring ikan lele ke suatu tempat yang lebih sempit sehingga mudah ditangkap. Ukuran yang ideal untuk pembuatan kemalir adalah lebar 40 cm dengan kedalaman 20 cm.

e. Dasar Kolam

Sebaiknya dasaran kolam dibuat miring ke arah saluran pembuangan. Hal ini untuk mempermudah proses pembuangan air. Kualitas tanah yang baik menciptakan kondisi lingkungan yang layak untuk lele. Karena itu keasaman tanah harus dipertahankan. Caranya dengan menaburkan kapur sebanyak 100 g/m2 dan 200 g/m2 garam dapur ke dalam kolam.

Setelah mengetahui anatomi kolam lele dengan baik, langkah selanjutnya adalah memberikan kapur ke dalam kolam. Pemberian kapur ini bertujuan untuk memberantas hama, penyakit dan memperbaiki kualitas tanah yang digunakan untuk kolam budidaya. Dosis pemberian kapur yang dianjurkan yaitu 20-200 gram/m2, tergantung keasaman kolam. Untuk kolam dengan pH rendahh dapat diberikan kapur lebih banyak, juga sebaliknya apabila tanah sudah cukup baik, pemberian kapur boleh sedikit. Pemberian kapur pada tanah yang sudah baik ini hanya berfungsi untuk memberantas hama penyakit yang kemungkinan terdapat dikolam.

Selanjutnya petani dapat memberikan pemupukan dengan kotoran ternak ayam. Kotoran ayam tersebut dapat diberikan antara 500-700 gram/m2; urea 15 gram/m2; SP3 10 gram/m2; NH4N03 15 gram/m2. Kolam dibiarkan sekitar 7 hari, agar makanan alami untuk lele dapat tumbuh.

Setelah kolam siap digunakan, langkah selanjutnya adalah pengisian air ke dalam kolam. Pengisian air ini tidak boleh sembarangan. Pengisian air secara sembarangan dapat mengakibatkan proses budidaya gagal.

Jika kolam sudah siap digunakan, sebaiknya segera diisi air secara bertahap hingga mencapai ketinggian 60-80cm dari dasar kolam.

Kolam konvesional sangat banyak macamnya antara lain kolam tanah dan kolam tembok atau beton. Namun, pada umumnya kedua kolam ini memiliki anatomi yang sama. Perbedaannya adalah cara perawatan dan persiapan kolam yang akan digunakan untuk tempat budidaya. Berikut ini jenis-jenis kolam konvensional yang dapat digunakan untuk budidaya lele.

Bagikan Artikel Ini Ke Teman Anda.

Facebook Twitter Google+

Tentang Penulis

Penulis banyudadi
Diposkan oleh :

Banyudadi adalah penyedia dan penyalur benih ikan air tawar, seperti: Gurame, Lele, Nila, Bawal, Patin, Ikan mas, Graskap, Tawes, Nilem, Gabus dan juga beberapa jenis ikan hias seperti: Koi, cupang, Komet, dll yang dihasilkan dari produksi para kelompok-kelompok petani perikanan yang terdaftar di Dinas Perikanan Prop. DI. Yogyakarta maupun Dinas Perikanan se-Kab. di DI. Yogyakarta.

Baca Juga Artikel Ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.