Jenis Cupang Hias Yang Paling Populer

Diposkan oleh : / On Cupang
a. Cupang Serit (Crown Tail)

Cupang serit merupakan cupang asli indonesia dan jenis cupang pertama yang dibudidayakan di Indonesia. Siripnya yang serupa jarum atau berserit adalah parpanjangan dari tulang sirip. Cupang serit adalah kebanggaan bangsa Indonesia dalam memberikan sumbangan pada dunia cupang internasional. Hingga kini Indonesia dikenal sebagai penghasil cupang serit terbaik di dunia. Dalam setiap ajang kontes internasional cupang serit Indonesia selalu merajai kontes kategori serit. Bahkan cupang serit milik Walet Fish Collection, Batang, Jawa Tengah, telah memenangkan gelar kehormatan Grand Champion pada kontes bergengsi Aquafair 2006 di Malasyia dan Aquaria 2006 di Cina.

Jual Ikan Cupang Halfmoon DI Sini

Cupang Serit (Crown Tail)

Cupang Serit (Crown Tail)

Bermula pada tahun 1977 dari bilangan Haji Ten, Jakarta Timur, peternak andal indonesia, Ahmad Yusuf, menyilangkan indukan impor Thai berwarna biru yang memiliki ekor delta dan begerigi (biasa disebut gir oleh kalangan peternak lokan. Setelah beberapa kali dikawinkan, tercipta cupang serit yang pertama dengan warna biru, hijau, abu-abu dan maskot (cambodian).

Bulan Agustus 1998, pertama kalinya cupang serit turun dalam ajang kontes cupang di Pondok Indah Mal Jakarta. Dua ekor cupang serit berwarna hijau dan maskot, walaupun tidak menjadi juara, telah mengundang sensasi. Kedua cupang tersebut berbeda dari kebanyakan cupang yang ketika itu didominasi ekor lilin atau slayer. Cupang serit tersebut diminati karena bentuk siripnya yang unik seakan-akan ikan yang sobek dan rusak.

Pada bulan Mei 1999 sebelum pemilu, petani cupang di Slipi, Jakarta Barat, mulai mengambil dan mengembangbiakan indukan cupang serit dari Yusuf Mulailah Kamil. Akhirnya, Slipi dikenal sebagai sentra cupang serit nasional hingga kini. Dalam perkembangannya, serit berkembang menjadi dua, empat, hingga serit enam belas serta muncul pula varian serit balok, serit balon dan serit silang.

b. Cupang Halfmoon (Separuh Bulan)
Cupang Halfmoon (Separuh Bulan)

Cupang Halfmoon (Separuh Bulan)

Pada tahun 1982, Peter Goettner, seorang peternak cupang Amerika Serikat, telah sukses menghasilkan cupang yang memiliki bukaan ekor lebar mendekati 180 derajat dan berwarna hijau yang dinamakan Mr.Great oleh komonitas cupang di sana. Indukannya berasal dari peternak AS lainnya bernama Parris Jones yang telah sekian lama memperbaiki penampilan fisik ikan yang diperolehnya dari Chuck Halle pada tahun 1977.

Pada tahun 1983-1985, peternak Prancis mulai mendatangkan indukan-indukan Halfmoon dari para petani-petani cupang AS, seperti Petter Goettner, Paris Jones dan Guy Delaval. Delaval adalah seorang peternak guppy andal yang mencoba peruntungannya dengan cupang. Ia mencoba menernakkan cupang-cupang terbaik dengan cara selective inbredding hingga beberapa generasi. Hasil persilangannya menghasilkan suatu corak yang ganjil di tepi sirip-siripnya muncul warna putih, yang hingga saat ini banyak di jumpai pada cupang jenis halfmoon. Namun, Delaval juga mendapatkan bentuk cupang yang ideal menurutnya dan berencana menyempurnakan lagi penemuannya. Dengan bermodalkan empat akuarium dan sekitar sepuluh guci, Delaval bekerja keras meneruskan eksperimen cupangnya.

Pada tahun 1987 dalam suatu kontes cupang di Lyon, Prancis, Delaval memperlihatkan cupang halfmoon pertamanya yang memiliki bentuk yang menakjubkan dan simetris. Namun, ketika itu juri masih memandang cupang yang ideal adalah yang memiliki bentuk ekor bulat memanjang atau round tail dan double tail. Katua Asosiasi Anabantoid Jerman, membuat laporan hasil lomba cupang yang diselenggarakan di Lyon, Prancis, tersebut secara lengkap dan hanya menulis penemuan Delaval secara ringkas dengan mengatakan bahwa ikan cupang Delaval bagus.

Setahun kemudian, Delaval kembali menyertakan ikannya dalam kontes cupang di Lemann, Prancis. Walaupun ikannya luput dari perhatian juri, setidaknya satu peternak peserta terheran-heran dengan cupang Delaval. Ia adalah Rajiv Masillamoni yang terus-menerus memotret cupang Delaval. Masillamoni pun berminat untuk memiliki cupang yang memiliki penampilan sempurna tersebut. Ia pun mulai mendekati dan mendesak Delaval untuk menceritakan tentang ikannya. Masillamoni akhirnya berhasil membeli dua dari tiga ikan Delaval yang memiliki sirip ekor 180 derajat serta 7 ekor cupang lainnya, masing-masing 5 ekor jantan dan 2 ekor betina. Selanjutnya, masillamoni kembali ke Switzerland dan menernakkan ikan-ikan tersebut. Namun, hasilnya agak mengecewakan karena kedua ekor cupang betina itu tidak dapat bertelur dengan baik meskipun mampu membangun sarang.

Masillamoni tidak putus asa. Ia pun terus berusaha mendapatkan jantan yang lain dari ikan Delaval, tetapi tidak berhasil. Malangnya, salah satu cupang betina Delaval yang dimilikinya mati sehingga hanya tersisa satu ekor betina. Kebetulan anggota IBC asal Amerika datang ke Switzerland dan memberi Masillamoni cupang double tail jantan warna hitam melano dari galur Paris Jones. Masillamoni pun menernakan jantan itu dengan cupang betina Delaval yang masih tersisa. Hasilnya dia mendapatkan cupang jantan dengan sirip ekor 180 derajat berwarna hijau yang diberi seri “R39”.

Masillamoni menernakkan ikan dengan tiap-tiap betina di farmnya untuk melanjutkan garis keturunan cupang-cupangnya. Kemudian dia bergabung dengan Laurent Chenot dan Peternak Luc Jean Corso, yang menernakkan ikan hasil ternakkannya dengan betina mereka. Anakan dari keturunan R39 ini yang menjadi cikal bakal galur murni halfmoon yang ada saat ini.

Pada tahun 1991, Masillamoni membawa cupang-cupang 180 derajat terbaiknya pada Konvensi Tahunan IBC ke-25 di Milwaukee,Wisconsin. Namun, ia sangat dikejutkan ketika mengetahui bahwa sekali lagi wasit dengan sepenuhnya melewatkan ikannya dan cenderung memenangkan sirip double tail dan round tail yang menjadi standar  pada saat itu. Namun cupang-cupang tersebut menarik perhatian petani unggul Amerika Serikat, seperti Jeff Wilson, Peter Goettner, Parris Jones, Paul Tabah dan John Benn. Ketika itu untuk pertama kalinya Jeff Wilson menamai cupang dengan bentuk sirip yang baru milik Masillamoni sebagai halfmoon, karena bentuknya yang menyerupai bulan separuh.

Masillamoni bekerja sama dengan Wilson dan Laurent Chenot mencoba untuk membangun jenis baru ini menjadi galur yang tetap. Mereka saling bertukar ikan terbaiknya untuk mendapatkan cupang-cupang yang berkualitas untuk disilangkan. Kadang-kadang ikan yang sama berpindah dari Amerika, Prancis dan Swiss agar genetik baik yang dihasilkan tidak terputus. Hasilnya dicatat dan didokumentasikan. Alhasil, dengan cepat mereka menghadirkan halfmoon berkualitas baik.

Pada tahun 1992, Masillamoni dan Wilson memutuskan untuk menunjukan halfmoon terbaik milik mereka di konvensi IBC di Alabama. Mereka bersepakat, apapun hasilnya, akan tetap menyempurnakan cupang hasil temuannya. Sekali lagi juri menolak cupang halfmoon tersebut dan memilih cupang round tail dan double tail yang menjadi pemenangnya sesuai standar penilaian yang berlaku saat itu.Dari sekian banyak halfmoon yang diikutsertakan hanya satu ekor halfmoon warna hijau yang dapat memenangi juara kedua dikelas Form and Finnage variation, kelas yang disediakan untuk kupang yang memiliki bentuk dan sirip yang dilaur standar. Namun, halfmoon telah menarik lebih banyak minat petani-petani cupang lain. Mereka bersama-sama membentuk internasional Betta Splendens Club, suatu organisasi yang mewadahi peternak cupang halfmoon mancanegara.

Ketika pertukaran indukan berlangsung antarnegara dan halfmoon mulai banyak diminati, Masillamoni didekati oleh Marc Maurin, yang meminta pasangan halfmoon yang akan dijadikan indukan di Prancis. Pada waktu itu, Masillamoni hanya mempunyai 5 jantan halfmoon yang cukup baik untuk dibudidayakan. Iamemilih seekor yang kurang disukai dan dikirimkan ke Maurin. Dua minggu kemudian, ketika Masillamoni sedang menyiapkan diri untuk berangkat ke AS mengikuti kontes cupang disana, ternyata Maurin mengirim kembali ikan jantanya ke prancis, dengan pernyataan bahwa ikannya itu tidak mau di kawinkan. Walaupun Masillamoni menggap cupang tersebut kurang memenuhi standar, tetapi ia tetap membawa ikan tersebut ke AS bersama keempat saudara-saudara selubuknya.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, dalam konvensi IBC kali ini, lagi-lagi Masillimoni dilewatkan juri. Namun, satu ekor halfmoon jantan berwarna hijaunya telah memenangi juara pertama dikelasnya dan bersaing memperebutkan The Best of Show melawan cupang biru indah hasil ternakan Peter Goettner dengan sirip ekor 160 derajat. Melalui pengamatan lebih seksama. Masillimoni meyadari ternyata cupang halfmoon hijau tersebut adalah cupang yang dikembalikan oleh Marc Maulin. Cupang yang ia anggap kurang layak mengikuti kontes. Bahkan, juri tidak dapat memilih cupang halfmoon yang lebih baik dari itu.

Dalam penentuan The Best Of Show, cupang hijau halfmoon miliknya harus bersaing melawan cupang biru milik Peter Goettner dengan sirip ekor 160 derajat. Para juri tampaknya lebih memilih si cupang biru. Namun, keputusan belum juga dibuat. Sebagai penentu akhir dipilih juri yang perpengalaman Jim William. William menyoroti kedua ikan tersebut menggunakan senter kemudian dengan kaca pembesar. Pengunjung kemudian berkumpul, memandangi ikan-ikan tersebut dan memberikan opininya. Dengan ketelitiannya, William menemukan bahwa satu sisik cupang biru telah hilang. Tanpa ragu-ragu juri memutuskan bahwa cupang halfmoon asal Switzerland itu layak mendapat The IBC Convention Best of Show.

Pada saat itu seorang wartawan dari Majalah FAMA (Fish and Aquarium Magazine) yang kebetulan hadir di kontes tersebut menyebut cupang halfmoon tersebut sebagai cupang yang luar biasa. Ia memajang gambar halfmoon sang jawara di sampul majalahnya dan menulis cerita tentang asal-usul halfmoon tersebut. Dengan publikasi yang luas, halfmoon mulai dikenal dan digemari di seluruh dunia. Akhirnya, Peter Goettner, Sieg lllig, Leo Buss, Bonie McKinley dan petani cupang lainnya mulai menernakkan halfmoon dengan bentangan ekor 180 derajat. Kombinasi peternak andal dan kualitas ikan yang baik membantu popularitas bentuk sirip halfmoon ini. Pada gilirannya halfmoon sering memenangkan berbagai kompetisi cupang seantero Amerika Serikat.

Pada akhir tahun 1990-an, petani cupang dari Thailand mengirim permintaan ke petani-petani cupang Eropa dan Amerika untuk mendapatkan indukan halfmoon. Dengan kondisi habitat alam yang lebih baik dan sesuai bagi halfmoon yang memang berasal dari Asia Tenggara, peternak Thailand mampu meningkatkan kualitas halfmoon lebih baik lagi dan mengembangkannya menjadi halfmoon yang kaya warna.

Di Indonesia, cupang halfmoon dikenal pertama kali pada awal tahun 2000, yakni ketika Henry Gunawan mendatangkan beberapa pasang dari Eropa dan Amerika. Hingga saat ini perkembangan halfmoon sangat pesat dan banyak diminati karena ekornya yang lebar dan gerakannya yang anggun. Peternak indonesia mulai banyak mengembangkannya di samping cupang serit karena nila jualnya lebih baik.

c. Cupang Cagak (Double Tail)

Seiring dengan perkembangan halfmoon muncul pula cupang ekor cagak atau double tail, sebagai mutan dari ekor tunggal atau single tail. Double tail dicirikan dengan ekor ganda yang membelah di bagian tengah sirip ekor (caudl). Akibat mutasi genetik ikan ini memiliki sirip punggung yang panjangnya sama dengan sirip bawah dan memiliki sirip ekor atau dua cuping sirip ekor yang berbeda. Alhasil, jika si cupang mengembangkan ekornya tampak bercabang dua atau cagak.

Definisi double tail yang baik adalah suatu lingkaran penuh dengan tidak ada ruang terbuka (spasi) di antara ketiga sirip, baik disirip punggung, sirip bawah maupun sirip ekor. Dasar sirip di belakang double tail tampak lebih luas dibandingkan dengan single tail. Double tail yang ideal memiliki sirip bawah yang berhubungan secara simetris dengan sirip atas atau sirip punggung dan sirip ekor.

Cupang double tail memiliki cuping ekor yang sama dan seimbang di atas dan di bawah garis tengah ikan itu. Cuping ekor yang atas dan bawah harus seimbang. Bentuk setengah lingkaran layaknya halfmoon adalah bentuk yang ideal bagi kedua cuping ekor ketika mengembang.

Gen double tail sangat resesif terhadap gen single tail. Karena itu, jika double tail dikawinkan dengan single tail yang tidak membawa gen double tail akan menghasilkan anakan yang seluruhnya single tail, tetapi membawa gen double tail. Single tail yang memiliki genetik double tail biasanya ditandai dengan sirip punggung atau dorsal yang luasnya dua kali sirip punggung single tail normal. Hal ini karena ditopang dengan tulang sirip punggung atau dorsal yang lebih banyak. Jika single tail yang memiliki genetik double tail dikawinkan dengan sesamanya akan menghasilkan double tail dengan jumlah seperempat dari seluruh anakannya. Secara teoritis, bila double tail dikawinkan dengan sesama double tail akan menghasilkan seluruh anakan double tail. Namun, sering terjadi anomali yang menghasilkan juga anakan single tail atau ekor tunggal.

Di Indonesia double tail masih belum banyak diternakkan karena faktor keberhasilan memperoleh double tail yang sempurna sangat kecil. Para hobiis masih kesulitan untuk mendapatkan double tail berkualitas, baik untuk dipelihara maupun diikutkan dalam kontes. Tidak semua penyelenggara kontes menyediakan kontes double tail karena sedikitnya double tail yang siap kontes di tingkat peternak.

d. Cupang Plakat

Cupang Plakat

Cupang plakat adalah cupang ekor pendek, berasal dari bahasa Thai,Plakad, yang berarti cupang laga atau cupang aduan. Nama plakat dipakai di mancanegara untuk membedakan cupang hias ekor pendek dengan cupang aduan. Cupang plakat memang berawal dari cupang aduan dan cupang alam. Pemuliaan cupang plakat lebih ditujukan kepada warna dan bentuk sirip ketimbang kekerasan sisik, gigi dan gaya bertarungnya.

Awalnya, plakat memang tidak begitu populer dibandingkan dengan slayer, halfmoon ataupun serit. Namun sejak awal tahun 2000-an dengan maraknya penawaran plakat yang berwarna-warni di aquabid, cupang plakat mulai dikenal oleh para hobiis mancanegara termasuk diindonesia. Henry Gunawan, Hermanus dan penulis (Joty Atmadjaja) pertama kali mengintroduksi plakat dari Thailand dan memopulerkan jenis ini pada masyarakat Indonesia. Pada tahun 2003 pertama kali kontes cupang plakat diadakan oleh InBS dalam pagelaran InBS Award II di Gajah Mada Plaza, tetapi masih sebatas ajang eksebisi. Ketika itu, pesertanya masih terbatas dan belum dapat membedakan mana plakat yang bagus dan tidak. Namun, plakat sengaja diperkenalkan kepada masyarakat guna menggairahkan kembali cupang dalam rangka melawan booming lou han. Semenjak itu plakat mulai meraup banyak penggemarnya hingga muncul plakat dengan warna-warna baru dengan dasar warna metalik. Alhasil, cupang mulai dilirik kembali oleh para penghobi ikan hias.

Plakat awalnya memiliki bentuk ekor seperti sekop atau spade tail dengan tulang ekor hanya memiliki dua cabang. Cupang jenis ini biasanya disebut sebagai plakat tradisional. Ekor bawah atau sirip bawah cupang plakat tradisional memiliki ujung yang memanjang. Sirip dasinya atau ventral lebih panjang daripada sirip bawahnya.

Dalam perkembangannya plakat disilangkan dengan halfmoon yang menghasilkan plakat halfmoon yang memiliki sirip ekor membulat setengah lingkaran menyerupai huruf D. Tulang ekor semakin banyak untuk menyokong ekor membentuk halfmoon berekor pendek, bahkan ekor mawar (rose tail) berekor pendek memiliki cabang tulang ekor lebih dari 8.

Persilangan plakat dan double tail menghasilkan plakat double tail atau cupang cagak ekor pendek dan plakat simetris. Plakat simetris atau symmetrical plakat memiliki sirip punggung (dorsal) yang tinggi dan lebar, karena memiliki gen double tail yang resesif. Penampilan plakat simetris sangat menawan sehingga oleh International Betta Congres (IBC) dimasukkan dalam kelas tersenndiri untuk membedakan dengan plakat halfmoon dan plakat tradisional.

Cupang plakat dikembangkan pula untuk mendapatkan ukuran besar melalui persilangan dengan cupang alam yang umumnya berukuran 10-12 cm (dari ujung mulut hingga ujung ekor) atau dua kali lebih besar dari ukuran cupang plakat biasa. Cupang plakat yang berukuran raksasa mulai dikembangkan oleh peternak Thailand sejak tahun 2000-an awal. Disinyalir, cupang plakat raksasa dihasilkan pula dengan cara pemberian hormon pertumbuhan pada pakannya. Harga cupang raksasa dihargai mulai dari US$1000 atau setara dengan Rp.10 juta rupiah kala itu. Cupang raksasa mulai dikonteskan pada tahun 2007, di arena FLONA 2007 Lapangan Banteng yang diselenggarakan oleh InBS.

Bagikan Artikel Ini Ke Teman Anda.

Facebook Twitter Google+

Tentang Penulis

Penulis banyudadi
Diposkan oleh :

Banyudadi adalah penyedia dan penyalur benih ikan air tawar, seperti: Gurame, Lele, Nila, Bawal, Patin, Ikan mas, Graskap, Tawes, Nilem, Gabus dan juga beberapa jenis ikan hias seperti: Koi, cupang, Komet, dll yang dihasilkan dari produksi para kelompok-kelompok petani perikanan yang terdaftar di Dinas Perikanan Prop. DI. Yogyakarta maupun Dinas Perikanan se-Kab. di DI. Yogyakarta.

Baca Juga Artikel Ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.