Gajahmungkur Lahirkan Petani Basah

Diposkan oleh : / On Budidaya

Kabupaten wonogiri yang luas wilayahnya sekitar 182.236,02 hektar, sebagian besar merupakan wono (hutan) dan giri (gunung). Dari wilayah seluas itu sekitar 46,18 persen di antaranya adalah lahan kering dan kritis, berupa pegunungan kapur. Selebihnya, merupakan lahan pertanian tadah hujan, sehingga ketika musim kemarau melanda Wonogiri, petani setempat tidak bisa mengolah lahan dan akhirnya dibiarkan bero.

karamba gajah mungkur

karamba gajah mungkur

Waduk serbaguna Gajahmungkur seluas 8.800 hektar yang diresmikan Presiden Soeharto pada 17 November 1981. Ternyata belum memberikan kontribusi berarti terhadap sektor pertanian. Yang bisa menikmati air irigasi Waduk Gajahmungkur justru kabupaten lain, seperti Sukoharjo, Klaten, Sragen dan Karanganyar.

Karena itu, Bupati Wonogiri H Begung Poernomosidi SH MM, melontarkan rumor mestinya kabupaten-kabupaten tersebut membeli air Gajahmungkur atau paling tidak, mau membagi hasil produksi pertanian mereka untuk penduduk Wonogiri. “Ironisnya, kalau Bengawan Solo banjir, pasti yang dituding paling bersalah adalah Bupati Wonogiri, karena pintu air Waduk Gajahmungkur dibuka,” seloroh begung.

Di akui oleh Bupati, meski tidak mendatangkan manfaat langsung dibidang pertanian, perairan Waduk Gajahmungkur telah mampu mengubah kehidupan warga sekitar ke arah yang lebih baik. Di antaranya menjadi nelayan maupun pembudidaya ikan, dengan pola karamba jala apung (KJA). Para petani setempat pun kemudian sering disebut ‘petani basah’ karena lahan mereka beralih ke air.

Untuk pembangunan waduk tersebut, Kabupaten Wonogiri saat itu harus ‘kehilangan’55 desa/kelurahan yang terdiri dari tujuh kecamatan. Yaitu Wonogiri Kota, Ngadirojo, Nguntoronadi, Baturetno, Giriwoyo, Eromoko dan Wuryantoro. Sebagai salah satu daerah tujuan pariwisata di Wonogiri, tahun ini Gajahmungkur ditarget bisa memasok ke kas Pendapatan Aseli Daerah (PAD) Wonogiri sebesar RP 600 juta. “Kecuali sebagai penopang PAD, pembangunan objek wisata Gajahmungkur terus kita benahi sehingga diharapkan ke depan juga harus mampu mendatangkan nilai tambah bagi penduduk sekitar. Misalnya dengan membuka usaha kios cenderamata, warung makan hingga perhotelan,” ujar Kepala Dinas Pariwisata Kebudayaan Pemuda dan Olahraga (PKPO) Kabupaten Wonogiri H Bambang Hariyadi SH MM.

Terpisah, Kepala Bidang Perikanan Dinas Peternakan Perikanan dan Kelautan (PPK) Wonogiri. Ir Heru Sutopo MM, juga mengakui adanya peningkatan taraf hidup petani di sekeliling perairan Waduk Gajahmungkur setelah beralih menjadi nelayan. Bahkan, jumlah kelompok nelayan terus bertambah dari tahun ke tahun. “Ini membuktikan bahwa sektor perikanan sangat menguntungkan. Dulu, pernah ada guyon bahwa petani Wonogiri dikenal sebagai petani kering. Namun sekarang benar-benar basah karena lahannya Waduk Gajahmungkur,” tandasnya sambil menjelaskan, tahun 2007 di sekitar perairan Gajahmungkur baru 36 kelompok tani nelayan dengan anggota 1.016 orang dan tahun 2008 sudah ada 43 kelompok nelayan (1.156 anggota).

Dalam dua tahun terakhir ini, produksi hasil penangkapan ikan (terdiri dari cawes, nila, lukas, keting, sogo, jambal dan betutu) juga cenderung meningkat. Dari produksi 837,434 ton (2007) menjadi 916,030 ton di tahun 2008. Sedangkan produksi ikan budidaya karamba jala apung (KJA) khusus jenis nila, dari 900,650 ton (tahun 2007) menjadi 966,348 ton (tahun 2008).

Sebagai upaya budidaya sekaligus pelestarian sumber daya alam, khususnya perikanan Waduk Gajahmungkur, Bupati Wonogiri maupun dinas terkait terus melakukan penebaran benih maupun pembagian zona penangkapan serta alat tangkap yang digunakan nelayan.

Sebagai upaya budidaya sekaligus pelestarian sumber daya alam, khususnya perikanan Waduk Gajahmungkur, Bupati Wonogiri maupun dinas terkait terus melakukan penebaran benih maupun pembagian zona penangkan serta alat tangkap yang digunakan nelayan.

Dengan mengeluarkan Perda Nomor 13/19-93 tanggal 30 juni 1993 sebagai pengganti Perda Nonor 6/1987  tanggal 28 januari 1987 tentang Usaha Perikanan Perairan Waduk Gajahmungkur maupun Perda Nomor 9/2003 tanggal 29 Oktober 2003 tentang Restribusi Izin Usaha Perikanan di Waduk Gajahmungkur, Pemkab melindungi keberadaan ikan yang ditebar.

Selain membuat Perda maupun surat keputusan (SK) atau intruksi bupati sebagai payung hukum, Dinas PPK Wonogiri bersama pihak terkait seperti Polres dan Satpol PP, secara periodik terus menggelar razia alat penangkap ikan, termasuk penggunaan bahan peledak maupun gill net kurang dari dua inci yang dilarang.

[jawanet-review-rating name=”{{name}}” rating=”5″ bestrating=”5″]

Bagikan Artikel Ini Ke Teman Anda.

Facebook Twitter Google+

Tentang Penulis

Penulis banyudadi
Diposkan oleh :

Banyudadi adalah penyedia dan penyalur benih ikan air tawar, seperti: Gurame, Lele, Nila, Bawal, Patin, Ikan mas, Graskap, Tawes, Nilem, Gabus dan juga beberapa jenis ikan hias seperti: Koi, cupang, Komet, dll yang dihasilkan dari produksi para kelompok-kelompok petani perikanan yang terdaftar di Dinas Perikanan Prop. DI. Yogyakarta maupun Dinas Perikanan se-Kab. di DI. Yogyakarta.

Baca Juga Artikel Ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.