Budidaya Patin Cukup menjanjikan Harga Stabil

Siapa yang tidak kenal ikan patin ini rasanya sangat gurih, meskipun ikan patin tak se gencar ikan gurame di pasaran akan tetapi ikan patin ini tidak kalah lezatnya dengan ikan gurame. Sudah mulai banyak dari kalangan petani ikan yang sudah mencoba. Harganya yang cenderung lebih stabil menjadikan patin sebagai alternative baru. Tidak terlalu susah untuk membudidaya ikan satu ini.

Salah satu petani ikan patin heli nama akrabnya, yang bermukim di Tulungagung mengatakan, harga patin di pasaran memang fluktuatif, namun perubahannya tidak sekencang ikan air tawar yang lain. “Budidaya patin tidak menjanjikan keuntungan yang besar, keuntungannya sedikit tapi pasti,” jelasnya. DI samping itu budidaya nya cukup mudah.

Pria yang akrab disapa Heli ini menuturkan bahawa dirinya pernah membudidayakan gurami. Sekali waktu saat panen ikan bercambuk tersebut, dia pernah menangguk keuntungan hingga 300%, namun sekali waktu juga pernah tidak untung sama sekali. “Beda dengan patin, harganya bisa dikatakan lebih ‘aman’,” jelasnya.

Heli mengelompokkan fase budidaya patin menjadi dua tahap, pendederan dan pembesaran. Pendederan merupakan fase saat ikan dipelihara dari ukuran 1 incihingga 3 inci, sedangkan fase pembesaran adalah pemeliharaan ikan mulai ukuran 3 incihingga ukuran panen. “Fase pendederan butuh waktu 1 bulan, sedangkan pembesarannya sekitar 6 bulan baru dipanen dengan bobot 7 ons. Tapi bisa saja dipelihara hingga 7 – 8 bulan dan dipanen dengan bobot 1 kg, tergantung pasarnya,” paparnya.

Tidak tanggung-tanggung kolam beliau berjumlah sekitar 90 kolam permanen. Ikan yang di budidayakan tidak hanya ikan konsumsi melainkan bibit patin juga. Awalnya beliau tidak menjual bibit, karena banyaknya permintaan ahirnya beliau menjual bibit juga.

Menurutnya, teknis budidaya patin tidak terlalu rumit. Penyakit pun terhitung jarang sekali terjadi. Satu hal yang membutuhkan perhatian khusus adalah program penggantian air. Di kolam miliknya, selama masa pendederan, Heli mengganti air kolam 10 hari sekali dengan volume penggantian air mencapai 60% dalam sekali waktu. “Kalau untuk fase pembesaran, penggantian airnya 2 hari sekali tapi volume air yang diganti hanya 10 – 15%,” jelas pria yang saat ini memiliki populasi 100 ribu ekor patin ini.

Lanjutnya, program penggantian air yang benar dan teratur akan meminimalisir potensi penyakit yang menginfeksi ikan. Heli yang belajar budidaya ikan secara otodidak ini memaparkan, indikasi air yang bagus untuk patin berwarna hijau, tapi tidak keruh. Jika warna airnya agak putih, bisa disebabkan karena pemberian pakan terlalu banyak sehingga pakan yang belum tercerna sempurna akan dikeluarkan oleh ikan. “Itu salah satu sebab air cepat rusak,” cetusnya.

Budidaya Patin menjanjikan Karena Harga Cukup Stabil

Bagikan Artikel Ini Ke Teman Anda.

Facebook Twitter Google+

Tentang Penulis

Penulis banyudadi
Diposkan oleh :

Banyudadi adalah penyedia dan penyalur benih ikan air tawar, seperti: Gurame, Lele, Nila, Bawal, Patin, Ikan mas, Graskap, Tawes, Nilem, Gabus dan juga beberapa jenis ikan hias seperti: Koi, cupang, Komet, dll yang dihasilkan dari produksi para kelompok-kelompok petani perikanan yang terdaftar di Dinas Perikanan Prop. DI. Yogyakarta maupun Dinas Perikanan se-Kab. di DI. Yogyakarta.

Baca Juga Artikel Ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.